Konflik pertama di rumah; kemarahan ibu dan keheningan yang menyiksa.
---
Jam dinding di ruang tamu berdetak lambat, seolah mengejek setiap detik ketegangan yang merayap di dalam rumah berukuran sedang itu. Pukul 18.30 WIB, langit senja di luar jendela telah melebur menjadi kelam yang pekat, menyisakan bias jingga pucat di ujung cakrawala barat sebelum benar-benar tertelan malam. Udara terasa berat, pengap, dan berbau sisa hujan sore yang menguap dari pelataran semen. Di atas meja makan, hidangan malam yang dimasak ibu sejak pukul lima sore masih utuh tersaji di bawah tudung saji plastik berwarna merah jambu. Belum ada satupun yang menyentuhnya, bukan karena belum waktunya makan, melainkan karena atmosfer di rumah ini telah berubah menjadi medan magnet yang saling menolak.
Aku berdiri mematung di dekat kusen pintu dapur, mencengkeram tali ransel sekolahku yang terasa begitu berat di pundak kanan. Tas itu tidak hanya berisi buku-buku pelajaran, melainkan beban moral dari sebuah keputusan yang baru saja kuambil tanpa restu. Di ruang keluarga, lampu neon putih menyala terang, memantulkan sinarnya pada lantai keramik yang dingin. Ibu duduk di atas sofa panjang berwarna krem, punggungnya tegak kaku bagai sebilah bambu yang siap patah. Tangannya yang biasa terampil memegang pisau dapur kini terkepal erat di atas pangkuannya, gemetar menahan amarah yang dipendam sejak setengah jam lalu.
"Dari mana saja kamu, Dimas?" Suara ibu memecah keheningan. Nada bicaranya rendah, hampir berbisik, namun justru itulah yang paling menakutkan. Suara itu menyimpan badai.
"Aku dari sekolah, Bu. Ada urusan sebentar dengan Pak Hari di ruang guru," jawabku, mencoba menjaga agar suaraku tidak bergetar hebat. Aku melangkah pelan masuk ke ruang keluarga, berharap bisa mencairkan suasana yang telanjur membeku.
Ibu mendongak, menatapku tajam. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan kehangatan seorang ibu yang biasa menyambut anaknya pulang sekolah dengan segelas teh manis hangat. Matanya menyipit, penuh selidik dan kekecewaan yang mendalam. "Urusan? Urusan apa lagi sampai jam setengah tujuh malam baru sampai rumah? Handphone kamu mati, tidak bisa dihubungi."
"Baterainya habis, Bu. Aku tadi benar-benar sibuk mengurus berkas pendaftaran itu." Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi gelombang pertama dari badai yang sudah lama kutakuti.
"Berkas? Berkas apa lagi yang kamu urus di belakang ibu?" Ibu berdiri perlahan, posturnya yang tidak terlalu tinggi mendadak terasa begitu mengintimidasi di hadapanku. "Ibu sudah bilang, kita tidak punya uang untuk urusan aneh-aneh itu. Kenapa kamu masih nekat?"
❖ ❖ ❖
Tujuanku malam ini sederhana namun terasa mustahil: mendapatkan restu dan tanda tangan ibu pada formulir pendaftaran beasiswa kuliah di luar kota. Sejak pengumuman seleksi tahap pertama minggu lalu, impian untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan rutinitas yang menyesakkan ini menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk bertahan di rumah. Beasiswa itu menanggung seluruh biaya kuliah dan tempat tinggal, tetapi persyaratannya mutlak: harus ada surat persetujuan orang tua yang ditandatangani di atas meterai. Tanpa tanda tangan itu, semua usahaku selama tiga tahun terakhir di sekolah menengah atas akan lenyap begitu saja dalam sekejap.
Aku melangkah mendekati sofa, meletakkan ransel di lantai, lalu merogoh saku jaket untuk mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah sedikit kusut karena terus-kusut kupegang sejak tadi siang. Kertas itu adalah jembatan menuju masa depanku, sekaligus bom waktu di hadapan ibu.
"Ini formulirnya, Bu," kataku pelan sambil menyerahkan kertas itu dengan kedua tangan. "Pendaftaran terakhir besok pagi. Kalau ibu tanda tangani sekarang, besok pagi-pagi sekali bisa langsung aku serahkan ke kantor pos."
Ibu melirik sekilas ke arah kertas yang kuodorkan, namun sama sekali tidak berniat menyambutnya. Tangannya tetap terkepal di samping tubuhnya. "Kamu ini mendengarkan kata ibu atau tidak, Dimas? Ibu sudah bilang, kamu tidak usah kuliah. Bantu bapak di bengkel, cari uang untuk bantu kebutuhan adik-adikmu di rumah. Itu kewajibanmu sebagai anak sulung!"
