Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Memulai Ritual Malam

Memulai Ritual Malam: Menuliskan Jujur Apa Saja Kesalahan Masa Lalu Tanpa Menyalahkan Takdir---

Jam dinding kayu berukuran sedang di ruang tamu mungil itu menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam. Suasana di luar rumah terasa begitu senyap, hanya menyisakan suara gerik jangkrik sesekali dari halaman kecil dan desau angin malam akhir Agustus yang menerpa dedaunan mangga. Di dalam kamar tidurnya yang berukuran tiga setengah meter persegi, Arkan duduk bersila di atas lantai kayu vinil yang dingin. Lampu tidur berwarna kuning amber memancarkan pendar lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding putih kamar tersebut. Di hadapannya terbentang sebuah buku catatan bersampul kulit sintetis hitam polos dan sebatang pena tinta hitam yang siap ditorehkan.

"Huh..." Arkan menghela napas panjang, membiarkan udara hangat keluar dari rongga dadanya untuk meredakan ketegangan yang sempat menyelimuti hari-harinya.

Udara malam ini terasa jauh lebih bersahabat dibandingkan minggu-minggu sebelumnya ketika ia dilanda kepanikan hebat akibat ancaman teror dan kesalahan keputusan yang ia ambil. Di atas meja lipat kayu kecil tempat ia menulis, secangkir teh kamomil hangat mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma herbal yang menenangkan indra penciuman. Arkan merapikan lengan piyama katunnya yang agak longgar, lalu memegang pena dengan erat di antara jemarinya. Malam ini, ia tidak sedang dikejar tenggat waktu artikel berita atau bayang-bayang klien misterius yang mencurigakan. Malam ini adalah waktu khusus yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk dirinya sendiri—sebuah sesi introspeksi radikal yang telah ia janjikan pada nuraninya sendiri.

"Saatnya jujur pada diri sendiri, Arkan," bisiknya pelan pada keheningan malam, menyemangati dirinya sendiri agar tidak lagi dikuasai oleh rasa takut atau gengsi.

Ritual menulis malam ini bukan sekadar aktivitas mencoret-coret kertas kosong. Ini adalah sebuah bentuk pembersihan batin, sebuah proses katarsis di mana ia harus melepaskan seluruh topeng kepura-puraan yang selama bertahun-tahun ia kenakan untuk menutupi rasa minder, kepengecutan, dan ego yang terluka. Ia tahu betul bahwa untuk bisa melangkah maju ke depan tanpa beban, ia harus berani menengok ke belakang dan mengakui setiap noda hitam yang pernah ia ciptakan dengan kedua tangannya sendiri.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arkan malam ini sangat spesifik dan mendalam: ia ingin memetakan seluruh kesalahan masa lalunya secara jujur, objektif, dan tanpa menyalahkan takdir atau orang lain. Selama bertahun-tahun, ketika hidupnya diterpa kegagalan—mulai dari karier menulis yang jalan ditempat, hubungan pertemanan yang renggang dengan Bagas, hingga keputusannya yang salah saat menolak tawaran investigasi karena panik—ia sering kali mencari kambing hitam. Ia menyalahkan keadaan ekonomi negeri, menyalahkan nasib sial, atau menyalahkan orang-orang kaya yang dianggapnya tidak adil.

Namun, setelah melalui malam-malam penuh perenungan yang melelahkan, Arkan sadar bahwa menyalahkan takdir tidak akan pernah mengubah kenyataan sekecil apa pun.

"Kalau aku terus-terusan merasa sebagai korban keadaan, aku tidak akan pernah tumbuh dewasa," gumam Arkan pelan sambil menatap lembaran kertas putih kosong di hadapannya.

Tujuannya menulis malam ini adalah mencapai titik penerimaan diri yang utuh. Ia ingin menuliskan setiap kebodohan, setiap keputusan gegabah, setiap kebohongan kecil yang ia ucapkan demi melindungi egonya, dan setiap momen di mana ia memilih jalan aman ketimbang keberanian moral. Ia ingin melihat semua keburukan itu hitam di atas putih, mengakuinya sebagai bagian dari sejarah hidupnya, dan berhenti mencari pembenaran atas kelemahan-kelemahan tersebut.

"Apakah kamu siap membaca sisi gelapmu sendiri, Arkan?" tanyanya pada bayangannya sendiri yang terpantul samar di kaca jendela kamar.

Dengan mantap, ia mendekatkan ujung penanya ke permukaan kertas. Ia menarik napas dalam-dalam, menata niat di dalam hatinya agar malam ini tidak diwarnai oleh rasa amarah atau penyesalan yang merusak, melainkan oleh kejujuran murni yang membebaskan.

❖ ❖ ❖

Ujung pena hitam itu akhirnya menyentuh permukaan kertas. Goresan pertama tercipta, menghasilkan suara gesekan halus yang memecah keheningan malam di kamar tersebut. Arkan mulai menuliskan kalimat pembuka jurnal malamnya dengan tulisan tangan yang agak tegas.

“Malam ini, aku berhenti menyalahkan keadaan,” tulis Arkan di baris pertama.

Ia terdiam sejenak, memandangi kalimat tersebut. Kalimat itu terasa sangat berat untuk ditulis, tetapi begitu ia torehkan, ada semacam beban tak kasat mata yang perlahan terangkat dari pundaknya. Selama ini, ia selalu merasa hidupnya dipatok oleh garis takdir yang tidak adil—seolah semesta sengaja berkomplot untuk membuatnya tetap berada di bawah garis kemiskinan, sementara orang-orang sepertinya Bagas dilimpahi kesuksesan instan.

"Padahal kenyataannya bukan takdir yang jahat," ucap Arkan lirih pada dirinya sendiri, berbicara setengah berbisik di kamar sepi itu. "Aku sendiri yang sering memilih lari setiap kali pintu kesempatan menuntut keberanian."

Ia mengenang kembali momen pertemuannya dengan Bagas di kafe beberapa minggu lalu. Saat itu, ia begitu cepat merasa tersinggung, begitu mudah merasa kecil hati, dan membiarkan rasa mindernya mendikte setiap respons verbal yang ia keluarkan. Ia menolak tawaran pekerjaan Bagas bukan semata-mata karena idealisme yang suci, melainkan karena ia takut gagal, takut merasa tidak sepadan, dan takut tidak mampu bersaing di dunia profesional yang keras.

"Aku pengecut berkedok idealis," tulis Arkan lagi di baris berikutnya, tanpa ragu-ragu mencatatkan pengakuan paling jujur yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat di lubuk hati paling dalam.

Pena di tangannya bergerak semakin lancar, seolah bendungan emosi yang selama ini membeku di dalam jiwanya kini jebol oleh kejujuran yang ia lepaskan sendiri. Suara detik jam dinding di sudut kamar seakan menjadi saksi bisu atas pertobatan batin seorang pria yang lelah hidup dalam bayang-bayang ketakutannya sendiri.

Lihat selengkapnya