Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #12

Kedatangan Zahra

“Loh, Zahra. Darimana kamu tahu alamat rumah Nenek saya?”


Nenek Syarifah yang mendengar itu tersenyum lebar. Kemudian menyuruhku untuk bergabung ngobrol bersama. 


Aku mendaratkan bokong di atas kursi rotan. Kemudian menunggu jawaban dari Zahra yang masih asyik ngobrol sama Nenek. Kenapa mereka begitu akrab? Seperti sudah lama bertemu. Kemudian aku berdehem. Kedua perempuan yang terpaut usia jauh itu menatap ke arahku. 


“Juna, kamu ini ganggu saja obrolan perempuan.”


“Bukan bermaksud seperti itu, Nek. Saya sedang menunggu jawaban dari Zahra.”


Gadis yang ada di depanku memulas senyum. Kali pertama aku melihat senyuman Zahra yang membuat getaran aneh dalam hati. Segera aku menepisnya. 


“Maaf, Pak Juna. Bukan maksud aku tidak sopan belum jawab pertanyaan yang sempat dilontarkan. Aku kesini karena melihat Pak Juna saat mengendarai motor hampir saja mau mengalami kecelakaan. Aku khawatir dengan keadaan Pak Juna. Jadi, aku ikuti Pak Juna diam-diam sampai rumah Nenek.”


Setelah mendengar penjelasan dari Zahra yang panjang kali lebar. Aku tidak menyangka kalau gadis itu memberikan perhatian lebih padaku. 


“Kenapa kamu tidak hati-hati, Juna!”


“Iya, Nek. Maaf. Juna lagi banyak pikiran saat mengendarai motor. Alhamdulillah Tuhan masih melindungi, selamat sampai tujuan.”


Kembali Nenek Syarifah tersenyum lebar. Ia mengatakan rasa terima kasih pada Zahra karena sudah mengekori cucunya. 


Dua kali aku melihat Zahra tersenyum sangat manis. Seperti rasa gula. Desiran itu muncul lagi. Kemudian aku beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan mereka. Jantungku sudah mau copot ini. 


Langkahku menuju rumah Agus. Kebetulan lelaki itu baru keluar dari rumah. 


“Hai, Gus. Kumaha damang?”


“Eh, Juna. Alhamdulillah damang. Duh, punteun Juna. Saya baru kelihatan, ya?”


“Iya, kamu baru kelihatan. Saya juga baru pulang dari kampus.”


Kami melanjutkan obrolan sambil duduk di kursi depan teras rumah Agus. Lelaki itu mulai menanyakan siapa perempuan yang sedang ngobrol dengan Nenek?


“Saha eta Juna. Meuni geulis pisan?”


“Oh… itu, teman di kampus.”


“Duh, kirain gebetan kamu.”


“Jangan asal ngomong, Gus.”


“Duh, punteun Juna.”


“Ngak apa-apa, santai aja. Saya nggak marah, kok.”


Aku bergeming sambil menarik napas dalam-dalam. Desiran ini masih ada. Kirain akan menghilang dalam jarak tidak terlalu dekat. 


“Gus, saya boleh bertanya tentang sesuatu?”


“Sok atuh Juna. Mau bertanya apa?”


“Maaf kalau pertanyaan saya rada aneh. Kamu… pernah mengalami jatuh cinta nggak?”

Lihat selengkapnya