Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Pagi yang Suram

Pagi yang Suram di Bengkel Warisan Ayah

---

Udara pagi di kawasan pinggiran kota industri ini tidak pernah ramah. Pukul 06.30 WIB, kabut tipis sisa hujan semalam masih enggan beranjak dari aspal halaman yang retak-retak. Di sudut barat pelataran, sebuah papan nama berkarat bertuliskan "Bengkel Jaya Abadi" berderit pelan, diayun angin subuh yang dingin. Di dalam bangunan seluas dua belas kali sepuluh meter itu, aroma khas oli mesin, karat besi, dan bahan bakar solar berpadu pekat, menciptakan atmosfer yang begitu akrab sekaligus menyesakkan bagi Arkan.

Arkan duduk di atas kursi kayu reyot di balik meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan majalah otomotif usang dan suku cadang bekas. Matanya menyapu setiap sudut bengkel yang dulunya menjadi istana kebanggaan sang ayah, almarhum Pak Joko. Dulu, tempat ini tidak pernah sepi dari deru mesin mobil tua dan gelak tawa para pelanggan setia. Namun, sekarang, tempat itu tampak seperti kuburan massal bagi mimpi-mimpi mekanik yang kandas.

Di atas meja kayu di hadapannya, berserakan belasan lembar nota tagihan dari para pemasok suku cadang dan surat peringatan dari bank daerah. Totalnya mencengangkan, cukup untuk membuat siapa pun kehilangan kewarasan dalam semalam. Arkan meraba lembaran kertas berwarna merah muda itu dengan jemari yang kasar dan belepotan pelumas hitam.

"Tiga puluh lima juta rupiah... dari mana aku harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu kurang dari sepekan?" gumam Arkan pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara tetesan air dari atap seng yang bocor.

Pintu gulung bengkel yang setengah terbuka berderit kasar ketika didorong dari luar. Soni, pemuda dua puluhan tahun yang menjadi satu-satunya mekanik tersisa di tempat itu, melangkah masuk sambil membawa dua cangkir kopi hitam mengepul. Wajah Soni tampak kusut, mencerminkan keletihan fisik dan mental yang sama seperti yang dirasakan Arkan.

"Pagi, Ar. Kopi dulu biar tidak stres menghadapi kenyataan," ujar Soni sambil meletakkan cangkir berlogo retak di atas meja kerja, tepat di sebelah tumpukan tagihan.

Arkan menoleh sekilas, menarik napas panjang sebelum menjawab, "Bagaimana bisa tenang, Son? Kalau sampai Jumat depan kita tidak melunasi tagihan distributor utama, mereka akan menyegel seluruh peralatan las dan mesin bubut kita. Tanpa alat-alat itu, bengkel ini resmi mati."

Soni menarik kursi lipat di dekatnya, lalu duduk sambil menyeruput kopinya pelan. "Aku tahu, Ar. Tadi malam aku sempat keliling ke bengkel-bengkel sebelah, mencoba meminjam perkakas atau menanyakan apakah ada garapan borongan. Tapi semuanya sama saja. Industri reparasi mobil konvensional sedang sekarat. Orang-orang lebih memilih membawa mobil keluaran terbaru mereka ke bengkel resmi ber-AC di pusat kota."

"Ayah tidak pernah mendidik kita untuk menyerah begitu saja," balas Arkan, nada suaranya bergetar antara keyakinan yang rapuh dan keputusasaan yang nyata.

"Ayah hebat, Ar. Tapi beliau hidup di era yang berbeda. Sekarang zamannya sudah berubah total," sahut Soni lirih, matanya menatap lantai semen yang basah.

❖ ❖ ❖

Arkan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati sebuah sedan tua keluaran tahun sembilan puluhan yang mangkrak di tengah ruangan. Mesin mobil itu sudah dibongkar total sejak sebulan lalu, namun perbaikannya terbengkalai karena keterbatasan dana untuk membeli komponen piston baru. Ia meletakkan telapak tangannya di atas kap mobil yang dingin, merasakan getaran emosi yang bergejolak di dalam dadanya.

