Arkan menyendiri di beranda, merenungkan arti namanya (Arkan Ar Rimbai) yang terasa ironis.
---
Malam merayap pelan di atas bubungan Rumah Kayu Arimbai, membawa serta aroma basah khas tanah gambut yang baru saja disiram sisa hujan petang. Jam dinding antik di sudut ruang tengah berdetak berat, menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Suara detaknya berderit konstan, memecah keheningan malam yang terasa begitu pekat dan menekan dada.
Di luar, angin malam berhembus konstan, menyusup melalui celah-celah bilik bambu dan menggoyang dedaunan pohon rambai di halaman belakang. Suara gesekan daun-daun itu terdengar bagai bisikan panjang yang tak berujung, menciptakan suasana sunyi yang mencekam.
Di beranda belakang rumah itulah Arkan duduk seorang diri. Kursi goyang tua tempatnya bersandar berderit pelan setiap kali ia menggeser posisi duduknya. Matanya menatap kosong ke arah kegelapan pekat di luar pagar, tempat bayangan pepohonan berkelebat diterpa cahaya lampu pualam yang mulai redup.
"Sudah malam, Arkan. Kenapa belum tidur?" Suara serak itu datang dari balik pintu geser. Ibu berdiri di sana, memegang secangkir teh jahe hangat yang mengepulkan uap tipis.
Arkan menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan. "Belum mengantuk, Bu. Angin di luar sedang bagus untuk berpikir."
Ibu melangkah mendekat, meletakkan cangkir keramik itu di atas meja kayu kecil di sebelah kursi goyang Arkan. Tangannya yang keriput sempat menyentuh pundak anaknya sejenak, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara malam.
"Pikiranmu selalu saja berkelana terlalu jauh, Nak. Jangan biarkan beban hidup merampas istirahatmu," pesan Ibu dengan nada lembut namun menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.
"Aku hanya sedang merenung, Bu," jawab Arkan pelan, matanya kembali menerawang ke luar. "Tentang banyak hal. Terutama tentang nama yang Ibu dan Ayah berikan kepadaku."
Ibu terdiam, menarik napas panjang sebelum duduk di kursi kayu bersebelahan. "Nama itu adalah doa. Arkan Ar Rimbai. Bukankah itu sebuah kehormatan?"
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum penuh ironi yang nyaris tak terlihat dalam temaram lampu beranda. "Kehormatan? Atau justru sebuah beban yang terlalu berat untuk kupikul sendirian?"
Suasana kembali sunyi. Hanya suara desau angin malam dan derit kursi goyang yang mengisi ruang di antara mereka. Di saat-saat seperti inilah Arkan merasa bahwa namanya bukan sekadar identitas, melainkan sebuah teka-teki besar yang menuntut jawaban, sebuah takdir yang seolah mempermainkan realitas hidupnya yang kini porak-poranda.
❖ ❖ ❖
Arkan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang diterangi cahaya temaram dari dalam rumah. Nama Arkan secara etimologis berarti pilar, fondasi, atau tiang penyangga yang kokoh. Sementara Ar Rimbai adalah marga leluhur yang disematkan untuk menjaga kehormatan tanah pusaka keluarga besar mereka di tepi hutan ini.
Namun, ketika ia melihat kenyataan hidupnya hari ini, arti nama itu terasa bagai sebuah lelucon yang kejam. Alih-alih menjadi pilar yang kokoh bagi keluarganya, Arkan merasa dirinya justru rapuh, nyaris tumbang diterpa badai masalah keuangan dan konflik agraria yang mengancam tanah warisan leluhur mereka.
"Ibu ingat apa arti nama Arkan yang sering Ayah ceritakan dulu?" tanya Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari telapak tangan.
Ibu mengangguk pelan. "Tiang penyangga utama. Seseorang yang diandalkan untuk menopang atap rumah agar tidak runtuh diterpa badai."
"Tepat sekali," balas Arkan dengan suara serak. "Penyangga. Tapi lihatlah sekarang. Atap rumah kita hampir roboh, dindingnya sudah lapuk, dan aku... aku bahkan tidak bisa membayar cicilan utang yang menumpuk di koperasi desa. Di mana letak kekuatanku sebagai seorang pilar?"
"Jangan bicara begitu, Arkan," potong Ibu tegas, meski matanya menyiratkan kepedihan yang sama. "Kekuatan tidak diukur dari seberapa banyak uang yang kau miliki di dompetmu, melainkan dari keteguhan hatimu mempertahankan apa yang benar."
"Tapi dunia tidak berjalan dengan keteguhan hati saja, Bu," sanggah Arkan, nada suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya ia redam kembali. "Dunia menuntut bukti nyata. Surat peringatan dari bank sudah jatuh tempo minggu depan. Kalau aku tidak bisa melunasi separuh dari pinjaman itu, tanah dan rumah ini akan disita oleh perusahaan perkebunan milik Pak Hartawan."
Tujuan Arkan malam ini sebenarnya sederhana namun sangat mendesak: ia harus menemukan cara dalam waktu kurang dari tujuh hari untuk mengumpulkan dana sebesar seratus juta rupiah. Sebuah angka yang fantastis bagi pemuda desa sepertinya yang hanya mengandalkan hasil panen karet yang kian merosot.
"Aku harus pergi ke kota besok pagi," ujar Arkan mantap, memecah keheningan yang sempat tercipta.
