Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Momen kejayaan bengkel ayah

Momen kejayaan bengkel ayah di masa lalu dan bagaimana arogansi menghancurkannya.

Matahari pagi di awal musim kemarau menyinari kawasan industri tua di sudut kota Jakarta dengan pijar kekuningan yang menyengat. Pukul 08.15 WIB, debu-debu halus berterbangan di udara, tersapu oleh angin kering yang menderu melalui celah-celah pintu seng berkarat. Di dalam sebuah bangunan bengkel kayu dan besi tua yang sudah lama terbengkalai, bau khas serbuk gergaji basah, oli mesin, dan pelitur lama bergesekan dengan keheningan waktu. Bangunan itu menyimpan ribuan memori masa kecil Arkan—sebuah tempat yang bertahun-tahun ia hindari karena membawa luka batin yang teramat dalam.

Arkan berdiri di tengah ruangan yang remang-remang, memandangi meja kerja tua berbahan kayu jati solid yang permukaannya dipenuhi goresan pahat dan bekas tumpahan cat. Di atas meja itu, sebuah kotak perkakas berkarat dibiarkan terbuka, menampakkan jajaran kuas dan palu besi yang dulu setiap hari dipegang oleh tangan kokoh ayahnya.

"Kamu yakin tidak salah tempat, Arkan? Tempat ini terlihat begitu suram dan menyesakkan," suara Maya terdengar lirih dari ambang pintu bengkel. Wanita itu melangkah masuk dengan hati-hati, menghindari serpihan kayu yang berserakan di lantai semen yang retak.

Arkan menggeleng perlahan, pandangannya tidak lepas dari sudut ruangan tempat sebuah foto besar berbingkai kusam tergantung miring di dinding. "Aku tidak salah tempat, May. Sebelum aku melangkah lebih jauh menghadapi ancaman di proyek Mega Kuningan, aku harus kembali ke titik asal. Ke tempat di mana semuanya bermula, dan di mana semuanya hancur berkeping-keping."

Maya menghela napas, mendekati sahabatnya lalu merangkul pundak Arkan pelan. "Apakah kamu siap membuka kembali kenangan pahit itu? Kamu tidak harus menyiksa dirimu sendiri dengan masa lalu."

"Aku tidak sedang menyiksa diri, May. Aku sedang mencari akar dari ketakutanku selama ini," jawab Arkan dengan suara serak.

Ruangan bengkel tua itu terasa begitu dingin meskipun cuaca di luar mulai panas. Di sinilah, dua dekade lalu, sebuah kerajaan kecil berdiri megah atas kerja keras seorang ayah yang kemudian runtuh seketika akibat satu hal yang paling mematikan: kesombongan dan arogansi. Dan hari ini, di tempat penuh debu kenangan ini, Arkan harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sifat buruk sang ayah ternyata mengalir deras di dalam darahnya sendiri, menjadi akar dari segala keputusan ceroboh yang hampir menghancurkan hidupnya.

❖ ❖ ❖

Target utama Arkan datang ke bengkel tua peninggalan ayahnya pagi ini bukan sekadar bernostalgia atau meratapi nasib. Ia memiliki tujuan psikologis yang jauh lebih mendalam: mengurai benang merah antara kejatuhan bisnis sang ayah di masa lalu dengan blunder finansial yang hampir menenggelamkan agensinya sendiri minggu lalu.

Bab 13: Kilas Balik 2—begitu ia menamai memori tergelap dalam hidup keluarganya.

Dulu, di masa kejayaannya, bengkel kayu dan interior milik Pak Baskoro, ayah Arkan, adalah salah satu yang paling disegani di ibu kota. Pesanan datang beruntun dari berbagai hotel bintang lima dan gedung perkantoran mewah. Ayahnya adalah seorang seniman sekaligus pengusaha ulung yang sangat dihormati. Namun, seiring dengan kesuksesan yang melimpah ruah, sesuatu yang buruk mulai meracuni pikiran sang ayah: arogansi.

"Tujuanmu ke sini untuk apa, Arkan? Mencari petunjuk cara menghadapi teror misterius itu, atau sekadar menghukum diri atas kesalahan yang sudah lewat?" tanya Maya, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh perhatian.

"Kedua-duanya, May," jawab Arkan jujur, menarik sebuah kursi kayu tua lalu duduk di hadapan meja kerja ayahnya. "Aku menyadari ada pola yang berulang antara apa yang dialami ayahku dulu denganku sekarang. Ayahku hancur bukan karena kekurangan klien, melainkan karena kesombongannya sendiri yang menolak mendengarkan orang lain. Dan aku hampir melakukan kesalahan yang sama ketika aku menolak saranmu soal vendor material beberapa waktu lalu."

Maya menarik kursi lain, duduk di samping Arkan. "Menyadari kesamaan itu adalah langkah awal yang luar biasa berat, Arkan. Tidak semua orang punya keberanian untuk mengakui bahwa ada sifat orang tua mereka yang diwarisi dalam diri mereka."

"Aku tidak mau menjadi seperti ayahku di akhir masa kejayaannya, May," ucap Arkan dengan suara bergetar, menatap kotak perkakas berkarat di atas meja. "Tujuanku hari ini adalah berdamai dengan bayangan ayahku, memahami bagaimana arogansi menghancurkan karyanya, dan memastikan aku memutus rantai keburukan itu agar tidak menghancurkan masa depanku sendiri."

