Arini di Rumah Sakit Jiwa

Autami Anita
Chapter #20

Hati yang Terang

Di dalam kereta menuju Cirebon, Arini tersenyum mendapat WhatsApp dari Jati, isinya: bukti transfer. Kakaknya mengirim sejumlah uang untuk ongkos napak tilas. Arini tersenyum karena sebenarnya dia punya ongkos sendiri, dan berniat akan menggunakan uang transferan itu untuk membeli oleh-oleh untuk Jati juga.

“Mbak, ini nasi ramesnya.” Seorang pramugari meletakkan sepiring nasi dengan bermacam lauk-pauk ke atas meja di hadapan Arini. Dia di kereta makan. Situasi di kereta sangatlah berbeda sejak terakhir kali dia naik kereta dengan Bapak. 

Sudah tak ada pedagang asongan. Sudah tak ada tahu Sumedang dan telur puyuh kesukaan Bapak. Sudah tak ada nasi ayam yang pernah dimakannya. Sekarang, kalau ingin makan, penumpang bisa duduk di kereta makan, bergantian dengan penumpang lain.

Begitu kembali ke kursinya, seorang anak perempuan seusia enam tahun, duduk di kursi depannya, berpakaian rumahan–hanya kaos oblong dan celana pendek saja. Anak itu menyengir kepadanya, memamerkan deretan gigi depannya yang meranggas. Arini diam saja, dan jantungnya berdebar kencang. Selagi duduk, hidungnya membaui sesuatu yang sangat familiar: bau tanah bercampur anyir.

“Kau sudah dewasa, rupanya,” kata gadis kecil itu, kepada Arini. “Lama tidak bertemu.”

Arini mendengar ucapannya, bahkan sempat bertatapan dengannya sebentar, tapi, kemudian dia memalingkan wajah, menatap persawahan hijau di seberang jendela. 

“Ibumu meninggal, ya? Mati terlindas kereta. Apa kamu menangis? Atau malah tertawa puas?”

Dengan tangan tremor, Arini membuka ransel, mengacak isinya untuk menemukan obat. Sudah tiga hari dia mengabaikan obat yang diresepkan Jati, dan kali ini dia sangat membutuhkannya demi melenyapkan anak di depannya.

Ketemu. Arini menenggak beberapa butir tanpa bantuan minum sama sekali. Yang penting tertelan–pikirnya. Setelah itu, dia meremas ranselnya kuat-kuat, terus memandang ke luar jendela, ke pramugari yang lewat–ke mana pun, asal tidak menatap anak itu.

Kereta sepi, karena ini hari kerja. Arini pun tak ragu meninggalkan kursinya, pindah gerbong sekalian. Namun, anak itu mengikutinya ke mana pun, bahkan merangkak di rak bagasi, mengejarnya.

Arini berlarian di kereta, teriak-teriak, melempar-lempar ranselnya memukul anak itu, membuat segelintir penumpang dan kru kereta panik kebingungan.

Ketika anak itu semakin mengejar, ketika Arini terpojok, bisikan di telinga menyuruhnya lompat dari kereta.

Lompat! Lompat! Cuma itu satu-satunya cara!

Maka, Arini berlari menuju bordes, dua pramugari mengejarnya dari depan dan belakang. Tangan Arini pun meraih gerendel pintu kereta, menariknya, kemudian membuka pintu.

Lihat selengkapnya