Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Tantangan Teknis di Bengkel

Tantangan Teknis di Bengkel; Arkan Nyaris Menyerah Sebelum Teringat Catatan Ayahnya---

"Sial, baut ini benar-benar macet total!" keluh Arkan setengah berteriak, suaranya hampir tenggelam di tengah deru suara mesin kompresor udara yang bising dan dentingan palu besi yang menghantam logam di sudut-sudut ruangan.

Hari sudah menunjukkan pukul dua siang lewat sepuluh menit. Matahari akhir Agustus 2026 terik menyengat di luar, memancarkan panas membakar yang menembus atap seng berkarat di bengkel motor tua milik Paklik Joko di pinggiran kota Bandar Lampung. Udara di dalam bengkel terasa pengap, bercampur pekat dengan aroma oli bekas, bensin Pertamax yang menguap, serta keringat yang mengucur deras dari pelipis Arkan. Mengenakan kaos oblong abu-abu yang kini telah ternoda oleh noda hitam oli mesin di bagian dada, Arkan berdiri membungkuk di samping kerangka sepeda motor custom tua peninggalan era sembilan puluhan yang sedang ia restorasi seorang diri.

Tangannya yang kokoh namun gemetar memegang kunci pas ukuran empat belas dengan cengkeraman erat. Buku-buku jarinya memerah, tergores tepi besi yang tajam dan berkarat. Di hadapannya, mesin motor berkapasitas besar itu tampak mangkrak, menampakkan komponen internal yang macet akibat korosi bertahun-tahun. Bengkel sedang sepi karena para pekerja lainnya sedang istirahat makan siang di warung sate sebelah, meninggalkan Arkan seorang diri bergulat dengan proyek pertamanya yang melampaui batas keahlian mekaniknya.

"Sudah tiga jam aku di sini, dan baut blok silinder itu tidak mau bergeser sedikit pun," gerutu Arkan lagi, napasnya memburu tidak teratur.

Ia meregangkan otot-otot bahunya yang terasa kaku dan nyeri akibat terlalu lama membungkuk dalam posisi yang sama. Di atas meja kerja kayu yang penuh tumpukan perkakas, secangkir kopi hitam manis yang dibelinya sejam lalu kini sudah dikerumuni semut tanpa sempat ia teguk separuh pun. Kelelahan fisik mulai merayap naik, menyerang setiap persendian tubuhnya dan menguras sisa-sisa tenaga yang ia miliki hari itu.

❖ ❖ ❖

Sebenarnya, tujuan utama Arkan datang ke bengkel kumuh ini sejak pagi buta bukanlah untuk membuktikan dirinya sebagai montok profesional yang hebat. Tujuan utamanya jauh lebih personal dan mendesak: ia ingin menyelesaikan restorasi motor tua warisan mendiang ayahnya agar bisa dikendarai kembali sebelum akhir pekan ini. Motor bebek tua bermerek Honda Super Cub keluaran tahun delapan puluhan itu adalah satu-satunya harta berharga peninggalan sang ayah yang memiliki nilai sentimental teramat tinggi baginya.

"Aku harus bisa memperbaiki mesin ini sendiri tanpa bantuan siapa pun," bisik Arkan penuh tekad pada dirinya sendiri saat ia mulai membongkar karburator motor tersebut empat jam lalu.

Bagi Arkan, keberhasilan merestorasi motor ini adalah simbol kebangkitan mentalnya setelah berbulan-bulan terpuruk dalam keraguan diri, rasa minder, dan keputusasaan pasca insiden ancaman misterius tempo hari. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak hanya bisa merangkai kata-kata di atas kertas, tetapi juga mampu menggunakan tangannya untuk membangun kembali sesuatu yang telah rusak dan mati suri.

"Ayah dulu pasti sering merawat motor ini di garasi rumah kita di Tanjung Karang," kenang Arkan dalam hati, matanya menerawang menatap komponen mesin yang kotor. "Kalau Ayah bisa melakukannya dengan peralatan seadanya di masa lalu, kenapa aku yang hidup di zaman modern ini malah menyerah pada baut berkarat?"

Tujuannya sangat jelas: menghidupkan kembali deru mesin motor itu sebagai wujud penghormatan terakhir kepada sang ayah, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa ia telah keluar dari cengkeraman rasa takut masa lalu. Namun, niat mulia itu kini diuji oleh batas kemampuan teknisnya yang amat terbatas di dunia perbengkelan yang keras dan kotor ini.

❖ ❖ ❖

Namun, realitas sering kali jauh lebih kejam daripada angan-angan idealis di kepala. Semakin lama Arkan mencoba memaksa kunci pas tersebut memutar baut silinder yang macet, semakin parah pula kerusakan yang terjadi. Karena kurang pengalaman dan terlalu terburu-buru oleh ambisinya sendiri, ujung kunci pas itu mendadak tergelincir dengan keras.

Brak!

"Aduh!" teriak Arkan kesakitan sambil menarik tangan kanannya secara refleks ke dada.

Kulit di buku jari telunjuknya robek, mengucurkan darah segar yang langsung bercampur dengan noda oli hitam di tangannya. Ia meringis kesakitan, meniup-niup jarinya yang berdenyut-denyut nyeri sambil membuang kunci pas itu ke lantai semen dengan rasa frustrasi yang memuncak.

Tidak hanya jarinya yang terluka, gigi ulir pada baut silinder tersebut kini telah aus dan botak akibat paksaan yang salah arah. Kerusakan itu membuat baut tersebut semakin mustahil untuk dilepaskan menggunakan peralatan standar bengkel.

"Sialan! Bodoh sekali aku!" maki Arkan pada dirinya sendiri, menendang kaleng oli kosong di dekatnya hingga terpental jauh menabrak dinding seng bengkel.

Suara dentuman kaleng itu memecah kesunyian sudut bengkel. Arkan terduduk lemas di atas kursi plastik pendek, menyandarkan kepalanya pada telapak tangannya yang kotor. Seluruh semangat yang membara di dadanya sejak pagi tadi perlahan-lahan runtuh seketika, digantikan oleh gelombang keputusasaan yang pekat.

Ia menatap motor tua di hadapannya dengan pandangan nanar dan kabur akibat genangan air mata kekecewaan. Proyek yang tadinya ia harapkan menjadi momen penebusan diri kini berubah menjadi bencana kecil yang mempermalukan kebodohannya sendiri.

"Aku bukan mekanik. Aku cuma penulis yang menyamar jadi montok," gumam Arkan getir, rasa minder yang sempat ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh, menghujam harga dirinya hingga ke titik nadir.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya