Seperti biasa alarm membangunkan aku pukul 04.00. Mandi, salat, dan sarapan pagi seakan sudah menjadi rutinitas setiap hari yang tidak pernah bisa dihentikan. Kali ini aku akan memeriksa tugas yang diberikan di kelas A. Nanti aku akan meminta bantuan Zahra untuk mengecek nama mahasiswa yang mengumpulkan tugas.
Aku berdiri mematut di depan cermin. Menyisir rambut dengan rapi. Penampilan Dosen harus perfect. Bukan untuk menebar pesona. Karena berpenampilan rapi dan bersih itu… akan membawa nama baik. Apalagi bisa memberikan contoh yang baik sama anak didiknya. Bisa menjadi nilai plus juga selama menjadi Dosen.
Nenek Syarifah sudah mempersiapkan sarapan pagi di meja makan. Kali ini menu yang sangat berbeda sekali.
“Ayo sarapan dulu, Juna,” pinta perempuan yang sedang menyuapkan nasi menggunakan tangan.
“Ia Nek,” jawabku sambil menggeser kursi untuk duduk.
Ayam goreng ini rasanya enak. Nenek walaupun sudah tua, tapi masih bisa mengingat resep makanan. Pas banget di lidah. Dicocol sambal terasi, kok rasanya makin mantul. Ada mentimun juga sebagai teman lalapnya. Sarapan pagi yang nikmat sekali. Aku meminta Nenek untuk membuatkan bekal makanan dengan menu yang sama.
Nenek Syarifah sudah memasukkan ayam goreng, nasi, lalap, dan sambal ke dalam misting. Kemudian aku berpamitan pergi ke kampus sambil menenteng bekal makan siang nanti.
Di seberang sana, tepatnya di depan teras. Agus sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Mendengar suaranya seolah menjadi candu. Pemuda itu memang calon penyanyi terkenal. Meskipun pernah menang audisi karena kondisi jadi terhenti. Dalam lubuk hatinya masih ada keinginan untuk ikutan audisi lagi. Aku pasti bantu kamu, Gus.
“Eh, Pak Dosen. Udah mau pergi, ya?”
“Iya, Gus seperti biasa jadwal ngajar pagi.”
“Patut di acungi jempol nih, semangatnya.”
“Kamu juga sama, Gus harus tetap semangat. Cari info audisi penyanyi.”
Ia malah tersenyum dibilangin seperti itu. Katanya nggak usah berharap tinggi kalau akhirnya tidak sesuai ekspektasi. Sepertinya masih trauma dengan kejadian yang menimpanya dulu. Kemudian aku berpamitan dengan Agus. Menyalakan mesin motor dan meninggalkan rumah Nenek.
Jalanan masih lengang tidak terjebak macet lagi. Kecepatannya aku tambah sedikit karena ingin cepat sampai di kampus. Seperti biasa aku datang lebih awal.
Setelah memarkirkan motor. Bergegas ke ruang dosen. Tepat pukul 07. 50. Hanya menunggu 5 menit lagi. Aku menyimpas tas yang isinya bekal makanan di atas meja kerja. Kemudian mempersiapkan bahan untuk mengajar hari ini.
Aku ini orangnya berusaha belajar disiplin. Terutama dengan waktu. Meskipun orang kadang merasa jenuh kalau dikejar waktu. Tidak menemukan ruang kebebasan sama sekali.
Selesai mempersiapkan bahan materi. Aku melangkahkan kaki ke kelas A. Menagih tugas pada mahasiswa, sehari yang lalu. Zahra yang telah diberikan tugas sebagai ketua,
Saat menginjakkan kaki di ruang kelas. Suasana tidak tampak riuh seperti biasa. Kali ini benar-benar hening.