Arkan menangis di sudut bengkel yang gelap gulita
Jam dinding antik berbandul kayu di sudut ruangan menunjukkan pukul 02.15 WIB, dini hari yang merangkak lambat dalam dekapan kebisuan malam yang pekat. Suhu udara di dalam bengkel tua milik keluarga Arkan terasa begitu menusuk tulang, membawa serta uap lembap dari tanah berlantai semen kasar yang tidak pernah tersentuh keramik. Di luar, rintik hujan gerimis menyapu atap seng berkarat, menciptakan bunyi ketukan konstan yang terdengar seperti ribuan jarum kecil menghunjam permukaan logam. Bau pekat oli bekas, solar, karat besi, dan karet ban terbakar menguar memenuhi setiap jengkal udara, menyatu menjadi aroma khas tempat di mana Arkan menghabiskan sebagian besar masa mudanya dalam cengkeraman kelelahan yang tiada bertepi.
Arkan duduk meringkuk di sudut ruangan paling gelap, tepat di balik tumpukan ban truk bekas yang disusun menjulang tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit berdebu. Tubuhnya yang kurus gemetar hebat bukan hanya karena dinginnya angin malam yang menyusup melalui celah-celah papan pintu kayu yang sudah rapuh, melainkan karena guncangan batin yang luar biasa hebat. Tidak ada penerangan di sudut itu, kecuali seberkas cahaya kuning temaram dari lampu neon jalanan di luar yang lolos melalui lubang ventilasi kecil, membentuk garis tipis yang menyinari genangan oli di lantai. Di tempat inilah, jauh dari pandangan ibu yang sedang menjaga bapak di rumah sakit dan jauh dari sorot mata dunia yang menuntutnya untuk selalu kuat, pertahanan terakhir Arkan akhirnya runtuh berkeping-keping tanpa sisa.
"Kenapa harus begini..." bisik Arkan pelan, suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tenggelam oleh suara rintihan hujan di luar.
Tangannya yang kasar dan kotor oleh noda hitam oli mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata. Selama berminggu-minggu, sejak malam di mana bapak mendadak ambruk akibat serangan jantung, Arkan selalu berusaha memasang topeng ketegaran di hadapan adik-adiknya. Ia memikul tanggung jawab ganda: menjaga bengkel peninggalan bapak agar tetap mengepulkan asap dapur, sekaligus mengurus biaya administrasi rumah sakit yang terus membengkak setiap harinya. Namun, pada dini hari yang sunyi ini, beban itu terasa begitu kejam menghimpit dadanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca yang merobek dada bagian dalam.
❖ ❖ ❖
Tujuan awal Arkan malam ini sebenarnya sangat sederhana dan pragmatis: menyelesaikan perbaikan mesin diesel truk engkel milik Pak Marto yang harus selesai sebelum fajar menyingsing pukul enam pagi nanti. Upah dari perbaikan tersebut adalah satu-satunya harapan tersisa untuk melunasi cicilan obat resep dokter sore tadi yang tidak ditanggung oleh BPJS, serta membeli sekantong beras untuk persediaan makan Rini dan adik-adiknya di rumah selama beberapa hari ke depan. Tanpa uang muka dari Pak Marto senilai lima ratus ribu rupiah itu, kas keluarga benar-benar sudah berada di angka nol, bahkan minus karena utang di warung sembako sebelah telah menumpuk.
Arkan bangkit dengan susah payah dari lantai dingin, merangkak mendekati meja kerjanya yang berantakan oleh berserakannya kunci-kunci pas, obeng, dan baut berkarat. Matanya yang merah dan perih menatap lurus ke arah mesin diesel yang terbujur kaku di tengah ruangan, setengah dibongkar dengan komponen silinder kop yang bergelimpangan. Targetnya jelas: merakit kembali komponen berat itu, menyetel klepnya dengan presisi tinggi, dan memastikan mesin dapat dinyalakan kembali dengan sempurna sebelum matahari terbit.
"Aku harus bisa menyelesaikannya malam ini juga," gumam Arkan meyakinkan dirinya sendiri, meskipun otot-otot lengannya sudah terasa kaku dan mati rasa akibat bekerja tanpa henti sejak kemarin pagi.
Ia mengambil kunci ring pas ukuran sembilan belas, lalu kembali berlutut di samping mesin diesel yang dingin. Tangannya yang gemetar berusaha mengencangkan mur pengikat kepala silinder. Namun, karena kelelahan yang sudah mencapai batas maksimal, cengkeraman jarinya tergelincir. Kunci pas itu membentur blok mesin dengan suara dentingan keras yang memecah keheningan bengkel, sementara buku-buku jari Arkan membentur sudut besi tajam hingga berdarah.
