Penampilan saat menjadi mahasiswa sangat berbeda. Pakai sweater dan celana jeans. Rambut pun selalu pakai poni. Dan yang jadi ciri khas memakai kacamata. Itulah penampilanku seperti pria culun. Namun, aku jalani peran ini.
Selesai berganti pakaian dan salat dzuhur, aku bergegas ke ruang kelas. Di sana sudah ada beberapa orang mahasiswa sedang duduk menunggu dosen datang. Dari teman satu kelas yang selalu memberikan semangat, ya sahabat baikku. Hari ini belum kelihatan batang hidungnya.
Kemudian aku selalu duduk paling depan. Dengan alasan agar aku bisa fokus belajar saat dosen menjelaskan materi.
Mahasiswa S2 yang satu kelas, laki-laki semuanya. Total ada 20 orang. Dan yang sedang persiapan tesis hanya aku saja. Sebenarnya repot juga memikirkan masalah tesis. Termasuk anggaran biaya untuk penelitian.
Namun, aku jalani semua prosesnya. Tidak ada yang instan, loh. Yang ada mie instan. Aku sempat stres juga memikirkan ini. Karena aku sudah tidak meminta bantuan lagi sama kedua orang tua. Mencoba hidup mandiri. Meskipun bermodal bisa dan akhirnya berani memutuskan.
Tanpa campur tangan Tuhan, mungkin hidupku tidak ada arah. Alhamdulillah dengan perantara Nenek Syarifah yang selalu memberikan nasehat tentang agama. Aku merasa ada yang berbeda dalam diri. Sedikit demi sedikit egoku terkikis.
Dulu, saat masih tinggal bersama Ayah dan Ibu. Aku tak bisa memilih apa yang diinginkan. Mereka selalu berkata: “Apa yang kami lakukan demi kebaikanku.”
Aku tahu mereka memperhatikan masa depan yang baik untuk putranya. Namun, jika ada yang tidak selaras dengan keinginan orang tua. Apakah harus memaksakan pada anak? Tentu saja tidak harus seperti itu. Aku ingin bebas memilih jalan hidupku.
Akhirnya takdir menyuruhku untuk pergi dari tempat kelahiran. Pilihanku pergi ke Bandung. Sudah lama aku ingin tinggal di kota kembang–julukan kota Bandung. Suasana udara yang masih sejuk dan lukisan alam yang sangat indah. Tujuanku hanya satu, ingin menjadi sukses. Mempunyai bisnis sendiri.
Ah, kenapa lamunanku terlalu jauh. Padahal aku sedang menjadi mahasiswa. Sebentar lagi mata kuliahan akan dimulai. Pak Darwin adalah dosen pembimbing yang sangat sabar. Berkat bantuannya hanya aku diantara mahasiswa S2 yang sudah mengajukan tesis. Harapannya bisa selesai 6 bulan.
Selesai mata kuliah di kelas. Hari sudah menjelang Magrib. Aku sempatkan untuk salat di musala. Kemudian mengganti pakaian dengan setelan kemeja dan celana bahan karena mau mampir sebentar ke ruang dosen untuk mengambil lembaran tugas yang dikumpulkan mahasiswa kelas A.
Saat aku berjalan menuju koridor. Tidak ada satu pun orang di sana. Semua tampak sepi. Kemudian aku mempercepat langkah agar cepat sampai.
Dalam ruangan lampu masih menyala. Namun, tampak sepi. Sepertinya dosen lain sudah pada pulang.
Aku duduk di kursi sambil bersandar. Kemudian mengecek lagi lembaran kertas tadi, agar tidak ada nama yang tertinggal. Karena data ini sangat aku butuhkan untuk riset tesis.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku sempat terkejut. Ternyata masih ada orang. Kemudian beranjak dari kursi mendekati ambang pintu. Setelah itu aku menarik kenop pintu. Terbukalah pintu dengan lebar.
Bu Tresno berdiri tidak jauh dariku. Ia memulas senyum. Aku sempat merasa tidak karuan. Karena di ruangan ini yang al hanya kami berdua. Dan yang ketiga… setan. Aku bergidik ngeri. Kemudian menutup kembali pintu. Namun, Bu Tresno menghentikannya.
“Tunggu sebentar, Pak Juna.”