Diskusi pertama Arkan dan Niskala tentang pentingnya menerima kekurangan diri.
Matahari sore baru saja merosot di balik deretan perbukitan hijau di ufuk barat Desa Rimbai, memantulkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela Rumah Kayu Arimbai. Pukul empat lewat lima belas menit sore, suasana di sekitar beranda terasa begitu tenang setelah ketegangan panjang yang melanda hari-hari sebelumnya.
Di sudut beranda, di dekat kursi goyang tempat Arkan biasa merenung, duduk seorang perempuan muda berambut sebahu dengan balutan kemeja linen sederhana berwarna hijau lumut. Namanya Niskala. Ia adalah putri sulung dari Pak Tua Kasim, seorang aktivis koperasi tani independen yang baru saja kembali ke desa setelah menamatkan studi ekonominya di kota besar.
Arkan menuangkan dua cangkir teh hangat ke dalam wadah tanah liat, lalu menyodorkan salah satunya kepada Niskala. Uap tipis mengepul di udara, membawa aroma melati yang menenangkan.
"Terima kasih, Arkan," ucap Niskala ramah, menerima cangkir itu dengan kedua tangannya. "Rumahmu selalu terasa damai, meskipun aku tahu badai besar sedang menguji kalian."
Arkan duduk di kursi kayu bersebelahan, menarik napas panjang sambil menatap cangkirnya sendiri. "Damai di luar, Nis, tapi di dalam kepala dan dadaku rasanya seperti medan perang yang tidak ada habisnya. Terutama setelah ancaman pihak bank semalam."
Niskala menyesap tehnya perlahan, lalu menoleh menatap Arkan dengan tatapan teduh yang sarat akan empati. Matanya yang jernih seolah mampu menembus lapisan pertahanan diri yang selama ini Arkan bangun dengan susah payah.
"Aku mendengar dari Ayah tentang tekanan yang diberikan PT Rimbai Sejahtera dan pihak bank," kata Niskala dengan nada lembut. "Tapi yang membuatku cemas bukan ancaman mereka, Arkan. Melainkan caramu memikul beban itu sendirian seolah pundakmu terbuat dari baja murni."
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum penuh kepahitan yang menyiratkan kelelahan batin yang mendalam. "Bukankah itu tugasku? Namaku Arkan. Pilar. Tiang penyangga. Kalau aku tidak kuat, lalu siapa lagi yang akan menopang Ibu dan Kirana?"
Niskala meletakkan cangkirnya di atas meja kecil, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan. "Itulah letak kelirumu selama ini, Arkan. Kau menyamakan arti sebuah nama dengan kesempurnaan mutlak yang harus kau tanggung tanpa pernah diizinkan untuk retak."
❖ ❖ ❖
Arkan tertegun mendengar ucapan Niskala. Ia menoleh, menatap perempuan di sampingnya dengan kening sedikit berkerut. Ada nada teguran yang begitu tulus di dalam suara Niskala, bukan sekadar kritik kosong, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang sudah lama tidak ia rasakan dari orang lain selain keluarganya.
"Apa maksudmu, Nis? Apakah menjadi pilar berarti aku harus membiarkan diriku hancur lebur demi terlihat kokoh di mata orang lain?" tanya Arkan, nada suaranya sedikit meninggi namun tetap terkontrol.
Niskala menggeleng perlahan, rambut sebahunya ikut bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. "Bukan itu maksudku, Arkan. Tujuan kedatanganku sore ini ke sini bukan sekadar membicarakan bantuan teknis keuangan koperasi tani untuk melunasi utang bankmu besok siang. Aku datang untuk berbicara tentang dirimu—tentang bagaimana caramu memperlakukan dirimu sendiri."
Tujuan Niskala malam itu sederhana namun sangat fundamental: ia ingin menyadarkan Arkan bahwa beban psikologis yang dipikul pemuda itu sudah melampaui batas kewajaran. Selama berhari-hari, Arkan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas kemerosotan ekonomi keluarga, kegagalan panen karet, hingga tekanan dari perusahaan Pak Hartawan. Arkan menganggap setiap kelemahan adalah sebuah pengkhianatan terhadap nama besar leluhurnya.
"Ayahmu dulu pernah berpesan kepadaku—sebelum beliau meninggal—bahwa pohon rambai yang kuat bukanlah pohon yang paling kaku menahan terjangan angin badai," lanjut Niskala dengan suara tenang namun berwibawa. "Pohon yang kuat adalah pohon yang lentur, yang tahu kapan harus merunduk, dan yang menerima kenyataan bahwa akarnya bisa saja terluka."
