Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #3

Panggilan Telepon

Pulang kuliah tepat pukul 8 malam sampai rumah nenek. Setelan kuliah masih melekat di tubuh. Motor beat yang dikendarai terparkir depan teras rumah. Di seberang sana terdengar alunan lagu yang dinyanyikan oleh Agus.


“Eh, Juna, baru pulang jam segini?” tanya Agus menghentikan main gitarnya.


“Iya, Gus. Ada kuliah tambahan,” jawabku seperti biasa sambil memulas senyum. 


“Nanti ngobrol lagi, Jun, sambil ngopi.” Permintaan Agus tidak bisa ditolak. Aku selalu menyempatkan waktu sebentar untuk melepas lelah dengan mendengar candaan memakai logat Sunda. Sudah membuat aku terbahak. Itulah kelebihan kawan satu ini. Bisa buat orang tertawa.


“Siap, Gus. Nanti saya ke sana. Mau ganti pakaian dulu,” ucapku sambil melangkah masuk ke rumah. 


Nenek Syarifah sedang duduk di depan televisi sambil menonton sinetron kesukaannya. Aku menghampiri, tak lupa mengucapkan salam dilanjutkan dengan mencium punggung tangannya. 


“Kamu sudah pulang, Jun,” sapa wanita yang kulit wajahnya sudah berkeriput dan rambutnya pun dipenuhi uban.


“Iya, nenek sudah makan?” 


“Sudah barusan. Ganti pakaian dulu sana. Nenek sudah siapkan makan malam di atas meja makan.”


Mendengar perintah nenek, aku bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Selesai itu, aku mengenakan kaus berlengan panjang dan celana training. Malam hari udara terasa dingin. Kalau nongkrong bareng si Agus pasti harus menyediakan banyak camilan. 


Aku membuka tudung saji yang berada di meja makan. Tampak satu piring nasi yang isinya balado ikan tongkol dan tumis kangkung. Ini makanan Sunda favorit aku. Kemudian berpamitan sama nenek yang masih asik nonton televisi. Mau numpang makan depan teras rumah Agus yang tadi ngajakin ngobrol sambil ngopi. 


Satu piring nasi dan gelas berisi air minum, aku tenteng sambil berjalan. Menuju rumah Agus yang jaraknya hanya beberapa langkah. 


Lelaki itu masih terlihat memainkan alat musik kesukaannya. Sambil menghayati lagu yang didendangkan. Aku duduk di sebelahnya sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut. Seperti sedang makan malam di sebuah kafe diiringi alunan musik yang mendayu.


Nasi dan lauknya tandas juga. Agus masih belum selesai menyanyikan satu lagu. Benar-benar sudah menghiburku malam ini. 


“Kamu itu cocoknya jadi anak band, Gus.”


“Ah, masa, sih?”


“Saya serius, Gus.”


“Mana pede lagi nyanyi depan banyak orang, Jun.”


“Kamu kan sudah membuktikannya sama saya. Kalau suara kamu itu bagus tidak ada falsnya.”


Lihat selengkapnya