Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Penemuan kotak tua

Penemuan kotak tua peninggalan sang ayah yang berisi jurnal refleksi diri.

Malam kian larut di bawah naungan langit Desa Rimbai yang bertabur bintang tipis, menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat malam. Udara dingin pegunungan merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah, membawa aroma khas getah karet tua dan kelembapan tanah humus yang menenangkan.

Di dalam kamar tidurnya yang sempit, Arkan masih terjaga. Lampu minyak bercahaya kuning temaram memantulkan bayangan tubuhnya di dinding papan yang mulai mengelupas. Suara detak jam dinding tua di ruang sebelah terdengar monoton, mengiringi keheningan malam yang terasa begitu khidmat.

Hari-hari belakangan ini telah menguras seluruh tenaga fisik dan mentalnya. Ancaman dari pihak PT Rimbai Sejahtera, perjalanan melelahkan ke balai desa, hingga beban moral menjaga tanah warisan leluhur membuat pundaknya terasa kian berat. Namun, malam ini ada keheningan lain yang menyelimuti pikirannya—sebuah dorongan aneh yang menuntunya untuk merapikan gudang kecil di sudut belakang rumah.

"Belum tidur juga, Kak?" suara Kirana menyelinap dari balik pintu kamar yang terbuka setengah. Gadis itu berdiri dengan mengenakan selimut tipis yang melingkar di pundaknya, menatap cemas ke arah Arkan yang sedang merapikan tumpukan kardus tua.

Arkan mendongak, tersenyum tipis untuk menenangkan adiknya. "Belum, Kirana. Kakak hanya merasa ada sesuatu yang tertinggal di ruangan ini. Sesuatu yang mungkin bisa membantu kita memahami situasi ini lebih baik."

"Ruangan itu penuh debu dan barang-barang peninggalan Ayah yang sudah lama tidak disentuh," kata Kirana, melangkah masuk perlahan. "Jangan terlalu memforsir diri, Kak. Istirahatlah."

"Sebentar lagi, Kirana. Pergilah tidur duluan. Kakak akan menyusul sebentar lagi," balas Arkan lembut.

Kirana mengangguk ragu, lalu meninggalkan kakaknya seorang diri di tengah tumpukan barang antik. Arkan kembali fokus pada sebuah lemari kayu jati berukuran sedang yang terletak di sudut paling gelap gudang tersebut. Lemari itu sudah bertahun-tahun terkunci rapat, menyimpan memori masa kecil yang dijaga ketat oleh waktu. Dengan menggunakan sebatang besi kecil yang ia temukan di dekat meja kerja, Arkan mencoba mencongkel ganti gemboknya yang berkarat.

Klek.

Suara logam berkarat itu berdenting pelan, memecah kesunyian malam ketika gembok tua tersebut akhirnya terbuka. Arkan menarik napas dalam-dalam, bersiap menyambut rahasia masa lalu yang tersimpan di dalamnya.

❖ ❖ ❖

Arkan membuka pintu lemari tua itu perlahan-lahan. Debu tipis berterbangan tersiram cahaya lampu minyak, menciptakan pendaran kecil di udara. Di dalam lemari tersebut, tersusun rapi beberapa helai pakaian lama milik ayahnya yang masih menyisakan aroma khas tembakau tua, beberapa buku catatan pertanian, dan sebuah kotak kayu berukuran sedang yang terkunci dengan ukiran khas suku lokal di bagian tutupnya.

Jantung Arkan berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu persis kotak apa itu. Semasa hidupnya, sang ayah—Pak Rimbai—sangat menjaga kotak tersebut dan melarang siapapun membukanya sembarangan sebelum waktu yang tepat tiba.

"Apa isi sebenarnya di dalam kotak ini, Ayah?" gumam Arkan pelan, tangannya meraba permukaan kayu yang terasa dingin namun kokoh.

Tujuan Arkan malam ini bukan lagi sekadar mencari dokumen hukum atau cara melunasi utang finansial secara instan. Lebih dari itu, ia sedang mencari pegangan batin. Di tengah badai tekanan eksternal yang nyaris meruntuhkan semangat hidupnya, Arkan membutuhkan petuah spiritual dan kebijaksanaan dari sosok yang paling ia hormati: ayahnya sendiri. Ia ingin tahu bagaimana dulu sang ayah menghadapi tekanan serupa ketika perusahaan-perusahaan besar mulai mengincar tanah adat ini puluhan tahun silam.

Arkan mengangkat kotak kayu itu keluar dari dalam lemari, lalu membawanya ke meja kecil di kamar tidurnya. Ia duduk bersila di atas lantai papan yang dingin, menempatkan kotak tersebut tepat di hadapannya.

"Jika Ayah ada di sini sekarang, apa yang akan Ayah lakukan menghadapi Pak Hartawan?" bisik Arkan pada udara kosong, menatap ukiran kayu di kotak itu dengan penuh harap.