"Aku tidak boleh membiarkan Bengkel Jaya Abadi ini jatuh ke tangan bank atau dijual murah kepada para spekulan tanah," kata Arkan tegas, menatap Soni yang masih duduk termangu. "Tempat ini adalah satu-satunya warisan terakhir yang ditinggalkan Ayah sebelum beliau berpulang. Aku berjanji pada diri sendiri untuk menyelamatkannya, bagaimanapun caranya."

Soni mendongak, menatap sahabat sekaligus atasannya itu dengan pandangan sangsi. "Niatmu mulia, Ar. Tapi tekad saja tidak bisa dipakai untuk membayar utang ke bank. Kita butuh keajaiban, atau setidaknya klien besar yang mau mempercayakan restorasi total mobil klasik dengan anggaran fantastis."

"Kalau keajaiban tidak datang, kita jemput keajaiban itu, Son," jawab Arkan dengan sorot mata yang mulai menyala. "Hari ini, aku akan pergi menemui Pak Broto. Aku dengar dari kenalan lama, beliau sedang mencari bengkel independen yang sanggup merestorasi mobil sport klasik langka miliknya untuk pameran nasional bulan depan."

Soni hampir menyemburkan kopinya mendengar nama tersebut. "Pak Broto? Kolektor mobil antik yang terkenal galak itu? Jangan gila, Ar! Orang-orang bilang beliau sudah memecat tiga mekanik kepala dari bengkel ternama hanya karena ada goresan kecil di kap mesin mobilnya."

"Justru karena beliau pemilih, bayarannya pasti setimpal," potong Arkan cepat. "Jika kita berhasil mengambil proyek itu dan menyelesaikannya tepat waktu, uang muka dari kontrak tersebut lebih dari cukup untuk melunasi seluruh tagihan kita yang menumpuk di sini."

"Itu pertaruhan yang sangat besar risikonya," Soni memperingatkan sambil berdiri. "Kalau kita gagal memuaskan Pak Broto, bukan cuma nama baik kita yang hancur, tapi bengkel ini benar-benar rata dengan tanah."

"Risiko selalu ada di setiap usaha, Soni. Kalau kita hanya diam berpangku tangan di sini, hasilnya tetap sama: kehancuran," tegas Arkan, meraih jaket kerjanya yang tergantung di balik pintu kantor kecil. "Tolong jaga bengkel selama aku pergi. Bersihkan area kerja dan pastikan tidak ada lagi atap yang bocor jika hujan turun siang nanti."

Soni menghela napas pasrah, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa mengubah pendirian Arkan sekali pemuda itu sudah mengambil keputusan. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Ar. Jangan biarkan emosimu terpancing kalau orang tua itu mulai merendahkan kita."

"Tenang saja, aku tahu batasanku," ujar Arkan sebelum melangkah keluar menuju motor bebek tuanya yang terparkir di halaman.

❖ ❖ ❖

Perjalanan menuju kawasan perumahan elit tempat Pak Broto tinggal memakan waktu hampir satu jam di atas motor tua yang rantainya berisik. Udara pagi yang tadinya dingin kini mulai berubah menjadi terik yang menyengat seiring matahari yang merangkak naik ke langit timur. Arkan memacu kendaraannya menyusuri jalanan protokol kota yang padat oleh kendaraan niaga dan bus kota yang mengepulkan asap hitam pekat.

Di sepanjang perjalanan, pikiran Arkan melayang kembali pada masa-masa kecilnya. Ia ingat betul bagaimana ayahnya sering membawanya ke bengkel setiap akhir pekan, mengajarinya cara memegang kunci pas, mengenali jenis-jenis oli, hingga memahami filosofi di balik setiap mesin yang berputar. Bagi Pak Joko, mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah karya seni yang bernyawa.

"Arkan, ingatlah satu hal," suara almarhum ayahnya terngiang jelas di telinga Arkan saat ia berhenti di lampu merah. "Manusia bisa berbohong, tapi mesin tidak pernah berdusta. Kalau ada yang salah, mesin pasti akan jujur mengatakannya lewat suara atau kinerjanya. Tugas seorang mekanik adalah mendengarkan kejujuran itu."

