Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #8

Obrolan 3 Lelaki

Usai melihat tempat lokasi yang masih direncanakan. Aku mengajak kedua sahabat pergi ke sebuah kafe terdekat untuk nongkrong dulu. Sambil ngobrol santai. Tidak jauh dari lokasi tersebut, kami menemukan kafe yang cocok. Akhirnya, aku putuskan untuk memasuki kafe bersama mereka. 


Kami berjalan beriringan. Sehingga menjadi pusat perhatian pengunjung kafe yang tampak ramai. Aku memberikan kode untuk mempercepat langkah menuju lantai 2. Di sana pemandangannya sangat indah. Pohon pinus besar mengelilingi kafe tersebut. 


Setelah kami menemukan tempat duduk yang nyaman. Aku meminta mereka untuk segera memesan makanan dan soft drink. 


“Seriusan kamu yang traktir, Jun?” tanya Anggara sambil melihat-lihat daftar harga menu yang tertera di selebaran flayer. 


Aku mengerutkan dahi mendengar pertanyaan itu. Sementara ekspresi Agus tampak semringah.


“Oke, saya traktir kalian,” ucapku sambil menarik napas dalam-dalam.


Wajah mereka tampak bungah sekali mendengar kata ditraktir. Sedangkan aku hanya bergeming sejenak. 


Pesanan makanan dan soft drink tiba di meja kami. Semua menu disamakan, yaitu roti bakar yang isinya 6 potong untuk bertiga. Sedangkan soft drink yang dipesan cappuccino dingin. 


Sambil mencicipi roti bakar, kami pun memulai obrolan kembali.


“Kamu kapan ada rencana menikah, Jun?”


“Jangan tanyakan hal seperti itu. Fokus saya lulus S2 dulu.”


“Jangan lama-lama menunggu. Nanti kamu jadi bujang lapuk, leres teu, Gus?”


“Leres pisan atuh. Masa iya nggak ada cewek yang berani deketin?”


Mendengarkan 2 pertanyaan dari mereka. Aku bingung juga harus menjawab apa. Anggara kan sudah tahu, di kampus ada yang suka cari perhatian sama aku.  


“Saya kan sudah bilang prioritaskan dulu yang lebih penting. Masalah jodoh, ya di tangan Tuhan.”


Mendengar jawaban dariku mereka langsung bergeming seketika sambil mengunyah roti bakar dalam mulut masing-masing.


Obrolan pun berlanjut ke bisnis kafe. Aku menawarkan Agus untuk bekerja sebagai penghibur. Suara Agus sangat bagus. Tidak salah kan kalau dipekerjakan. Meskipun cita-cita ingin jadi penyanyi tidak terlaksana. Aku yakin dengan menjadi penghibur di kafe, nama Agus bakal terkenal.


“Coba kita cari ke Dago atau sekitaran Punclut?”


“Kalau kamu mau antar ke lokasi hari ini, dengan senang hati saya ucapkan terima kasih banyak.”


“Saya nggak akan meminta imbalan apa pun, Jun. Kalau kamu membutuhkan bantuan.”


Mendengarkan pernyataan dari Anggara, aku merasa sangat bahagia. Mempunyai sahabat sebaik dirinya. 


“Ayo, kita pergi sekarang. Besok belum tentu ada waktu lagi.”


Kami bertiga pergi meninggalkan kafe dan melanjutkan perjalanan menuju Punclut, lalu berakhir di Dago. Semoga menemukan tempat yang cocok.


Anggara mengemudikan mobilnya. Jalanan menuju Punclut tampak lengang. Kami memang baru pertama ke sini. Dengan bermodal G-Maps, akhirnya bisa sampai juga. 


Tiba di Punclut, Anggara menghentikan mobilnya. Kami pun keluar dari kendaraan. Melihat-lihat tempat yang mau dibeli atau disewakan untuk usaha. 


Kebanyakan tempat makan dengan menu masakan sunda. Ada ayam goreng, ayam bakar, ikan bakar, tahu, tempe, sambal, dan lalapan. Sepertinya untuk kafe belum cocok disandingkan dengan tempat makan. Karena aku lihat tidak ada satu kafe pun di sekitar.

Lihat selengkapnya