Sejak memutuskan untuk mandiri. Aku tinggal di rumah Nenek Syarifah yang sudah tua dan ditinggal mati oleh suaminya. Perjalanan hidup sudah setengah melangkah. Ingin sukses? Ya, harus berproses. Itulah prinsip yang selalu dipegang. Tanpa mengeluh dan menyerah. Menatap lurus ke depan. Buang jauh masa lalu yang membuat semangat bisa luntur kembali.
Namaku Arjuna Cakrawangsa. Di usia 27 tahun, bekerja sebagai dosen dan sedang menempuh Kuliah S2 di ITB jurusan Teknologi Informatika. Semua biaya ditanggung sendiri tanpa membebani orangtua. Gaji yang aku dapat dari bekerja sebagai dosen, alhamdulillah sebagian ada yang ditabung untuk merintis usaha kafe yang sudah jauh hari direncanakan. Mulai sekarang harus belajar menekan pengeluaran. Membeli barang apa pun sesuai dengan kebutuhan.
Perjalanan hidup yang sungguh melelahkan karena penuh dengan rintangan. Ternyata tidak sesederhana yang aku kira. Dengan tekad kuat aku mampu menghadapi semua. Karena hidup harus diperjuangkan. Bukan bermalas-malasan tanpa arah tujuan yang tidak jelas. Meskipun aku masih merasakan di posisi sulit. Kini berusaha komitmen dengan waktu. Karena waktu sangat berharga.
Soreang sebuah pemukiman penduduk yang sangat ramai. Rumah-rumah tampak berdempetan. Komplek yang tak pernah sepi oleh aktivitas masyarakat setempat. Semua terasa nyaman, selama aku tinggal di rumah Nenek.
Tepat jam 4 pagi, alarm selalu membangunkan aku untuk mempersiapkan diri. Mandi, salat, dan sarapan pagi. Setelah itu aku mempersiapkan bahan untuk materi pelajaran di kampus pagi ini.
Nenek Syarifah sudah menyiapkan satu piring nasi goreng dengan ceplok telur mata sapi. Menu sederhana yang lidahku sudah terbiasa memakannya. Aku selalu bersyukur atas nikmat Tuhan. Dalam bentuk apa pun pemberianNya. Semua harus disyukuri.
Jam yang bertengger di tangan sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Ada waktu sekitar 1 jam lebih 45 menit untuk perjalanan ke kampus ITB. Belum terjebak macet bisa sampai 2 jam perjalanan. Kenapa aku tidak memutuskan untuk ngekost saja di sekitar kampus. Hanya tinggal jalan kaki sampai juga ke tempat yang dituju.
Kalau di kalkulasikan tentu saja akan banyak biaya pengeluaran. Bukannya pelit, tapi aku sedang mempraktekan hidup sederhana dengan meminimalisir banyak pengeluaran. Ini dilakukan agar bisa memanajemen arus keuangan.
“Juna, nenek selalu berdoa. Agar kamu jadi orang sukses dunia dan akhirat. Jangan lupa kamu itu butuh pendamping hidup.”
Perkataan Nenek Syarifah membuat aku bergeming sesaat. Makanan dalam piring sisa satu suapan lagi. Entah, mengapa nasi yang tertelan seperti mengganjal di tenggorokan dan susah ditelan. Nenek mengulurkan tangan–menyodorkan gelas yang berisi air putih. Segera gelas itu aku ambil, setelah nenek melihat tersendak. Lalu meneguk air itu perlahan hingga tandas.
“Terima kasih, Nek. Maaf saya malah terkejut ditanya tentang jodoh,” ucapku sambil tersenyum getir.