Kenangan tersebut memberikan suntikan semangat tersendiri bagi Arkan di tengah rasa lelah yang mulai mendera fisik mudanya. Sesampainya di gerbang kompleks perumahan mewah berpagar tinggi, laju motornya langsung dicegah oleh petugas keamanan berseragam rapi yang berdiri di pos jaga.

"Selamat pagi, Pak. Ada keperluan apa memasuki kawasan ini?" tanya satpam itu dengan nada formal namun tetap waspada.

"Selamat pagi. Saya Arkan, dari Bengkel Jaya Abadi. Saya ingin menghadap Bapak Broto, ada keperluan bisnis penting terkait restorasi kendaraan," jawab Arkan dengan sopan sambil membuka helmnya.

Petugas keamanan itu meneliti penampilan Arkan dari ujung kepala hingga ujung kaki—mulai dari jaket kain yang bernoda oli hingga celana jins usang yang dikenakannya. Ada keraguan yang jelas terpancar di mata sang petugas.

"Apakah tuan Broto sudah membuat janji temu dengan Anda sebelumnya?" tanya satpam itu lagi, nada suaranya sedikit meremehkan.

"Belum secara resmi, Pak. Tapi saya membawa portofolio pekerjaan almarhum ayah saya dan beberapa contoh restorasi mesin yang kami kerjakan sendiri," jelas Arkan, berusaha tetap tenang meski harga dirinya mulai sedikitikik terusik.

Sebelum satpam itu sempat menolak kehadirannya, sebuah mobil sedan hitam mewah berplat nomor khusus keluar dari gerbang garasi rumah megah di dekat pos. Kaca jendela belakang mobil itu turun perlahan, menampakkan sesosok pria paruh baya berkacamata tebal dengan rambut beruban rapi.

"Ada apa di gerbang, Heri?" suara bariton yang tegas menggema dari dalam mobil mewah tersebut.

"Maaf, Tuan Broto. Ini ada pemuda mengaku dari bengkel umum, ingin menemui Anda tanpa janji," lapor satpam tersebut buru-buru.

Arkan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia segera melangkah mendekati jendela mobil Pak Broto dengan penuh percaya diri.

"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Broto. Nama saya Arkan. Saya putra pemilik Bengkel Jaya Abadi. Saya tahu kedatangan saya lancang, tapi saya mendengar bahwa Anda sedang mencari mekanik handal untuk merestorasi mobil klasik langka Anda. Saya ingin membuktikan bahwa bengkel kami adalah tempat yang tepat untuk itu," ucap Arkan mantap, menatap langsung ke dalam mata kolektor terkenal tersebut.

❖ ❖ ❖

Pak Broto menatap Arkan lekat-lekat selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Tidak ada senyum ramah di wajah pria tua itu, yang ada hanyalah ekspresi dingin seorang pengusaha sukses yang terbiasa menilai manusia dalam hitungan detik.

"Pemuda," kata Pak Broto dengan nada datar namun penuh tekanan. "Bengkel di luar sana antre menawarkan jasa mereka padaku setiap hari. Kebanyakan dari mereka hanya bermulut manis tapi bermental amatiran. Kenapa aku harus mempercayakan mobil kesayanganku yang bernilai miliaran rupiah kepada anak muda ingusan yang datang dengan motor bobrok dan pakaian kotor seperti itu?"

Pertanyaan tajam itu menampar wajah Arkan secara telak. Darahnya mendidih, namun ia berhasil menahan emosinya agar tidak meledak di tempat umum.

"Karena mobil klasik tidak butuh mekanik yang berjas rapi dan wangi parfum mahal, Tuan," jawab Arkan dengan suara tegas dan terukur. "Mereka butuh tangan-tangan yang tidak takut kotor oleh oli, yang menghargai setiap baut tua, dan yang mengerti jiwa dari mesin tersebut. Ayah saya mengajarkan hal itu selama puluhan tahun."

Pak Broto mendengus pelan, seolah ucapan Arkan tadi hanyalah angin lalu yang tidak menarik. "Bicara itu mudah, anak muda. Buktikan ucaparmu jika memang nyalimu sebesar bualannya."

Pria paruh baya itu memberi gestur kepada sopirnya untuk membuka pintu mobil. Ia keluar dan berjalan beberapa langkah mendekati Arkan.

Lihat selengkapnya