Hari ini pergi ke kampus untuk menyelesaikan tugas saja. Kemarin mau ke perpustakaan sempat tertunda karena satu hal. Sekarang menyelesaikan satu per satu dulu, sebelum pergi ke Pekalongan.
Aku mengembuskan napas berat. Harus segera menyusun rencana. Bagaimanapun, aku harus membatalkan acara lamaran itu. Mungkin Ningsih akan sakit hati karena ulahku. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Aku punya mimpi yang ingin terwujud.
Hal serius tentang pernikahan pun belum aku pikirkan. Sungguh, dibuat penat isi kepala.
Setelan pakaian yang aku pakai sangat simpel. Kaus lengan pendek dan bawahan celana jeans. Tas ransel yang berisi laptop sudah disiapkan. Model rambut poni ke depan, tidak lupa memakai kacamata. Kalau ketemu Zahra, terpaksa harus mengubah model rambut aku sebagai dosen.
Setelah sarapan kemudian berpamitan dengan Nenek.
“Ingat Juna, jangan menunda waktu. Kamu harus berani membuktikan kepada kedua orang tua. Karena yang menentukan pilihan hidup adalah dirimu sendiri, bukan orang lain.”
Nasihat dari Nenek pagi ini membuat aku tambah semangat. Pasti ada jalan keluar terbaik. Kemudian aku mencium punggung tangan dan berpamitan sambil mengucapkan salam. Nenek menepuk pundak untuk memberi semangat.
Kuda besi yang selalu menemaniku melaju kencang. Menerobos jalanan yang sudah ramai dengan kendaraan beroda empat dan dua. Bandung di pagi hari, selalu macet. Apalagi Jakarta pusat mengais rezeki. Hiruk pikuk orang-orang sangat nampak sekali. Bukan orang pribumi saja, mereka yang mengadu nasib kebanyakan dari luar pulau.
Aku sendiri malah hijrah ke Bandung dari Pekalongan. Alasan yang kuat, sih karena tertarik kuliah di salah satu universitas ternama di Bandung. Apalagi banyak sekali lulusan dari sana menjadi orang sukses. Aku pun ingin seperti itu. Lulus S2 bisa mengembangkan bisnis. Semoga target tercapai dan bisa selesai.
Motor yang dikendarai sudah terparkir. Aku berjalan menuju perpustakaan kampus. Ini masih terlalu pagi. Dan perpustakaan pun belum buka. Aku harus menunggu sampai jam 09.00.
Sambil menunggu, aku berkeliling kampus yang sangat luas. Baru pertama kali bisa santai menikmati udara segar. Tiba-tiba tidak sengaja berpapasan dengan Bu Tresno. Perempuan itu bakal mengenaliku atau tidak dengan penampilan seperti mahasiswa? Namun, ia sempat melirik ke arahku. Tanpa aku pedulikan.
Langkahku terhenti di sebuah taman yang dikelilingi pepohonan hijau. Disana ada kursi berjejer terbuat dari besi. Aku mendaratkan bokong sambil berselonjor kaki. Meletakkan tas ransel di sebelah. Kemudian meregangkan otot-otot tangan sambil menghidu aroma dedaunan yang basah.
Perasaanku sedikit tenang berada ditempat yang jauh dari kebisingan. Ternyata, ketenangan yang aku butuhkan. Meskipun segala riuh di kepala masih terdengar berisik. Ujian hidup ini belum kuat aku jalani. Bagaimana setelah menjalankan bisnis nanti? Semua masih misteri.
Tiga puluh menit berlalu, aku tertidur sebentar saat mata ini terpejam. Kemudian melihat jam yang tertera di layar ponsel, sudah menunjukkan pukul 09.00. Aku segera beranjak dari kursi dan meninggalkan tempat itu.