Arkan menunduk, menatap cairan teh di dalam cangkirnya yang mulai mendingin. Ingatannya kembali melayang pada jurnal sang ayah yang ia temukan di lemari tua beberapa malam lalu. Di sana, almarhum ayahnya memang sempat menuliskan catatan tentang pentingnya keikhlasan menerima kerapuhan diri.
"Aku hanya takut, Nis," aku Arkan pelan, suaranya nyaris berbisik kalah oleh desau angin sore. "Aku takut jika aku menunjukkan kelemahanku, Ibu dan Kirana akan kehilangan pegangan. Kalau aku sendiri menyerah, siapa yang akan melindungi tanah ini?"
"Menerima kekurangan diri dan rasa takut bukan berarti menyerah, Arkan," sanggah Niskala tegas. "Justru sebaliknya. Keberanian sejati lahir ketika seseorang berani mengakui bahwa dirinya rapuh, namun tetap memilih untuk melangkah maju bersama orang-orang di sekitarnya. Kau tidak harus memikul seluruh beban ini seorang diri."
Arkan terdiam seribu bahasa. Setiap kata yang diucapkan Niskala menghujam langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam, meruntuhkan benteng pertahanan ego yang selama ini ia bangun dengan susah payah demi terlihat sempurna sebagai kepala keluarga.
❖ ❖ ❖
Sore semakin merangkak senja, mengubah warna langit di atas Desa Rimbai menjadi gradasi jingga dan ungu tua yang dramatis. Suara serangga malam mulai bersahutan di balik semak-semak halaman belakang, menemani keheningan yang tercipta di antara Arkan dan Niskala di beranda rumah.
Arkan menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sejuk pegunungan mengisi rongga dadanya. Ia merasa seolah ada beban tak kasat mata yang perlahan-lahan terangkat dari pundaknya setelah mendengar sudut pandang baru dari Niskala.
"Selama ini, aku selalu merasa bahwa nama Arkan adalah sebuah kutukan sekaligus takdir yang harus kutebus dengan kesempurnaan," ucap Arkan lirih, matanya menatap kosong ke arah pohon rambai besar di halaman. "Setiap kali aku gagal membayar cicilan, setiap kali aku diusir dari kantor perusahaan Pak Hartawan, aku merasa gagal menjadi seorang lelaki."
Niskala merespons dengan senyuman hangat, tangannya terulur menyentuh punggung tangan Arkan di atas meja secara singkat untuk memberikan dukungan moral. "Itu adalah beban psikologis yang kau ciptakan sendiri, Arkan. Dunia tidak menuntutmu menjadi manusia tanpa cela. Dunia hanya ingin melihat ketulusan hatimu dalam merawat apa yang berharga."
"Bagaimana kau bisa begitu tenang melihat masalahku yang tinggal menghitung jam ini, Nis?" tanya Arkan, menoleh menatap mata Niskala dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. "Besok pukul dua siang adalah batas akhir pelunasan utang bank. Kalau aku gagal, rumah ini akan disita."
"Aku tidak tenang, Arkan. Aku juga cemas," jawab Niskala jujur. "Tapi kecemasan tidak akan menghasilkan solusi. Ayahku sudah berkoordinasi dengan jaringan koperasi tani di tingkat kabupaten. Kami sedang menyiapkan skema talangan darurat untuk menutupi kekurangan dana yang kau butuhkan besok pagi."
Arkan membelalakkan mata kaget. "Dana talangan? Tapi darimana koperasi bisa mendapatkan dana sebesar itu dalam waktu sesingkat ini?"
"Jangan remormetkan kekuatan solidaritas masyarakat pedesaan," balas Niskala tersenyum penuh keyakinan. "Ayah dan para anggota koperasi sepakat bahwa menyelamatkan tanah marga Ar Rimbai sama artinya dengan menyelamatkan masa depan seluruh petani di wilayah ini dari cengkeraman monopoli PT Rimbai Sejahtera."
Mendengar penjelasan itu, dada Arkan bergemuruh hebat. Rasa haru yang luar biasa membuncah di dalam hatinya. Selama ini ia mengira dirinya berjuang sendirian di medan perang melawan raksasa korporasi, namun ternyata ada jaringan solidaritas yang siap menopangnya di saat-saat paling kritis.
"Terima kasih, Nis... terima kasih banyak," ucap Arkan dengan suara bergetar, nyaris tak sanggup menyembunyikan rasa syukurnya.
"Jangan berterima kasih padaku dulu," kata Niskala sambil berdiri merapikan pakaiannya. "Besok adalah hari penentuan yang sebenarnya. Yang terpenting malam ini, mulailah berdamai dengan dirimu sendiri. Terimalah bahwa kau manusia biasa yang boleh merasa lelah dan rapuh."
❖ ❖ ❖