Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Tawaran Kerja Sama Berisiko

Tawaran Kerja Sama Berisiko dari Pesaing Lama Bengkel Keluarga---

Matahari sore baru saja condong ke barat, memantulkan bias jingga keemasan yang menembus celah-celah genting kaca Bengkel Jaya Abadi. Pukul 15.15 WIB, udara di dalam bangunan seluas dua belas kali sepuluh meter itu terasa hangat, bercampur dengan aroma oli baru dan pembersih logam yang disemprotkan Soni ke sudut-sudut mesin. Garis polisi dan pita kuning penyitaan telah lama dicabut sejak minggu lalu, digantikan oleh kesibukan luar biasa yang membuat tempat itu kembali bernyawa.

Di sudut timur bengkel, kerangka mobil sport klasik milik Pak Broto tampak gagah di atas dongkrak hidrolik baru. Cahaya lampu sorot menyoroti setiap detail bodi yang sedang diamplas halus oleh Soni. Sementara itu, Arkan berdiri di depan meja kerjanya yang kini tertata rapi, sibuk memeriksa lembar demi lembar jadwal pengerjaan proyek serta daftar pesanan suku cadang impor yang baru saja tiba dari pelabuhan. Keadaan bengkel perlahan pulih dari krisis, namun tekanan mental dan fisik justru semakin meningkat seiring tenggat waktu pameran yang kian mendekat.

"Ar, air radiator cadangan sudah habis. Sisa dua liter lagi di gudang belakang," seru Soni dari balik kap mobil, suaranya sedikit meninggi untuk mengatasi deru kipas angin tua di sudut ruangan.

"Biar aku ambilkan nanti, Son. Sebentar lagi, selesaikan dulu bagian filter udaranya," jawab Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet kalkulasi anggaran.

Tiba-tiba, suara deru knalpot mobil sedan Eropa berkapasitas mesin besar memecah keheningan pelataran bengkel. Mobil sedan hitam mengkilap berplat nomor khusus itu berhenti tepat di depan pintu gulung yang terbuka lebar. Soni dan Arkan sama-sama menghentikan aktivitas mereka, menatap kendaraan mewah yang tampak sangat asing bagi kawasan industri pinggiran tersebut.

Pintu mobil terbuka perlahan. Sesosok pria paruh baya berjas abu-abu kelimis dengan potongan rambut klimis keluar dari dalam kendaraan. Ia membetulkan letak kacamatanya yang berbingkai emas, lalu melangkah masuk ke dalam bengkel dengan senyum penuh perhitungan yang tampak begitu dibuat-buat.

"Wah, luar biasa. Bengkel tua peninggalan almarhum Pak Joko ini sekarang benar-benar kedatangan tamu sultan, ya?" suara bariton yang licin dan penuh sindiran itu menggema di ruangan bengkel.

Arkan mengerutkan keningnya, menatap lekat-lekat pria yang berdiri di hadapannya. Ia mengenali wajah itu seketika. Itu adalah Handoko, pemilik "Bengkel Sentosa Motor", pesaing bisnis tertua dan paling ambisius di distrik ini yang dulu pernah mencoba merampas tanah warisan keluarga mereka.

"Ada perlu apa Anda datang ke sini, Handoko?" tanya Arkan dingin, nada suaranya langsung berubah kaku begitu mengenali sosok di depannya.

❖ ❖ ❖

Handoko tidak langsung menjawab pertanyaan Arkan. Ia berjalan santai menyusuri bengkel, menyentuh pelan spatbor mobil sport klasik Pak Broto dengan ujung jarinya yang mengenakan cincin batu akik mahal, seolah-olah sedang meneliti barang dagangan di pasar swalayan.

"Jangan galak-galak begitu, Arkan. Aku datang bukan sebagai musuh lamamu," kata Handoko dengan senyum sinis yang masih melekat di bibirnya. "Aku datang sebagai sesama pengusaha otomotif senior yang merasa kasihan melihat dua anak muda pontang-panting mengurus proyek raksasa di tempat kumuh dan kekurangan fasilitas seperti ini."

