Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Arkan Membuat Keputusan Salah

Arkan Membuat Keputusan Salah karena Panik dan Takut Mengambil Risiko.

Jam dinding antik di sudut ruang kerja sempit Arkan menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima malam. Udara malam di luar jendela apartemen tipe studio berukuran tiga kali empat meter itu terasa begitu pekat, membawa hawa dingin dari terpaan angin sisa hujan sore tadi. Lampu meja belajar berwama kuning temaram menyinari tumpukan kertas buram, catatan investigasi digital, serta secangkir kopi hitam yang kini telah mendingin tanpa tersentuh. Di ruangan yang dipenuhi bau kertas tua dan kepulan asap rokok kretek kreasi sendiri itu, Arkan duduk bersandar gelisah di kursi plastik yang berdecit setiap kali ia menggeser posisi duduknya.

Jantungnya berdegup kencang, memompa darah dengan kecepatan abnormal ke seluruh tubuh, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di dalam rongga dadanya. Tangannya yang memegang ponsel pintar berlayar retak bergetar hebat. Di layar kecil itu, sebuah pesan singkat dari sang klien misterius masih menyala terang, seolah mengejek keragu-raguan yang sedang melumpuhkan akal sehatnya. Tenggat waktu untuk memberikan keputusan semakin mendekati batas akhir, sementara kepalanya terasa sangat pusing akibat kurang tidur selama tiga hari berturut-turut.

"Sial... kenapa jadi serumit ini?" gumam Arkan pelan, suaranya parau nyaris tak terdengar di tengah kesunyian malam yang mencekam.

Ia memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut nyeri. Di kamar mandi kecil di sebelah ruang kerjanya, suara tetesan air dari keran yang tidak rapat terdengar berirama monoton, menambah kegelisahan mental yang sudah berada di ambang batas toleransi. Arkan bukanlah seorang pahlawan bertopeng; ia hanyalah seorang penulis lepas biasa yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan kemiskinan dan ketidakpastian esok hari.

Bagi Arkan, malam ini adalah malam penentuan hidup atau mati secara finansial dan profesional. Pesan investigasi rahasia yang ia terima beberapa hari lalu—yang menjanjikan bayaran besar untuk membongkar sindikat korupsi kaum elit—seharusnya menjadi jalan keluar dari keterpurukan hidupnya. Namun, alih-alih merasa tertantang, Arkan justru merasakan ketakutan yang melumpuhkan sekujur tubuhnya.

❖ ❖ ❖

Sebenarnya, tujuan utama Arkan malam ini sangatlah sederhana dan manusiawi: ia hanya ingin merasa aman. Di usianya yang menginjak kepala tiga, impian-impian masa muda tentang mengubah dunia melalui tulisan tajam dan investigasi mendalam telah lama terkikis oleh kenyataan pahit tagihan sewa apartemen yang menunggak dua bulan dan ancaman pemutusan sambungan listrik dari PLN.

Arkan berdiri dari kursinya, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu dengan langkah gontai. Ia melirik tumpukan dokumen rahasia berkop hitam di atas tempat tidur lipatnya—dokumen berisi aliran dana fiktif dan dokumen tanah ilegal milik para pejabat tinggi yang dikirimkan oleh sang klien misterius kemarin sore.

"Aku harus realistis," bisik Arkan pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan nuraninya yang terus berontak. "Kalau aku nekat mengambil proyek investigasi ini dan menulis laporannya, nyawa taruhannya. Orang-orang berdasi itu punya kekuasaan, punya preman, punya jaringan hukum. Mereka bisa melenyapkanku dalam semalam tanpa jejak."

Tujuan Arkan malam ini bukanlah mencari kebenaran mutlak atau menjadi pahlawan bagi masyarakat tertindas. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan diri sendiri dari potensi bencana besar yang mengancam keselamatan fisiknya. Selama berminggu-minggu, ia bermimpi bisa keluar dari lingkaran kemiskinan, namun ketika kesempatan itu datang dalam bentuk durian runtuh yang mematikan, ia mendadak ciut.

Ia ingin hidup tenang. Ia ingin bisa memesan makanan tanpa harus menghitung sisa koin di dompetnya. Namun, harga yang harus dibayar untuk mendapatkan keamanan itu terasa terlalu mahal bagi seorang pria penakut seperti dirinya.

"Bagaimana kalau mereka melacak keberadaanku lewat nomor HP ini?" seru Arkan panik, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan erat. "Aku tidak punya perlindungan apa-apa. Polisi pun tidak bisa diandalkan kalau sudah berurusan dengan orang-orang kuat itu."

Ketakutan itu merayap naik, mengubah tujuannya dari yang tadinya ingin mencari keadilan menjadi bagaimana cara menyelamatkan diri secepat mungkin sebelum terlambat.

❖ ❖ ❖

Pergolakan batin itu mencapai puncaknya ketika dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan malam. Suara getaran perangkat elektronik di atas meja kayu berpadu dengan bunyi derit kursi plastik menciptakan melodi kecemasan yang sempurna. Arkan terlonjak kaget, menatap layar ponsel dengan ngeri seolah-olah benda kecil itu adalah seekor ular berbisa yang siap mematuk kapan saja.

Di layar tertera panggilan masuk dari nomor pribadi tanpa nama. Itu pasti sang klien misterius yang menagih keputusan akhir apakah Arkan akan menandatangani kontrak kerja sama investigasi berbahaya tersebut atau menolaknya mentah-mentah.

Arkan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, seolah tersangkut serpihan kaca tajam. Ia mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu menyentuh tombol hijau di layar, lalu menariknya kembali seolah tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Panggilan itu terus berdering tanpa henti, menciptakan gelombang teror psikologis yang luar biasa kuat di dalam benaknya.

"Angkat atau matikan? Angkat atau matikan?" Arkan bergumam panik, mondar-mandir semakin cepat di antara meja dan tempat tidur sempitnya.

Pikirannya melayang kembali pada masa-masa ketika ia masih idealis, masa di mana ia percaya bahwa pena lebih tajam daripada pedang. Namun, di dunia nyata yang kejam ini, pedang terbukti jauh lebih cepat memenggal kepala sebelum pena sempat menorehkan tinta pertamanya di atas kertas. Pengalaman masa lalunya yang sering diremehkan oleh teman-teman suksesnya—seperti Bagas—kembali berkelebat, menciptakan rasa rendah diri akut yang melemahkan mentalnya.

"Aku bukan jurnalis investigasi profesional yang dilindungi lembaga pers besar," ucap Arkan dengan suara bergetar lemah, mencoba mencari pembenaran atas kepengecutannya sendiri. "Aku cuma penulis lepas yang numpang hidup di pinggiran kota. Kalau aku mati, tidak ada yang akan menangisiku kecuali pemilik kontrakan yang menagih sewa."

Dengan tangan gemetar hebat, Arkan akhirnya meraih ponsel tersebut tepat pada deringan terakhir sebelum panggilan itu terputus otomatis oleh sistem mesin penjawab.

Lihat selengkapnya