"Sial!" teriak Arkan frustrasi, memukul lantai semen dengan kepalan tangannya yang bebas. Rasa sakit fisik di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya yang kian menyesakkan. Kegagalan kecil itu seolah menjadi simbol dari kerapuhan hidupnya saat ini—bahwa ketika ia mencoba bertahan, segala sesuatunya justru semakin berantakan di hadapannya.
❖ ❖ ❖
Suara dentingan besi yang membentur lantai tadi bergema sejenak di dalam ruangan yang luas itu, lalu perlahan sirna, menyisakan kembali keheningan malam yang terasa semakin mencekam. Arkan terdiam membisu di samping mesin diesel, menatap tetesan darah segar yang mengalir pelan dari buku jarinya yang terluka, bercampur dengan noda hitam oli di lantai semen. Darah itu tampak kontras di bawah temaram cahaya lampu jalanan, menjadi saksi bisu atas betapa rapuhnya tubuh manusia di hadapan roda nasib yang berputar tanpa kenal ampun.
Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah dan keputusasaan yang sempat meledak sesaat lalu. Perlahan, ia merogoh kantong celana jeansnya yang kotor, mengeluarkan sehelai kain majun bekas yang sudah dekil untuk membebat lukanya sendiri. Tidak ada plester obat, tidak ada antiseptik mewah; di bengkel ini, kain majun dan air keran adalah satu-satunya obat P3K yang ia miliki sejak kecil.
Pikiran Arkan kemudian melayang jauh meninggalkan tumpukan besi tua di sekitarnya. Ia teringat percakapannya dengan dokter spesialis jantung di rumah sakit siang tadi. Sang dokter mengatakan bahwa bapak memerlukan tindakan pemasangan ring pembuluh darah segera, dan biaya yang harus disetorkan sebagai uang muka operasi mencapai belasan juta rupiah. Jumlah yang sangat fantastis bagi keluarga mereka yang untuk makan sehari-hari saja harus berutang. Beasiswa kuliah di luar kota yang sempat ia perjuangkan dengan cucuran air mata beberapa waktu lalu kini telah sepenuhnya terkubur, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa dirinya adalah kepala keluarga pengganti yang harus membanting tulang di bengkel kumuh ini sampai punggungnya membungkuk permanen.
"Apakah hidupku hanya akan berputar di antara oli, mesin rusak, dan utang?" batin Arkan bertanya dalam keheningan transisi malam itu.
Ia menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul samar pada permukaan tangki solar yang mengkilap. Sosok di dalam pantulan itu tampak asing—mata cekung dikelilingi lingkaran hitam, rambut acak-acakan penuh debu bengkel, dan tatapan mata yang kehilangan seluruh binar masa mudanya. Ruangan bengkel yang tadinya terasa sebagai tempat perlindungan kini berubah wujud menjadi sangkar besi raksasa yang mengurung seluruh impian dan masa depannya tanpa ada celah untuk melarikan diri barang sedetik pun.
❖ ❖ ❖
Ujian kesabaran Arkan kembali diuji ketika ia mencoba melanjutkan pekerjaannya memasang baut manifold knalpot yang posisinya sangat sulit dijangkau dari sudut bawah mesin. Ruang gerak yang sempit membuatnya harus berbaring telentang di atas lantai semen yang dingin, dengan kepala mendongak ke atas dan kedua tangan meraba-raba dalam kegelapan komponen mesin.
"Aduh..." rintih Arkan ketika bahunya terbentur sudut sasis truk yang tajam.
Belum sempat ia meredakan rasa sakit di bahunya, tiba-tiba terdengar suara letupan kecil disusul bau sengit dari arah instalasi kabel listrik di dinding bengkel. Seketika itu juga, seluruh lampu neon temaram di dalam bengkel padam total, meninggalkan ruangan dalam kegelapan gulita yang pekat tanpa ada satupun celah cahaya yang tersisa. Hujan di luar mendadak turun semakin lebat, disertai suara gemuruh petir yang menggelegar dahsyat di langit malam Bandar Lampung, mematikan aliran listrik PLN secara total di seluruh kawasan sekitar bengkel.
"Ya Tuhan... Kenapa harus sekarang?" keluh Arkan dengan suara gemetar di tengah kegelapan total.