Setelah sampai di parkiran. Kami berbincang lagi, melanjutkan obrolan yang sempat terjeda. Anggara ingin tahu tentang cerita Bu Tresno. Aku sendiri malas untuk membahas kejadian tadi. Biarkan saja berlalu dan jangan pernah diungkit lagi. Namun, sahabatku itu agak kepo juga. Ya, dengan berat hati aku menjelaskan kalau perempuan itu mempunyai rasa kagum terhadapku. Saat ia memberikan kue ulang tahun.
Aku jadi kepikiran, jangan-jangan itu salah satu modus juga untuk bisa ngobrol. Kenapa aku jadi gampang suudzon gini. Belum tentu Bu Tresno… wanita gampangan. Tapi, aku merasa yakin kalau perempuan itu sedang melakukan cara untuk mendekati.
Anggara mendengarkan curhatan seorang lelaki jomblo. Ia mengatakan perempuan zaman sekarang itu berbeda dengan yang dulu. Lebih berani dan agresif. Pernyataan itu harus digaris bawahi. Memang benar adanya, tapi tidak semua juga. Banyak kok perempuan saleha.
Setelah lama mengobrol. Akhirnya aku berpamitan sama Anggara untuk segera pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30. Nenek pasti sedang menunggu di rumah. Meskipun aku datang kemalaman, ia tidak pernah memarahi. Kasih sayangnya begitu tulus. Meskipun cucunya bukan aku seorang.
Aku mempunyai saudara sepupu bernama Kuntara. Menurut informasi yang aku dapatkan. Ia juga sedang menempuh S2–sama seperti aku. Namun, sejak kuliah, aku tidak pernah bertemu sepupu di kampus. Benar atau tidaknya ia melanjutkan S2 dengan jurusan yang sama denganku. Semua bukan urusanku.
Dari kecil memang kami tidak terlalu dekat. Kuntara selalu berbuat hal buruk. Sepertinya ia memang tidak suka terhadapku. Padahal kami teman sepermainan.
Cucu Nenek yang paling di sayangi itu adalah aku. Sejak tinggal di rumah Nenek, perhatiannya khusus untuk aku seorang. Ah, betapa bahagianya aku saat ini. Kenapa harus Nenek yang mempunyai perhatian tulus berbeda dengan kedua orangtuaku. Sampai kapan akan tetap menjaga ego.
Motor yang dikendarai melaju di jalan play over menuju Soreang. Suasana malam masih tampak ramai. Kerlap-kerlip lampu begitu kentara dilihat dari atas jembatan. Benar-benar lukisan malam yang indah. Bandung memang banyak spot yang bagus sebagai obat cuci mata. Udara dingin mulai menerpa wajah karena aku tidak menutup kaca helm.
45 menit dalam perjalanan menuju Soreang. Alhamdulillah aman tidak ada hambatan. Aku mematikan mesin motor di depan teras rumah Nenek. Melihat ke arah rumah Agus, sepertinya pemuda itu belum keluar dari tempat persembunyian. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam.
Seperti biasa, setiap kali pulang dan sampai rumah. Nenek selalu duduk depan televisi menonton acara kesukaannya. Nonton sinetron memang pekerjaan yang tidak pernah lekang oleh waktu. Selalu ada yang menyukai meskipun sampai ratusan episode. Apalagi yang ribuan belum sepi penonton.
Melihat Nenek yang sedang fokus nonton. Aku bergegas mendekati untuk mengucapkan salam dan mencium punggung tangannya. Adab yang selalu dikedepankan. Karena menghormati yang lebih tua.
“Assalamualaikum, loh, Nenek belum tidur?”
“Waalaikumsalam, Juna. Bentar lagi tanggung. Ceritanya belum selesai.”
Aku pergi ke kamar untuk merebahkan tubuh yang sudah terasa lelah. Ingin sekali cepat memejamkan mata dan tidak mengingat lagi peristiwa yang terjadi di ruang dosen. Benar-benar membuatku syok.