Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #13

Sebuah Petunjuk

Usai salat Magrib aku berjanji akan menemui Agus. Ingin menghilangkan penat dalam kepala. Sepertinya aku butuh hiburan. 


Aku mengintip di jendela depan sambil membuka sedikit gorden. Agus belum kelihatan. Akhirnya aku berdiri sambil menunggu Agus keluar.


I5 menit berlalu. Orang yang ditunggu, akhirnya nongol juga. Aku bergegas menuju rumah pemuda itu. 


Tampak Agus duduk sambil memainkan gitar. Ini bukan sekadar kebetulan. Aku memang sedang butuh untuk dihibur.


“Gus request lagu buat saya.”


“Oh, boleh banget. Kamu mau lagu apa, Juna?”


“Bebas saja, terserah kamu.”


“Saya punya lagu yang cocok buat kamu.”


Jreng…


Jreng…


Setelah itu Agus memainkan gitarnya mengiringi lirik lagu yang ia dendangkan. 


Lirik lagu Dewa yang berjudul “Risalah Hati” memang cocok dengan apa yang sedang dialami saat ini. Sangat menghibur sekali. Ternyata mencintai seseorang itu membutuhkan waktu agar menjadi terbiasa. 


“Apakah hatimu sudah terhibur, Juna?”


“Alhamdulillah. Suara kamu bagus untuk didengarkan. Terima kasih sudah menghibur saya.”


“Sama-sama, Juna.”


“Fiks nanti saya pekerjakan kamu untuk menjadi penghibur di kafe. Bersedia tidak, Gus?”


“Insya Allah saya terima tawaran kamu.”


Aku memperlihatkan senyuman yang membuat bahagia malam ini. Sepertinya besok aku harus mencari petunjuk tentang data yang hilang. Siapa tahu Anggara bisa membantu untuk memecahkan masalah.


Kemudian aku berpamitan pulang ke rumah. Sejak tadi belum sempat merebahkan tubuh yang lelah ini. 


Dengan gontai aku berjalan ke arah kamar. Di ruang televisi tidak menemukan Nenek. Apakah masih marah padaku? Jangan sampai terjadi. Bisa-bisa nanti aku nggak dapat jatah makan sehari 3 kali lagi. Aku mengusap wajah dengan kasar. Obrolan yang belum tuntas harus diselesaikan besok pagi dengan Nenek.


Keesokan paginya, seperti biasa rutinitas bangun sebelum azan Subuh. Aku lupa untuk menghubungi Anggara. Apakah bisa ke kampus hari ini? Karena kemarin izin dan aku tidak menanyakan alasannya. 


Sebelum menghubungi Anggara, masalah tadi malam dengan Nenek harus diselesaikan sekarang juga. Setelah siap, aku menggendong tas ransel menuju ke dapur.


Tampak Nenek sedang menyajikan makanan di meja makan. Aku mempercepat langkah untuk menemuinya.


“Pagi, Nek.”


Lihat selengkapnya