15 menit aku menunggu Agus selesai mandi dan berpakaian. Kembali pintu rumah terdengar dibuka. Aku melihat Agus sudah berpakaian setelan olahraga. Tak perlu menunggu lama, kami bergegas pergi menuju tempat janjian sama Anggara.
Sepanjang jalan kami sempatkan untuk ngobrol. Katanya si Agus baru pertama ada yang ngajakin jogging bareng. Biasanya ikut olah raga di tanah kosong sambil liatin anak kecil main bola. Kebiasaan yang sering dilakukan. Karena aku jadwal mengajar pagi. Jadi aktivitas yang dilakukan Agus tiap pagi, ya tidak tahu.
Mobil Avan berwarna hitam milik Anggara sudah terparkir di depan supermarket. Aku mengatakan pada Agus akan memperkenalkannya dengan seseorang.
Anggara terlihat baru keluar dari supermarket. Ia menenteng 1 kresek yang isinya air mineral dan camilan. Kemudian mengajak kami masuk ke mobil.
Aku duduk di depan sebelah Anggara. Sedangkan Agus duduk di belakang. Kami pun mengobrol sambil mengenalkan Agus pada Anggara.
Mobil yang dikemudikan sudah sampai di depan gasibu. Hanya ada segelintir orang yang lagi jogging di pagi hari. Kami pun keluar dari mobil. Dengan membawa perlengkapan botol air mineral sambil di tenteng. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan santai dulu. Setelah itu mulai berlari tiga keliling.
Aku bisa menyempatkan waktu untuk berolahraga di sela padatnya rutinitas. Berkutat sekitar rumah-kampus, begitu saja setiap hari. Namun, tidak membuat bosan. Karena ini sesuai dengan keinginan.
Hiburan aku dapatkan dari Anggara dan juga Agus. Mereka mengisi relung hati yang kosong. Yang seharusnya hanya ada tempat untuk seseorang. Seperti… pasangan hidup, contohnya.
Keringat mulai bercucuran di kedua pelipis. Dan mulai kehausan. Aku berhenti sejenak untuk beristirahat. Mencari tempat yang agak adem di bawah pepohonan. Kedua sahabatku masih lanjut berlari. Tiga tegukan sudah sampai ke tenggorokan. Rasanya segar sekali. Kemudian aku menoleh ke sekitar. Lalu memicingkan mata. Mempertajam penglihatan. Tidak salah lagi. Perempuan yang sedang duduk di seberang sana adalah Zahra.
Sebaiknya aku segera melanjutkan lari. Untuk menghindar bertemu Zahra. Identitasku masih di rahasiakan. Semoga saja ia tidak ngeh melihat aku ada di satu tempat yang sama.
Aku beranjak dari tempat duduk untuk menyusul kedua sahabat yang sudah empat kali putaran. Tanpa menoleh ke arah Zahra, saat aku melewatinya. Semoga saja ia tidak melihat sosok dosennya yang sedang berolahraga.
Anggara dan Agus menyudahi larinya. Mereka mencari tempat untuk berselonjor kaki. Aku pun terpaksa ikut bersama mereka. Kemudian kami menemukan tempat untuk beristirahat. Sementara aku diminta tolong untuk mengambil air minum serta camilan di dalam mobil.
Tidak terlalu lama kemudian aku kembali menghampiri mereka sambil menenteng kresek berisi air dan camilan. Kemudian menaruh kresek di dekat mereka. Aku pun ikut berselonjor kaki.
Sambil menunggu melepas rasa lelah. Kami lanjut ngobrol lagi. Menyarankan Agus untuk ikut bekerja di kafe setelah aku lulus S2 nanti.
“Gus, kerja sama saya aja nanti?”
“Wah, Pak Dosen memang sedang merintis usaha apa?”
“Usaha kafe. Insya Allah setelah lulus kuliah.”
“Semoga dilancarkan semuanya. Aamiin”
“Terima kasih, Gus sudah mendoakan saya.”
“Memangnya Agus punya skil apa, Jun?”