Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Kegagalan Arkan di masa SMA

Kegagalan Arkan di masa SMA yang membuatnya trauma mencoba hal baru.

Langit sore di atas kota Jakarta meredup perlahan, menyisakan bias jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit. Pukul 17.30 WIB, angin berhembus membawa aroma debu jalanan dan uap aspal panas yang mulai mendingin. Di dalam sebuah kedai kopi minimalis bernuansa kayu gelap di kawasan Senopati, deru mesin espresso beradu dengan alunan musik lo-fi yang mengalun lirih dari pengeras suara sudut ruangan.

Arkan duduk terpaku di kursi sudut dekat jendela besar. Di hadapannya, sebuah laptop terbuka menampilkan dokumen proposal proyek desain interior yang harus ia presentasikan ke hadapan klien besar esok pagi pukul 09.00 WIB. Layar monitor itu memantulkan wajahnya yang tampak lelah, dengan bayangan hitam tipis di bawah matanya.

"Sudah jam setengah enam, Arkan. Kamu yakin tidak mau pulang dulu dan melanjutkannya di rumah?" tanya Maya, rekan kerja sekaligus sahabat setianya, sambil merapikan tas kerjanya.

Arkan menggeleng pelan, pandangannya tidak lepas dari barisan teks dan sketsa 3D di layar. "Belum, May. Ada beberapa bagian yang masih terasa kurang pas. Aku ingin memastikan semuanya sempurna sebelum kuserahkan ke Pak Bram."

Maya menghela napas, menarik kursi di seberang Arkan lalu duduk kembali. "Kesempurnaan itu musuh dari kemajuan, Arkan. Kalau kamu terus merevisi hal kecil yang sebenarnya sudah bagus, kamu malah kehabisan tenaga besok pagi. Ingat, ini klien korporat besar. Yang mereka cari bukan cuma estetika, tapi keberanian konsep."

Arkan menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Kata keberanian itu berdengung di kepalanya seperti alarm yang tidak diinginkan. Bagi sebagian orang, mempresentasikan proyek besar adalah sebuah kesempatan emas untuk melompat lebih tinggi. Namun bagi Arkan, setiap kali kata "keberanian" atau "taruhan besar" disebut, memorinya langsung melompat mundur ke masa belasan tahun lalu—ke sebuah ruang aula sekolah menengah atas yang bau debu dan cat minyak.

"Aku tahu maksudmu baik, May," kata Arkan dengan suara serak, mencoba tersenyum tipis meski bibirnya terasa kaku. "Hanya saja... ada sesuatu di kepalaku yang terus mengingatkanku pada kegagalan lama. Sesuatu yang membuatku merasa kalau aku melangkah terlalu jauh, aku pasti akan terpeleset lagi."

Maya menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh selidik dan empati. Ia tahu betul Arkan bukan tipe orang yang mudah menyerah dalam hal teknis, tetapi dalam hal mengambil risiko emosional atau keputusan besar yang tidak memiliki jaminan pasti, Arkan adalah seorang pengecut ulung.

"Masa lalu itu sudah lama berlalu, Arkan. Kamu bukan anak SMA berusia tujuh belas tahun yang takut dihukum guru seni lagi," ujar Maya lembut, mencoba mencairkan ketegangan yang tiba-tiba menguasai udara di antara mereka.

"Tapi rasanya masih sama persis, May," balas Arkan lirih.

❖ ❖ ❖

Target utama Arkan malam ini sangat jelas sekaligus sangat menakutkan: menyelesaikan seluruh revisi proposal desain interior kantor utama PT Cipta Reksa Mandiri dan mendapatkan persetujuan awal dari tim manajemen mereka tanpa ada penolakan mayor. Proyek ini bukan sekadar proyek komersial biasa. Ini adalah batu loncatan terbesar bagi agensi kecil tempat ia dan Maya bernaung, sekaligus pertaruhan harga diri profesional Arkan setelah bertahun-tahun memilih bermain aman di balik layar sebagai perancang bayangan.