"Tapi Bu, ini kesempatan besar. Aku dapat beasiswa penuh. Ibu tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya kuliahku," sanggahku dengan suara yang mulai meninggi, terbawa oleh rasa frustrasi yang membuncah.
"Bukan masalah uang kuliahnya saja!" bentak ibu, suaranya akhirnya pecah memenuhi ruangan tamu yang sempit itu. "Kalau kamu kuliah di luar kota, siapa yang bantu ibu mengurus rumah ini? Siapa yang mengantar adik-adikmu sekolah? Bapakmu sering sakit-sakitan, Dimas. Kamu tega meninggalkan kami sendirian di sini demi ambisi egoismu sendiri?"
"Aku tidak egois, Bu! Aku cuma ingin masa depan yang lebih baik. Kalau aku terus di sini, membantu di bengkel tanpa arah, apa bedanya hidupku dengan... dengan apa yang kita jalani sekarang?" Kataku terhenti, menyadari bahwa kata-kataku barusan telah melewati batas.
Ibu tertegun sejenak. Wajahnya yang kelelahan tampak semakin pucat di bawah sorot lampu neon. Bibirnya bergetar hebat. "Jadi, kamu malu hidup susah bersama kami? Kamu merasa keluarga ini membebanimu?"
"Bukannya begitu, Bu..." Aku mencoba meralat, tetapi suaranya kini tenggelam oleh rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam dadaku seketika melihat kilatan luka di mata ibu.
❖ ❖ ❖
Suasana di ruangan itu berubah drastis dari bentrokan verbal menjadi keheningan yang jauh lebih menyiksa. Tidak ada lagi suara debaran jantungku yang berpacu kencang atau napas memburu dari kemarahan ibu. Yang tersisa hanyalah dengung lemari es tua dari arah dapur dan suara detak jam dinding yang terdengar semakin nyaring, seolah menghitung mundur keretakan dalam hubungan kami.
Ibu membuang muka, berjalan pelan meninggalkan sofa menuju meja makan. Ia duduk di salah satu kursi kayu, menatap kosong ke arah tudung saji merah jambu di hadapannya. Punggungnya yang membungkuk tampak begitu rapuh, menanggung beban hidup yang tidak pernah sedikit pun ia keluhkan kepada kami, anak-anaknya. Keputusan ini, bagi ibu, bukan sekadar masalah jarak atau tenaga, melainkan bentuk pengkhianatan atas kebersamaan yang telah kami pertahankan di tengah keterbatasan ekonomi selama bertahun-tahun.
Aku tetap berdiri di tempat semula, di dekat sofa, dengan lembaran formulir beasiswa yang masih tergantung di tanganku. Kertas itu tiba-tiba terasa seperti selembar pisau tajam yang baru saja aku tusuk-tusukan ke punggung ibu sendiri. Rasa bersalah bergemuruh hebat di dalam dadaku. Di satu sisi, impianku berada di ujung tanduk, menuntut keberanian untuk terus maju. Di sisi lain, ada rasa bakti dan kasih sayang kepada seorang ibu yang telah mempertaruhkan seluruh hidupnya demi membesarkan kami empat bersaudara selepas kepergian kakek dan kesulitan finansial yang terus mendera.
"Dimas," panggil ibu tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun justru memancarkan kepedihan yang teramat sangat. "Dulu, waktu bapakmu mengalami kecelakaan kerja dan bengkel kita nyaris disita bank, ibu tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kalian. Ibu bertahan di sini, di rumah warisan kakekmu ini, menghadapi tetangga, menghitung uang belanja setiap sen agar kalian bisa tetap sekolah."
"Aku tahu, Bu..." bisikku lemah, air mata mulai menggenang di pelupuk matáku, mengaburkan pandangan ke arah punggung ibu.
"Kalau kamu pergi ke kota itu, sejauh ratusan kilometer dari sini, apa jaminan kamu tidak akan melupakan dari mana kamu berasal?" Ibu menghela napas panjang, sebuah desahan berat yang sarat akan keputusasaan. "Ibu bukan melarangmu pintar, Dimas. Ibu cuma takut... takut kehilangan anak sulung ibu yang paling bisa diandalkan."
Kata-kata itu menghantamku lebih telak daripada bentakan apapun. Tidak ada lagi argumen logis tentang masa depan, tidak ada lagi teori tentang pentingnya pendidikan tinggi yang bisa kudebatkan untuk melawan ketakutan seorang ibu yang hampir kehilangan pegangan hidupnya.
❖ ❖ ❖