Arkan melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Handoko untuk menghalangi pria itu menyentuh lebih jauh mobil kliennya. "Bengkel kami bukan tempat umum untuk berpariwara. Kalau urusanmu hanya ingin mengejek atau meremehkan tempat ini, silakan keluar dari pintu yang sama saat kamu masuk tadi."

Handoko tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar dan merendahkan. "Anak muda memang selalu penuh emosi dan miskin perhitungan. Dengar, Arkan, aku tahu persis kondisi keuanganmu. Meskipun kamu baru saja mendapat uang muka dari Pak Broto, biaya restorasi mobil sport langka itu tidak sedikit. Belum lagi peralatan bubut kalian yang kemarin hampir disita bank. Apakah kamu yakin modal kalian cukup sampai akhir?"

Soni yang sejak tadi berdiri di dekat kap mesin meletakkan kunci pas di tangannya dengan kasar, lalu ikut mendekat. "Urus saja bengkel raksasamu sendiri, Handoko! Kami tidak butuh belas kasihan atau ceramah gratis darimu!"

Handoko melirik Soni sekilas dengan tatapan meremehkan, lalu kembali menatap Arkan lekat-lekat. "Aku tidak sedang memberi belas kasihan, Soni. Aku sedang menawarkan sebuah peluang emas yang bisa menyelamatkan kalian berdua dari kebangkrutan total yang pasti akan terjadi minggu depan."

Arkan menatap tajam ke dalam mata Handoko, mencoba membaca motif tersembunyi di balik senyum ramah yang tampak palsu itu. "Peluang apa yang kamu maksud? Katakan langsung ke intinya tanpa perlu bertele-tele."

"Aku ingin kita bekerja sama," ujar Handoko dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Alih-alih kalian bersusah payah merestorasi mobil Pak Broto seorang diri dengan peralatan yang pas-pasan, lebih baik limpahkan proyek itu sepenuhnya ke Bengkel Sentosa Motor."

Mendengar ucapan tersebut, Soni langsung membelalakkan mata dan hampir berteriak, "Kau sudah gila, ya?! Jelas-jelas itu proyek kami!"

"Dengarkan dulu tawaranku sampai selesai, anak muda," potong Handoko cepat, mengangkat telapak tangannya. "Jika kalian menyerahkan proyek Pak Broto padaku, aku akan membayar kalian kompensasi tunai sebesar lima puluh juta rupiah hari ini juga. Kalian bisa melunasi sisa utang bank, membagi rata keuntungannya, dan beristirahat tenang tanpa harus stres memikirkan tenggat waktu tiga pekan yang mustahil itu."

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam bengkel mendadak menjadi sangat senyap. Tawaran Handoko menggantung di udara, menciptakan getaran ketegangan yang pekat antara aroma oli dan debu besi. Arkan tidak langsung menjawab. Ia terdiam sesaat, memikirkan betapa menggiurkannya angka lima puluh juta rupiah tunai di tengah tekanan mental yang sedang ia hadapi akhir-akhir ini.

"Lima puluh juta rupiah..." ucap Soni lirih, setengah berbisik pada dirinya sendiri, seolah terhipnotis oleh nominal uang yang disebutkan oleh pesaing licik tersebut.

Handoko yang melihat reaksi ragu-ragu dari Soni segera memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan psikologis berikutnya. Ia merapatkan posisinya, berbicara dengan nada membujuk yang terdengar seperti racun manis.

"Pikirkan baik-baik, Arkan," bisik Handoko penuh keyakinan. "Kalian itu hanya dua orang montir kecil. Pak Broto adalah klien elit yang sangat perfeksionis. Kalau sedikit saja ada baut yang longgar atau cat yang kurang rata pada mobil itu di hari pameran, bukan cuma nama bengkel kalian yang hancur berkeping-keping, tapi kalian juga harus mengganti rugi senilai miliaran rupiah kepada beliau."

Arkan tetap berdiri tegak dengan tatapan lurus, meskipun ada suara-suara kecil di dalam kepalanya yang mulai mempertanyakan kemampuan mereka sendiri. "Kenapa kamu tiba-tiba begitu baik menawarkan kerja sama, Handoko? Padahal dulu, ayahku dan kamu adalah musuh bebuyutan dalam setiap tender perbaikan armada truk pemerintah."

