Arjuna (Menata Mimpi, Menjalani Takdir)

Puspa Artheria
Chapter #15

Mencari Solusi

Aku menuju parkiran motor untuk pulang. Ada yang perlu aku obrolin sama Ibu tentang masalah ini. Kenapa mereka selalu memutuskan sepihak tanpa memikirkan kedepannya. Ini bukan jaman menikah harus dipaksakan. 


Kali pertama aku menjalankan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Mungkin karena emosiku sedang memuncak. 


Setelah sampai di rumah Nenek, aku bergegas masuk ke kamar. Mencoba untuk meredakan emosi dengan duduk sejenak. Sebelum aku telepon Ibu, agar tidak meledak-ledak saat berbicara di telepon nanti. 


Aku mengembuskan napas dengan berat sambil memejamkan mata. Tiba-tiba, terdengar suara ponsel berdering. Panggilan dari Ibu. Segera aku angkat teleponnya. 


“Assalamualaikum, Bu.”


“Jun, kenapa pesannya tidak kamu jawab?”


“Maaf, tadi saya sedang di kampus.”


“Ya, sudah dimaafkan. Lusa kamu pulang, ya?”


“Tapi, Bu. Saya, kan sedang sibuk dengan tesis S2.”


“Itu, kan bisa ditunda dulu, toh. Apa ndak bisa?”


“Bisa, sih. Tapi, saya … boleh menolak nggak Bu?”


“Apa? Menolak? Loh, Jun, ndak bisa. Kamu harus menerima keputusan kami. Sudah lama perjodohan ini kami sepakati.”


“Tapi, saya, kan belum setuju dengan perjodohan ini. Kenapa Ibu dan Ayah hanya memutuskan sepihak saja.”


“Sudah, Jun. Malas berdebat sama kamu. Seorang Ibu, Sayang sama anak laki-lakinya. Ayah kecewa kalau kamu menolaknya.”


“Beri kesempatan saya untuk berpikir, Bu. Sebelum memutuskan untuk pulang.”


“Baiklah, waktunya satu hari saja, ya. Ndak usah lama-lama karena semua sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Jadi, maaf tidak bisa dibatalkan.”


“Baik, Bu. Saya akan secepatnya memberikan jawaban.”


Aku mengakhiri percakapan dengan Ibu. Tiba-tiba kepalaku menjadi penat. Masalah ini terlalu rumit. Kemudian aku keluar dari kamar untuk mencari ketenangan sambil membawa satu bungkus rokok. 


Nenek belum terlihat sama sekali. Mungkin saja bisa memberikan solusi untuk masalah ini. Aku sendiri bingung, kalau menolak, Ayah semakin kecewa padaku. Bukankah aku memang anak yang selalu mengecewakan orang tua? Karena apa yang diinginkan mereka tidak sesuai. Bergegas, aku menuju teras depan untuk berpikir sejenak sambil menghubungi Anggara. 


Sebatang rokok aku nyalakan sambil duduk di kursi. Melihat ke arah depan, tampak Agus sedang duduk juga di teras depan rumahnya. Aku mulai menghubungi Anggara untuk menceritakan obrolan penting dengan Ibu tadi di telepon. 


[Bisa ke sini nggak?]


Pesan terkirim


[Kamu pasti ada masalah?]


[Tebakanmu memang benar, saya lagi butuh solusi, nih.]


[Kalau boleh tahu tentang apa?]


[Lusa saya disuruh pulang ke Pekalongan. Ibu dan Ayah sudah mengatur pertemuan dua keluarga untuk acara lamaran.]


[Loh, kenapa nggak mau?]


[Saya nggak cinta sama perempuannya. Cepetan sini, saya mau ngobrol.]

Lihat selengkapnya