Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #11

Data yang Hilang

Sambil menunggu giliran tiba. Aku menyalakan laptop untuk mengecek draf yang sudah disiapkan. Saat sedang fokus depan laptop, ada yang menyentuh pundakku. Aku mendongakkan kepala. Tampak wajah AbiManyu yang biasa jutek. Tiba-tiba ia bersikap ramah padaku. Apa ini hanya sandiwara? Karena di sekeliling banyak orang. 


“Boleh gue duduk di sebelah lu?”


“Silakan.” Aku menjawab tanpa menolehkan wajah pada AbiManyu.


Kemudian ia pun duduk bersebelahan denganku. Kami tidak melanjutkan obrolan. Aku masih fokus membaca ulang isi draf. 


“Lu mau bimbingan juga?”


“Iya.”


“Siapa dosen pembimbingnya?”


“Pak Supena.” 


“Loh, kok bisa sama?”


Mendengar perkataan itu, aku langsung bergeming. Malas untuk menjawab pertanyaan lelaki yang sedang berada di sebelahku. Kemudian aku pun mengembuskan napas pelan sambil memikirkan apa yang akan aku jawab. 


“Mungkin sudah dari sananya. Yang mengatur penjadwalan, kan dosen!”


“Lo kalau gue ajak ngobrol selalu menjawab ketus. Apa karena gue sudah menyakiti lu, waktu kemarin?”


Sebenarnya aku nggak mau bahas masalah kemarin. Biarlah semua sudah berlalu. 


“Sorry, gue nggak mau bahas soal kemarin. Gue mencoba untuk melupakannya. Biarkan gue hidup tenang dengan sendirinya.”


AbiManyu menjaga jarak duduk denganku, setelah aku menjawab pertanyaan darinya. Rupanya ia mulai menunjukkan siapa sebenarnya.


Saat tiba waktunya giliranku. Gegas aku beranjak dari tempat duduk menuju ruang dosen. Bisa meninggalkan AbiManyu. Itu mauku.


Mengucapkan salam adalah salah satu adab yang menjadi keharusan umat Muslim. Pak Supena mempersilakan aku duduk, aku pun 

mendaratkan bokongku. Kemudian ngobrol sebentar mengenai judul tesis. Setelah itu, aku menyalakan laptop untuk mengcopy data yang sudah tadi aku baca ulang. Namun, alangkah terkejut saat filenya tidak aku temukan di laptop. Sungguh, aneh. Antara percaya dan tidak. 


“Ada apa, Juna?”


“Data saya hilang, Pak.”


“Loh, kok bisa?”


“Entahlah, saya juga bingung. Barusan di luar sambil duduk menunggu giliran masuk, sudah saya baca ulang.”

Lihat selengkapnya