Tanpa kunci fisik yang pas, Arkan memperhatikan mekanisme gembok kayu kotak tersebut. Ayahnya dulu pernah memberinya teka-teki masa kecil tentang kombinasi angka leluhur yang merujuk pada tahun penanaman pohon rambai pertama di halaman rumah mereka.

1974.

Arkan memutar tombol kecil di sisi kotak sesuai angka tersebut. Dengan sekali klik halus, penutup kotak kayu itu terbuka secara otomatis. Sembburat aroma kayu manis dan kertas tua langsung menguap ke udara kamar.

Di dalam kotak itu, tidak ada emas atau harta berharga. Yang ada hanyalah tumpukan kertas catatan yang dijilid rapi dengan benang wol tebal, sebuah pena bulu tua, dan sebuah amplop tebal berwarna kusam yang ditujukan khusus dengan tulisan tangan rapi: Untuk Arkan, kelak ketika badai datang.

Arkan menelan ludah kering di tenggorokannya. Tangannya sedikit bergetar ketika ia mengambil amplop tersebut dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.

❖ ❖ ❖

Mata Arkan terpaku pada tulisan tangan ayahnya di amplop kusam itu. Setiap goresan hurufnya begitu tegas, mencerminkan karakter almarhum yang dikenal gigih, tenang, dan tidak pernah gentar menghadapi intimidasi sebesar apapun.

Ia membuka amplop itu perlahan, mengeluarkan selembar surat berukuran folio yang ditulis dengan tinta hitam pekat. Di bawah surat tersebut, terdapat sebuah buku catatan tebal bersampul kulit imitasi hitam yang ternyata adalah jurnal pribadi sang ayah selama bertahun-tahun mengelola tanah ulayat marga Ar Rimbai.

"Ayah... kau sudah menduga hal ini akan terjadi sejak lama, ya?" gumam Arkan lirih, matanya mulai berkaca-kaca membaca baris pertama surat tersebut.

“Anakku, Arkan,” begitu bunyi awal surat itu. “Jika kau membaca surat ini, itu artinya badai besar yang Ayah khawatirkan telah benar-benar tiba di pintu rumah kita. Orang-orang berdasi dari kota akan datang membawa janji-janji manis sekaligus ancaman kejam demi merampas tanah tempat kita berpijak. Jangan takut, Nak. Karena ketakutan adalah awal dari kekalahan.”

Arkan menarik napas panjang, meresapi setiap kata yang tertulis di atas kertas tua itu. Surat tersebut tidak hanya berisi nasihat moral, melainkan juga peta jalan batin bagaimana seorang lelaki harus berdiri tegak di tengah kehancuran ekonomi dan sosial.

Ia meletakkan surat itu sejenak, lalu membuka jurnal refleksi diri ayahnya. Halaman demi halaman dibaliknya dengan hati-hati. Jurnal itu bukan sekadar catatan tentang cuaca, hasil panen karet, atau siklus musim hujan. Jurnal tersebut adalah sebuah catatan jiwa—kumpulan permenungan mendalam tentang arti ketulusan, kesabaran, dan makna filosofis dari nama besar yang mereka sandang.

“Nama Arkan Ar Rimbai bukan sekadar identitas turun-temurun,” tulis sang ayah dalam salah satu halaman jurnal bertanggal 12 Oktober 2005. “Ia adalah sumpah kepada bumi. Pohon rambai tidak pernah protes ketika angin badai mencabut daun-daunnya, karena akarnya menghujam jauh ke dalam pusat bumi, mencari sumber kekuatan yang tidak terlihat oleh mata manusia.”

Arkan merasa seolah-olah sang ayah sedang duduk tepat di hadapannya, berbicara langsung menembus ruang dan waktu. Segala keputusasaan yang sempat merayap di hatinya saat berada di taman kota beberapa hari lalu mendadak tersapu bersih oleh gelombang ketenangan baru.

Ia menyadari bahwa perjuangannya selama ini terlalu fokus pada angka-angka di atas kertas—tentang uang seratus juta rupiah, tentang sertifikat bank, dan tentang ancaman fisik dari utusan Pak Hartawan. Ia lupa bahwa kekuatan sejati seorang manusia terletak pada keteguhan prinsip moralnya.

"Aku mengerti sekarang, Ayah," bisik Arkan pada malam yang semakin larut. "Aku tidak boleh bertarung dengan cara mereka. Aku harus bertarung dengan cara kita."

❖ ❖ ❖

Matahari pagi menyinari pekarangan Rumah Kayu Arimbai dengan kehangatan yang kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di desa. Hari kelima dari batas waktu tujuh hari yang diberikan Pak Hartawan telah tiba. Waktu berjalan begitu cepat, dan tekanan dari lingkungan sekitar semakin menjadi-jadi.

Lihat selengkapnya