Selama lima tahun terakhir, Arkan dengan sengaja menghindari posisi kepemimpinan. Ia selalu menolak ketika atasannya menawarkan promosi sebagai kepala divisi kreatif. Alasannya klasik: ia lebih nyaman merancang dari balik meja, membiarkan orang lain yang maju menghadapi klien, membiarkan orang lain yang menanggung risiko jika presentasi berantakan. Namun kali ini, sang pemilik agensi mendesak langsung. Arkan dipaksa menjadi ketua tim untuk proyek senilai miliaran rupiah ini.

"Arkan, tujuanmu malam ini bukan cuma menyelesaikan file PDF itu," ucap Maya serius, memecah lamunan Arkan yang sedang menatap kosong ke arah kursor yang berkedip-kedip di layar. "Tujuanmu adalah berdamai dengan bayanganmu sendiri. Kalau kamu tidak bisa menaklukkan rasa takutmu malam ini di depan laptop ini, besok pagi kamu akan hancur lebur di ruang rapat."

Arkan meremas jemarinya di atas meja. "Aku tidak sedang mencari kehormatan atau pujian besar, May. Aku cuma ingin proyek ini berjalan lancar tanpa ada drama, tanpa ada kesalahan fatal yang membuatku terlihat bodoh di hadapan orang banyak."

"Justru ketakutanmu untuk tidak terlihat bodoh itu yang akan membuatmu melakukan kesalahan," sanggah Maya tajam namun penuh perhatian. "Dengar, Arkan. Tujuanmu harus diubah. Jangan cuma bertahan hidup. Menangkan proyek ini, dan tunjukkan pada dirimu sendiri bahwa kamu layak berada di kursi pengambil keputusan."

Arkan menghembuskan napas panjang, mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Maya. Ia tahu sahabatnya itu benar. Selama ini ia hidup dalam cangkang yang ia buat sendiri, bersembunyi di balik alasan profesionalisme, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia diliputi ketakutan luar biasa akan penolakan. Kegagalan di masa lalu telah membentuk dinding pembatas yang begitu tebal di sekeliling mentalnya.

"Baiklah," kata Arkan akhirnya, mencoba menegakkan punggungnya yang terasa pegal. "Mari kita fokus ke babak akhir proposal ini. Bagian pencahayaan dan konsep ruang terbuka hijau di lantai tiga."

Maya mengangguk puas. "Nah, begitu dong. Kerjakan bagian itu dengan keyakinan penuh. Jangan ragu-ragu mengubah tata letak jika memang itu membuat ruangannya terlihat lebih hidup."

Maya kemudian berpamitan pulang karena hari semakin malam, meninggalkan Arkan seorang diri di kedai kopi yang perlahan mulai sepi. Lampu-lampu jalan di luar mulai menyala terang, memantulkan bias kekuningan di trotoar basah bekas sisa hujan sore tadi. Arkan kembali menatap layar laptopnya. Targetnya malam ini adalah menyelesaikan dokumen setebal empat puluh halaman tersebut sebelum kedai kopi ini tutup pada pukul 22.00 WIB.

❖ ❖ ❖

Suasana kedai kopi yang tadinya hangat kini berangsur sunyi. Barista muda di balik konter mulai membersihkan mesin pembuat kopi, sementara suara gesekan kursi plastik yang diseret menandakan jam operasional hampir usai. Arkan merasakan keheningan malam menyelimuti pikirannya, dan di dalam keheningan itulah, pertahanan mentalnya mulai runtuh.

Pikiran Arkan melayang jauh meninggalkan deretan angka RAB dan sketsa tata ruang kantor di layar laptopnya. Suara denting sendok teh yang beradu dengan cangkir keramik tiba-kira berubah di telinganya menjadi suara ketukan sepatu pantofel di lantai maroleum ruang aula sekolah.

Tanpa bisa ia cegah, memori masa lalu itu merayap naik ke permukaan kesadarannya, membawa serta aroma debu kapur tulis dan ketegangan mencekam belasan tahun silam.