Ibu menatapnya dengan kening berkerut cemas. "Ke kota lagi? Untuk apa? Bukankah kemarin kau sudah menemui pamanmu di sana dan hasilnya nihil?"
"Aku tidak akan menemui Paman lagi," jawab Arkan. "Aku akan mendatangi kantor pusat perusahaan Pak Hartawan. Aku akan mengajukan permohonan perpanjangan waktu secara langsung kepada direksinya, atau... aku akan menawarkan proposal kerja sama pengelolaan lahan secara mandiri."
"Apakah kau yakin mereka mau mendengarkan pemuda desa sepertimu?" tanya Ibu ragu. "Mereka adalah para investor besar yang hanya melihat keuntungan, bukan air mata kita."
"Aku harus mencobanya, Bu," kata Arkan penuh keyakinan. "Kalau aku hanya duduk diam di sini menunggu keajaiban, maka aku benar-benar pengingkar nama yang kubawa. Aku adalah Arkan. Sekalipun rapuh, aku harus mencoba berdiri tegak demi Ibu dan kenangan Ayah."
Ibu menghela napas panjang, merelakan keputusan anaknya meski kekhawatiran di hatinya tidak kunjung reda. Ia tahu betul watak Arkan; keras kepala dan pantang menyerah jika menyangkut kehormatan keluarga.
❖ ❖ ❖
Perbincangan malam itu terhenti seiring dengan semakin larutnya waktu. Ibu beranjak masuk ke dalam rumah, meninggalkan cangkir teh yang kini telah mendingin di atas meja. Arkan tetap berada di beranda, membiarkan pikirannya melayang menembus batas malam.
Nama Arkan Ar Rimbai bukanlah nama sembarangan. Ayahnya dulu, sebelum meninggal dunia dua tahun lalu, pernah berpesan panjang lebar di bawah naungan pohon rambai besar di samping rumah. Pesan itu terus bergeming di dalam kepala Arkan setiap kali ia merasa ingin menyerah.
“Dengar, Arkan,” suara Ayah terngiang jelas di telinganya. “Orang boleh meremehkan kita karena kita tinggal di pinggir hutan. Orang boleh menertawakan kemiskinan kita. Tapi selama kau memegang teguh prinsip hidupmu, selama kau menjadi tiang penopang bagi sesama, martabatmu tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang.”
Namun, memegang martabat di tengah himpitan ekonomi ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Harga getah karet turun drastis hingga menyentuh titik terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Di sisi lain, biaya hidup melambung tinggi, dan tawaran pembebasan lahan dari PT Rimbai Sejahtera—perusahaan milik Pak Hartawan—datang bertubi-tubi dengan harga yang sangat murah, seakan sengaja memeras warga yang sedang kesulitan.
Arkan berdiri dari kursi goyangnya. Ia melangkah mendekati pagar beranda, menatap ke arah pohon rambai yang menjulang tinggi di halaman. Batangnya yang kokoh dan akarnya yang menghujam kuat ke dalam tanah tampak siluetnya di bawah cahaya bulan sabit.
"Apakah kau juga merasakan beban yang sama, kawan?" bisik Arkan pada pohon tua itu, seolah benda mati tersebut dapat mendengarnya.
Tiba-tiba, suara derit pintu belakang berderit pelan. Arkan menoleh dan mendapati adiknya, Kirana, keluar membawa selembar selimut tipis. Gadis berusia sembilan belas tahun itu mengenakan jaket rajut kesayangannya.
"Kak, masuklah. Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu," kata Kirana sambil menyampirkan selimut itu ke pundak Arkan.
Arkan tersenyum kecil, menerima perhatian adiknya. "Kakak sedang tidak ingin tidur, Kirana. Pikirannya masih melayang ke rencana besok."
Kirana ikut bersandar di sebelah Arkan, menatap arah pandang kakaknya ke halaman gelap. "Kirana dengar pembicaraan Kakak dan Ibu tadi. Kakak benar-benar mau menemui Pak Hartawan di kota?"
"Ya. Itu satu-satunya jalan tersisa," jawab Arkan tegas.
"Tapi, Kak... orang-orang bilang Pak Hartawan itu orang yang licik," ujar Kirana dengan nada cemas. "Banyak warga desa sebelah yang akhirnya kehilangan tanah mereka setelah dibujuk untuk bekerja sama dengan perusahaannya."
"Kakak bukan warga desa lain yang mudah disetir, Kirana," balas Arkan menenangkan. "Kakak tahu apa yang sedang Kakak pertaruhkan. Tanah ini bukan sekadar aset ekonomi bagi kita. Ini adalah tempat di mana kita dilahirkan, tempat di mana makam Ayah berada."
Kirana menunduk, memainkan ujung jaketnya. "Kalau tanah ini sampai hilang, di mana kita akan tinggal? Apa arti nama keluarga kita kalau tanah peninggalan itu berpindah tangan?"
Pertanyaan Kirana menohok jantung Arkan secara langsung. Itulah inti dari segala kecemasannya. Nama Ar Rimbai melekat erat pada tanah tempat pohon rambai itu tumbuh. Jika tanah itu lepas, maka identitas mereka sebagai penjaga hutan adat akan musnah seketika.
"Karena itulah Kakak harus pergi besok," ucap Arkan penuh tekad. "Apapun hasilnya, Kakak akan berjuang sampai titik darah penghabisan."
Malam semakin larut, membawa embun dingin yang kian menusuk tulang. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing, menyatukan tekad di tengah sunyinya malam beranda Rumah Kayu Arimbai.