Handoko tersenyum tipis, menyembunyikan kilatan licik di matanya. "Bisnis adalah bisnis, Arkan. Dendam masa lalu tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan bulanan. Aku melihat potensi publisitas yang bagus jika Bengkel Sentosa Motor ikut memegang restorasi mobil koleksi Pak Broto. Itu saja alasannya."

"Alasanmu terlalu manis untuk dipercaya," balas Arkan dengan suara datar namun penuh penekanan. "Kamu tidak pernah peduli pada publisitas semata. Kamu pasti mengincar sesuatu yang lebih besar dari sekadar mobil itu."

Handoko mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Terserah apa anggapanmu, anak muda. Yang jelas, tawaranku ini memiliki batas waktu. Begitu aku melangkah keluar dari bengkel kumuh ini dan masuk ke mobilku, tawaran lima puluh juta rupiah itu lenyap selamanya."

Soni menoleh ke arah Arkan, menarik lengan jaket sahabatnya itu pelan. "Ar... bagaimana kalau dia benar? Waktu kita tinggal dua pekan lagi, dan kita masih kekurangan suku cadang bagian transmisi. Kalau kita gagal memenuhi syarat Pak Broto, kita benar-benar hancur total tanpa sisa."

Arkan menatap Soni dengan pandangan tajam, mengisyaratkan agar sahabatnya itu tidak mudah goyah oleh rayuan sesaat. "Jangan bodoh, Son. Menyerahkan proyek ini kepada Handoko sama saja dengan menjual harga diri almarhum ayah kita kepada musuh yang dulu hampir merampas tempat ini."

Handoko melirik arloji mewahnya, lalu tersenyum dingin. "Waktu berpikir kalian tinggal satu menit, Arkan. Keputusan ada di tanganmu: ambil uang tunainya sekarang dan hidup tenang, atau pertahankan gengsimu yang konyol itu dan hancur lebur di tangan Pak Broto."

❖ ❖ ❖

Tekanan di dalam ruangan semakin menghimpit dada Arkan. Di satu sisi, ada rasa lelah yang luar biasa setelah berminggu-minggu kurang tidur dan bergelut dengan masalah finansial. Di sisi lain, ada janji suci yang telah ia ikrarkan di depan makam sang ayah: untuk mempertahankan Bengkel Jaya Abadi dan membuktikan bahwa integritas jauh lebih berharga daripada uang suap.

"Jawaban saya tetap sama, Handoko," kata Arkan dengan suara tegas yang memecah keheningan sore itu. "Kami menolak tawaran kerja samamu."

Handoko mengerutkan keningnya, senyum sinis di wajahnya perlahan memudar digantikan oleh ekspresi ketus. "Kamu menolak? Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu, pemuda bodoh? Kamu lebih memilih bangkrut daripada menerima uang tunai yang bisa menyelamatkan hidupmu?"

"Ini bukan soal uang atau gengsi, Handoko," balas Arkan melangkah maju selangkah lagi, menatap mata pria paruh baya itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Ini soal kepercayaan. Pak Broto memberikan proyek ini kepada Bengkel Jaya Abadi, bukan kepada Bengkel Sentosa Motor. Aku tidak akan pernah mengkhianati klien yang sudah mempercayakan karya seni mendiang ayahku."

Handoko mendengus keras, tawanya kini terdengar penuh ancaman dan kebencian yang nyata. "Wah, wah... rupanya jiwa pahlawan kesiangan almarhum ayahmu menurun deras ke dalam darahmu, ya? Baiklah! Ingat kata-kataku ini, Arkan."

Pria berjas kelimis itu menunjuk tepat ke wajah Arkan dengan jari telunjuknya. "Jangan menyesal kalau minggu depan bengkel ini bukan lagi milikmu. Aku akan memastikan Pak Broto menarik kembali seluruh kontraknya begitu beliau tahu bahwa kalian tidak kompeten menyelesaikan restorasi itu tepat waktu!"

Lihat selengkapnya