Anggara–sahabat yang selalu memberikan support sampai saat ini. Pekerjaannya setiap hari memang seperti itu. Saat aku menjadi dosen, ia bisa bersikap hormat.
“Pagi juga. Kamu nggak ada jadwal kuliah?” Pertanyaanku membuat lelaki itu tersenyum lebar. Seperti ada kabar baik yang akan dikatakan.
“Saya ke kampus mau ketemu kamu. Ada yang perlu diobrolin,” ucap Anggara sambil memohon dengan kedua telapak tangan saling menempel.
“Tunggu saya selesai mengajar dulu,” jawabku sambil memulas senyum.
Anggara menautkan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O seperti bentuk kepala kelinci yang menandakan setuju. Lalu ia pun pergi meninggalkanku. Kemudian aku melanjutkan langkah yang sempat terhenti menuju ruang kelas.
Saat masuk ke kelas masih dalam suasana riuh. Para mahasiswa akhirnya berhenti setelah aku menyapa mereka. Suasana pun tenang seketika. Mereka mulai merapikan posisi duduknya. Agar tidak terlalu sepi, aku mulai menyalakan laptop dan mulai membahas materi pada layar infokus yang berada di depan.
Para mahasiswa pun ikut memperhatikan apa yang aku bahas. Mata kuliah dasar yang harus dikuasai jurusan Teknik Informatika yaitu algoritma. Dibutuhkan kefokusan untuk menguasainya. Kadang ada yang mengeluh kalau mata kuliah satu ini sangat sulit untuk dimengerti. Memang menurutku mempelajari algoritma itu kalau dasar menghitungnya kurang. Pasti akan sulit untuk menguasai.
Di kelas A ini kebanyakan yang mengambil jurusan Teknik Informatika lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki. Begitu juga tingkat kecerdasan yang begitu menonjol. Ada salah satu siswa perempuan yang selalu menjadi pusat perhatian. Nilai akademiknya tiap semester selalu ada kenaikan. Nayla Az-Zahra–gadis itu selalu mendapatkan IPK dengan rata-rata 3. Gadis yang sangat cerdas dibalik sikapnya yang pendiam.
Ia selalu duduk paling depan saat aku membahas materi. Pertanyaan pun selalu dilontarkan dari bibir tipis tanpa lipstik. Aku suka dengan keaktifannya saat ia menanggapi setiap jawaban yang diberikan. Refleks membuatku tersenyum seketika.
Dua jam begitu cepat berlalu. Aku mematikan laptop dan infokus. Kemudian meminta para siswa untuk mengerjakan tugas kelompok tentang seberapa besar manfaat Artificial Intelligence untuk pengembangan teknologi di masa sekarang? Karena aku sedang menempuh kuliah S2 dan mencari riset tentang penggunaan Ai. Mungkin dengan adanya tugas ini bisa membantu bahan untuk riset.
“Untuk pengumpulan tugas. Saya memilih Zahra sebagai ketuanya,” ucapku sambil memandang gadis berhijab yang sejak tadi masih duduk sambil memainkan balpoint di tangan.