Senin adalah awal dari memulai rutinitas kembali di kampus. Aku sudah mempersiapkan tesis yang mau diajukan ke dosen pembimbing. Berkat bantuan tugas mahasiswa Teknik Informatika di kelas A. Aku dapat menyelesaikan riset yang sudah didapatkan. Semoga ada kabar baik dari dosen pembimbing untuk mempersiapkan sidang. Itu sih harapanku. Semoga tidak meleset.
Usai memarkirkan motor, Aku bergegas menuju ruang dosen. Penampilanku memang sangat berbeda saat menjadi dosen. Sangat berwibawa di hadapan para mahasiswa. Karena tugas seorang dosen, ya memberikan contoh baik serta membimbing mahasiswanya agar mereka bisa lulus ujian tiap per semester.
Tiba di ruang dosen, aku melangkah menuju ruangan. Seperti biasa para dosen perempuan sedang mempercantik diri, sebelum mereka masuk kelas. Termasuk… Bu Tresno yang selalu berpenampilan… entah apalah itu, aku malas untuk mengatakannya. Perempuan jaman sekarang berbeda dengan perempuan tempo dulu. Sekarang kok serba terbuka. Termasuk… mempertontonkan aurat yang seharusnya mereka jaga untuk suaminya kelak.
Aku sendiri bukan orang alim atau lelaki saleh. Masih banyak yang harus aku perbaiki dalam menata hidup ini. Terutama masalah takdir yang tak seindah, apa yang aku inginkan. Tuhan itu Maha Baik. Tidak mungkin membuat aku terperosok bahkan tidak tentu arah dalam menjalani hidup. Kini, aku belajar dari kesalahan dan atas musibah yang terjadi.
Aku mengembuskan napas berat sambil mendaratkan bokong di atas kursi. Kemudian menyimpan tas ransel di atas meja. Waktu sudah menunjukkan jam 08.00. Sudah saatnya memasuki kelas untuk mengajarkan materi algoritma.
Sambil membawa buku dan laptop, aku meninggalkan ruangan kerja. Semua dosen sedang menunaikan tugasnya. Namun, Bu Tresno masih ada di tempat duduknya sendirian.
Aku tetap fokus berjalan sambil fokus berjalan dengan mengangkat wajah dan fokus melihat ke depan. Tiba-tiba, langkahku terhenti karena panggilan perempuan itu.
“Pak, Pak Juna. Tunggu sebentar! Saya mau minta tolong.”
Kata minta tolong membuat aku memutar tubuh dan terpaksa aku menatap ke arah Bu Tresno.
“Ada apa, Bu?”
“Kemarilah, sebentar. Saya mau minta tolong.”
Lagi-lagi aku tidak bisa menolak dengan permintaan minta tolong dari Bu Tresno. Kemudian aku pun bergegas menghampiri perempuan itu.
“Mau minta tolong apa, Bu? Saya ada jam mengajar.
“Begini Pak Juna, saya sebenarnya malu mengatakan ini. Karena saya sedang datang bulan. Terus rok saya kena tetesan darah haid. Jadi… saya minta tolong Pak Juna untuk mengambilkan rok dan juga pembalut di dalam mobil. Apakah Pak Juna bersedia?”
Ya Tuhan, permintaan tolong macam apa ini? Aku bukan siapa-siapa bagi perempuan ini. Ingin menolak karena waktu mengajar sudah mepet. Akhirnya, aku punya ide. Yang bisa bantu Bu Tresno adalah Pak Satpam.