Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #9

Perlu Persiapan Matang

Usai transaksi aku dan kedua sahabat masih berada di tempat untuk melihat-lihat. Sedangkan Sherly sudah berpamitan dengan kami. Aku mulai memikirkan biaya peralatan dan desain tempat. Mungkin perlu dihitung secara terperinci apa saja yang dibutuhkan. Kami kembali ke lantai 2 untuk diskusi. 


Aku meminta bantuan lagi pada Anggara berkenaan modal. 


“Tenang saja, Jun. Kamu tidak usah khawatir. Terutama masalah modal. Biar saya yang tanggung dulu. Nanti kalau usaha kafe lancar, kan, bisa dicicil.” 


Perkataan Anggara selalu mengarahkan pada solusi terbaik yang membuat aku tersenyum bahagia. Entah, dengan cara apa aku harus membalas jasanya. 


Usai diskusi masalah modal. Aku mengajak mereka untuk survei peralatan. Karena mau menyajikan minuman kopi racikan sendiri. Aku harus belajar juga, bagaimana membuat kopi hingga menjadi minuman yang enak untuk para pengunjung kafe. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang mudah. Gampang-gampang susah. 


Kemudian kami meninggalkan tempat yang masih kosong itu. Inginnya cepat pulang untuk segera rehat karena besok sudah mulai mengajar lagi dan kuliah. 


Setelah mendapatkan saran dari Anggara untuk mengecek peralatan di belanja online dulu. Aku pun setuju. Nanti bisa di cek secara berkala. Karena butuh waktu lama untuk mempersiapkan segalanya. 


“Kita pulang saja,” pintaku pada kedua sahabat. 


“Oke,” jawab Anggara sambil meminta kami untuk kembali memasuki mobil. 


Mobil pun melaju cepat karena jalanan sudah lengang. Aku ucapkan rasa syukur pada Tuhan untuk hari ini. Karena sudah punya tempat usaha kafe. Selanjutnya memikirkan tesis S2 yang masih 50% dan tinggal mengumpulkan bahan riset yang sudah didapatkan. 


Perjalanan yang membuatku lelah, akhirnya berakhir juga. Anggara mengantar kami ke depan rumah masing-masing. Agus sudah pamit duluan karena ingin ganti baju yang sudah dibanjiri keringat. Sedang aku melanjutkan obrolan sebelum turun dari mobil.


“Kamu ada kenalan orang yang bisa mendesain tempat nggak?”


“Oh, soal itu gampang. Serahkan semuanya pada saya.”.


Sekali lagi aku dibuat bahagia mendengar itu. Sahabat yang satu ini memang sangat baik sekali. Tanpa basa basi lagi. Aku pun keluar dari mobil. Dan Anggara memutar balik mobilnya untuk pulang. 


Aku melangkah menuju rumah. Di dalam tampak sepi. Biasanya Nenek Syarifah duduk didepan televisi. Namun, aku tidak tahu keberadaannya. Sehingga aku putuskan untuk mencari dimana Nenek berada. 


Kini, aku sudah berada didepan kamar Nenek. Tanganku bergerak untuk mengetuk pintu. Dari dalam tidak terdengar sahutan sama sekali. Kemudian aku menarik kenop pintu kamar, sehingga pintu terbuka lebar. 


Tempat tidur Nenek sangat rapi. Aku pun tidak menemukannya di sana. Pergi kemanakah Nenek? 


Karena takut terjadi sesuatu dengan Nenek. Aku pun segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Entah, mau mencari kemana? Biasanya tidak ada kejadian seperti ini. 


Usai membersihkan badan dan memakai pakaian santai. Sayup-sayup terdengar obrolan dari luar. Seperti suara Nenek sedang mengobrol dengan seseorang. Aku pun bergegas menuju keluar. 


Tampak Nenek sedang duduk di kursi yang berada di ruang tamu. Ada Tante Mala  ditemani AbiManyu–putranya. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Tumben sekali mereka datang menjenguk Nenek.


“Nenek tadi pergi kemana?”

Lihat selengkapnya