Arkan meraba permukaan kayu meja kerja ayahnya yang kasar. Ia bertekad, sebelum ia menghadapi ancaman di proyek Mega Kuningan esok hari, ia harus membersihkan hatinya dari segala sisa-sisa kesombongan dan rasa paling benar yang selama ini menjadi musuh dalam selimut bagi kariernya.

❖ ❖ ❖

Suara angin berembus kencang di luar bengkel, menerbangkan dedaunan kering yang bergesekan dengan dinding seng tua. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, keheningan seolah menghadirkan kembali suara-suara masa lalu. Arkan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan pikirannya menembus lorong waktu belasan tahun silam, kembali ke masa ketika bengkel ini masih dipenuhi suara mesin gergaji listrik yang menderu dan gelak tawa para pekerja.

Bab 13: Kilas Balik 2—memori itu berputar kembali di kepala Arkan dengan sangat jernih, bagaikan sebuah film dokumenter yang diputar ulang tanpa jeda.

Saat itu, Arkan masih berusia belasan tahun, duduk di sudut bengkel sambil mengamati ayahnya, Pak Baskoro, menerima kunjungan seorang klien besar yang ingin memesan interior lobi hotel mewah. Sang klien memberikan catatan revisi yang cukup detail mengenai struktur kayu yang diinginkan agar sesuai dengan standar keamanan gedung tinggi.

Namun, apa yang dilakukan Pak Baskoro saat itu? Dengan senyum meremehkan, sang ayah melipat proposal klien tersebut lalu meletakkannya di atas meja dengan gestur arogan.

"Pak Baskoro, apakah desain struktur ini bisa disesuaikan dengan permintaan manajemen keselamatan?" tanya sang klien dengan sopan waktu itu.

"Anak muda," jawab Pak Baskoro dengan nada suara tinggi penuh kebanggaan diri, "saya sudah berkecimpung di dunia kerajinan kayu dan interior selama tiga puluh tahun. Anda tidak perlu mengajari saya cara membuat karya seni yang aman. Desain saya sudah yang paling sempurna. Kalau kalian tidak suka, silakan cari vendor lain."

Klien tersebut tertegun, tersinggung oleh kesombongan yang ditunjukkan oleh Pak Baskoro. Singkat cerita, kontrak kerja sama senilai miliaran rupiah itu dibatalkan hari itu juga di tempat.

Tidak hanya berhenti di situ, arogansi Pak Baskoro semakin menjadi-jadi. Ketika para pekerja senior mengingatkan bahwa stok kayu jati pilihan yang ia gunakan mulai menipis dan harganya melambung tinggi, Pak Baskoro justru memecat mereka dengan dalih mereka tidak loyal dan tidak menghormati keputusannya sebagai pemilik mutlak bengkel. Ia memilih menggunakan bahan baku murah secara sembunyi-sembunyi demi menekan biaya produksi, sambil tetap mematok harga tinggi kepada para klien demi mempertahankan citra kemewahan palsu.

Hasilnya? Kurang dari dua tahun sejak hari kesombongan itu, bencana besar menghantam. Rangkaian interior lobi hotel yang dikerjakan menggunakan bahan murah runtuh dalam sebuah uji kelayakan, memicu skandal besar, tuntutan hukum secara perdata, dan kebangkrutan total yang merenggut seluruh harta benda keluarga mereka. Pak Baskoro jatuh miskin, stres berat, hingga akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia dalam penyesalan yang mendalam.

"Arkan... kamu melamun lagi," suara Maya membuyarkan lamunan panjang Arkan. Wanita itu menyentuh lengan Arkan dengan lembut.

Arkan membuka matanya, napasnya sedikit memburu dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Kenangan itu selalu berhasil membuatnya merasa sesak setiap kali ia mengingat bagaimana arogansi bisa mengubah seorang seniman hebat menjadi seorang pecundang yang hancur karena kesombongannya sendiri.

"Aku baru menyadari, May," bisik Arkan lirih, menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Ayahku hancur bukan karena takdir yang buruk, melainkan karena ia menolak untuk mendengarkan, merasa dirinya paling benar, dan menganggap kritik sebagai serangan terhadap harga dirinya. Dan aku... aku hampir mengulangi kesalahan yang sama persis ketika aku menolak saranmu beberapa waktu lalu."

❖ ❖ ❖

"Kesadaran itu adalah langkah paling jujur yang bisa kamu ambil, Arkan," kata Maya menatap sahabatnya dengan penuh ketulusan. "Tidak semua orang memiliki keberanian untuk berkaca pada kesalahan orang tuanya dan berkata, 'aku tidak boleh menjadi seperti ini'."

Namun, di tengah keheningan refleksi emosional tersebut, suasana mendadak buyar ketika suara dering ponsel di dalam saku celana Arkan bergetar keras. Arkan mengerutkan kening, merogoh ponselnya lalu melihat layar yang menyala terang. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama dengan teror malam sebelumnya—nomor anonim yang mengancam agensinya di proyek Mega Kuningan.

Arkan menatap layar ponsel itu sejenak, lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa ragu-ragu. "Halo?"

Lihat selengkapnya