Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Pertemuan Canggung

Pertemuan Canggung dengan Sahabat Masa Kecil yang kini Sukses; Benih Rasa Minder

---

Kafe The Velvet Bean di sudut Jalan Sudirman memancarkan aroma biji kopi Arabika panggang yang pekat, berpadu dengan alunan musik jazz lembut dari pengeras suara dinding. Jam dinding antik bergaya retro di dekat bar menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit siang. Langit di luar mendung tipis, menyisakan bias cahaya kelabu yang menembus kaca jendela besar berlapis embun tipis. Di sinilah Arka memilih duduk, di sebuah meja sudut yang agak tersembunyi di balik tanaman hias Monstera besar, tempat di mana ia berharap bisa sedikit bernapas lega dari riuhnya tekanan hidup di ibu kota.

Arka merapikan kerah kemeja flanelnya yang sudah agak luntur di bagian siku, lalu menatap cangkir cappuccino pesanannya yang kini menyisakan buih tipis. Tangannya terasa dingin, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu berpelitur gelap itu secara berirama, mencerminkan ketidaksabaran sekaligus kecemasan yang bergejolak di dalam dadanya. Sudah hampir sepuluh tahun ia tidak bertukar kabar dengan Bagas, teman sebangkunya semasa SMA dulu—masa-masa ketika dunia terasa begitu sederhana, di mana impian-impian besar belum dibatasi oleh kenyataan pahit tentang rekening bank dan status sosial.

"Arka?"

Sebuah suara bariton yang tegas dan berwibawa membuyarkan lamunan Arka. Ia mendongak dengan cepat, hampir menjatuhkan ponsel yang tergenggam di tangannya.

"Eh, Gas! Ya ampun, apa kabar?" sapa Arka setengah berdiri, mencoba menampilkan senyum paling ramah yang ia miliki, meski tenggorokannya mendadak terasa kering.

Bagas tersenyum lebar. Pria itu berdiri tegak dengan balutan jas tailored berwarna abu-abu arang yang tampak begitu pas dan mahal. Jam tangan Rolex Submariner melingkar megah di pergelangan tangan kirinya, memantulkan kilau lampu kafe yang elegan. Di sampingnya, tersampir sebuah tas jinjir kulit sapi asli bermerek ternama. Bagas bukan lagi remaja jangkung berambut acak-acakan yang dulu sering berbagi roti buatan ibu Arka di kantin sekolah; ia kini menjelma sebagai eksekutif muda sukses yang memancarkan aura kepercayaan diri yang mutlak.

"Luar biasa, Ka. Puji Tuhan, semuanya berjalan lancar," jawab Bagas sambil mengulurkan tangan. Jabatannya mantap, hangat, dan penuh keyakinan. "Kamu apa kabar? Wah, duduk, duduk. Maaf ya aku sedikit telat, tadi macet parah dari kawasan SCBD."

"Ah, santai saja, aku juga baru nyampe kok," balas Arka canggung, kembali mendudukkan diri di kursinya sementara Bagas melambaikan tangan memanggil pelayan dengan gestur yang sangat natural.

"Mau pesan apa lagi? Jangan sungkan, ya. Anggap saja traktiranku hari ini sebagai perayaan kecil pertemuan kita setelah sekian lama," kata Bagas sambil membuka buku menu kulit imitasi dengan gerakan santai, matanya memindai halaman demi halaman tanpa tergesa-gesa.

"Cukup air mineral hangat saja, Gas. Aku sudah pesan kopi tadi," jawab Arka pelan, merasa sedikit ciut melihat bagaimana Bagas berbicara dengan pelayan kafe menggunakan nada yang sangat tenang dan berwibawa, kontras dengan dirinya yang sering kali merasa gugup saat harus memesan makanan di tempat mewah.

❖ ❖ ❖

Sebenarnya, pertemuan hari ini diinisiasi oleh Bagas melalui pesan singkat seminggu yang lalu. Awalnya, Arka mengira ini hanyalah reuni biasa—ajang melepas rindu antara dua orang kawan lama yang sudah tergerus oleh kesibukan masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, Arka menyadari ada tujuan lain yang tersimpan di balik senyum ramah Bagas.

"Jadi, Arka... kudengar dari grup WhatsApp alumni kalau kamu sekarang masih aktif di dunia penulisan kreatif, ya? Freelance, kan?" tanya Bagas setelah pelayan pergi mengantar segelas air hangat untuk Arka dan espresso ganda untuk dirinya sendiri.