"Arkan, kamu melamun lagi," gumam Arkan pada dirinya sendiri, jemarinya berhenti mengetik. Matanya menerawang menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela kedai kopi yang kini gelap gulita di luar sana.

Bayangan masa lalu itu begitu kuat, seolah-olah waktu tidak pernah berjalan maju. Di dalam pikirannya, ia kembali menjadi remaja tujuh belas tahun yang berdiri gemetar di hadapan meja juri pameran seni rupa tingkat nasional. Saat itu, ia adalah siswa SMA harapan sekolah yang digadang-gadang akan membawa pulang piala utama berkat lukisan surealisme skala besar yang ia kerjakan selama berbulan-bulan.

Namun, semua mimpi itu hancur berkeping-keping dalam kurun waktu kurang dari lima menit penjurian.

Bab 3: Kilas Balik 1—begitu Arkan sering menyebut bab kelam dalam hidupnya di dalam hati.

Saat itu, di bawah sorot lampu neon aula yang menyilaukan, guru pembimbingnya, Pak Darma, menatap lukisan karyanya dengan kening berkerut dalam. "Arkan, konsepmu terlalu liar dan tidak realistis. Kamu mencampuradukkan teknik klasik dengan instalasi modern tanpa arah yang jelas. Ini bukan karya seni yang matang; ini adalah kekacauan ego seorang remaja."

Kritik tajam itu dilontarkan di hadapan puluhan peserta lain dan para juri undangan. Seketika itu juga, darah Arkan serasa mendidih, lalu membeku. Seluruh keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Ia merasa seluruh mata di ruangan itu menertawakannya, menghakimi ketidakmampuannya memahami standar seni yang agung.

Keesokan harinya, ketika pengumuman pemenang dibacakan, namanya bahkan tidak masuk dalam daftar harapan. Yang lebih menyakitkan, di hadapan teman-sekelasnya, Arkan dipanggil ke ruang guru dan diminta untuk tidak lagi mengikuti kompetisi serupa di masa depan agar tidak "mencoreng nama baik sekolah".

Sejak hari itu, sesuatu di dalam diri Arkan patah secara permanen. Trauma itu menjelma menjadi bayangan hitam yang selalu membisikkan kata-kata penolakan setiap kali ia hendak mencoba sesuatu yang menuntut sorotan publik. Ia berhenti melukis, meninggalkan dunia seni rupa murni yang dicintainya, dan beralih ke desain interior komersial yang kaku, terukur, serta penuh dengan aturan matematis yang aman dari interpretasi subjektif.

"Arkan... hei, pesananmu sudah mau ditutup oleh staf," suara seorang pelayan kedai kopi menyadarkan Arkan dari lamunannya yang dalam.

Arkan mengerjap beberapa kali, napasnya sedikit memburu. Keringat dingin terasa menempel di tengkuknya. Ia menatap layar laptop, menyadari bahwa selama hampir tiga puluh menit ia tidak menorehkan satu huruf pun ke dalam dokumen proposalnya. Waktu terus berjalan, dan bayangan kegagalan masa lalu itu justru datang menyerang tepat ketika ia sedang berjuang membangun kembali masa depannya.

❖ ❖ ❖

"Mas, maaf, kami mau closing dalam sepuluh menit ke depan," ucap pelayan kedai kopi dengan ramah namun tegas, berdiri di samping meja Arkan sambil membawa nampan kosong.

"Ah, iya, baik. Maafkan saya. Saya segera bereskan," jawab Arkan buru-buru, merapikan telepon genggam dan buku catatannya ke dalam ransel.

Ia memasukkan laptopnya ke dalam tas dengan tangan yang sedikit gemetar. Trauma kilas balik beberapa menit lalu rupanya meninggalkan efek fisik yang nyata; jantungnya berdegup kencang, dan rasa mual perlahan merambat di perutnya. Arkan memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang buka 24 jam, atau setidaknya berjalan-jalan sebentar di trotoar malam untuk menjernihkan pikirannya.

Lihat selengkapnya