Arka menelan ludah dengan susah payah. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi bagi Arka, itu adalah sebuah kalimat pembuka yang langsung menghujam harga dirinya. "Iya, begitulah, Gas. Menulis artikel lepas, kadang jadi ghostwriter buat beberapa penerbit indie atau blog perusahaan. Lumayan buat menyambung hidup."

"Wah, hebat itu! Konsisten di bidang seni dan tulisan butuh dedikasi tinggi," puji Bagas, meski nadanya terdengar seperti seorang mentor yang sedang menilai kinerja bawahannya. "Tapi, ngomong-ngomong, sampai kapan mau jalanin sistem freelance kayak gitu? Maksudku, hidup tanpa kepastian finansial bulanan pasti melelahkan, kan? Apalagi di usia kita sekarang ini."

Arka merasakan panas menjalar di kedua pipinya. Ia tahu Bagas mungkin tidak bermaksud merendahkan, tetapi kalimat itu terasa seperti tamparan telak yang mengingatkan Arka pada kenyataan pahit hidupnya: cicilan kontrakan yang sering menunggak, tabungan yang hampir ludes, dan ketidakpastian apakah ia bisa makan layak minggu depan.

"Ya... namanya juga proses, Gas. Aku masih menikmati kebebasan waktunya," jawab Arka defensif, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di hadapan sahabat yang kini telah melompat jauh meninggalkannya dalam perlombaan kedewasaan.

"Kebebasan itu bagus, Ka, tapi kebebasan sejati itu datang dari kemandirian finansial," timpal Bagas lembut namun menusuk, menyesap espresso-nya dengan anggun. "Nah, kebetulan banget aku ajak kamu ketemuan hari ini. Perusahaan investasi tempatku memimpin divisi strategis baru saja membuka posisi untuk Head of Content and Public Relations. Gaji pokoknya kompetitif, ada asuransi kesehatan premium, bonus tahunan, dan tentu saja... kestabilan karier yang jelas."

Mata Arka membelalak sejenak. "Maksudmu... kamu menawari aku pekerjaan?"

"Bukan sekadar menawarkan, aku ingin menarikmu masuk ke duniaku," kata Bagas mantap, menatap Arka lekat-lekat. "Aku tahu kapasitas otakmu waktu SMA dulu, Arka. Kamu yang paling cerdas di kelas kita. Sayang banget kalau bakatmu itu cuma dihabiskan untuk nulis artikel receh yang dibayar murah. Aku ingin kamu jadi bagian dari timku. Kita bisa bangun branding perusahaan bareng-bareng."

❖ ❖ ❖

Tawaran itu seharusnya menjadi sebuah berkah, sebuah penyelamat di tengah badai krisis finansial yang sedang melanda hidup Arka. Namun, alih-alih merasa bersyukur atau senang, Arka justru merasakan gelombang ketidaknyamanan yang mendalam. Tawaran tersebut tidak datang sebagai uluran tangan yang tulus dari seorang teman masa kecil, melainkan terasa seperti sebuah bentuk amal dari seseorang yang berada di singgasana kekuasaan kepada rakyat jelata yang kelaparan.

Arka menatap cangkir kopinya yang kini sudah benar-benar dingin. Bayangan masa lalu melintas begitu cepat di benaknya. Dulu, di ruang kelas yang sama, mereka duduk berdampingan dengan nilai ujian yang tidak pernah terpaut jauh. Bahkan, seringkali Arka yang membantu Bagas memahami rumus matematika yang rumit atau struktur kalimat bahasa Inggris yang membingungkan. Mereka adalah mitra yang setara, berdiri di garis start yang kurang lebih sama.

Namun, waktu dan takdir telah membalikkan keadaan dengan kejam. Bagas melesat bak roket berkat jaringan keluarga yang kuat dan keputusan karier yang agresif, sementara Arka terjebak di tempat, terhalang oleh idealisme naif dan ketakutannya sendiri terhadap dunia korporat yang kejam.

"Bagaimana, Ka? Kamu tertarik?" tanya Bagas memecah keheningan, jemarinya mengetuk meja dengan tidak sabar. "Syarat administratifnya gampang, nanti aku yang bantuurus langsung ke bagian HRD. Kamu tinggal masukkan CV, seleksi formalitas saja."

Kata "bantu" itu beresonansi di kepala Arka, memantul-mantul dan menciptakan gema yang menyakitkan. Bantuan. Artinya, tanpa Bagas, Arka dianggap tidak akan pernah mampu lolos seleksi berdasarkan kemampuannya sendiri. Rasa minder yang tadinya hanya berupa benih kecil di sudut hati Arka kini mulai bertunas, menjalar, dan mencengkeram paru-parunya hingga ia merasa sulit bernapas.

Lihat selengkapnya