Langkah berani pertama: Arkan mendatangi klien lama yang kabur dan meminta maaf.
Matahari baru saja merayap naik di atas ufuk timur kota kabupaten, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus kaca-kaca jendela ruko berlantai dua yang berjajar rapi di kawasan niaga lama. Pukul delapan lewat sepuluh menit pagi, suasana jalanan di depan sebuah bengkel mesin bubut dan perbaikan alat pertanian milik keluarga Hardiman tampak cukup lengang. Udara pagi masih menyisakan kelembapan sisa embun malam, berpadu dengan aroma khas oli mesin dan besi tua yang menguar dari dalam bangunan tersebut.
Di depan pintu rolling door yang baru saja dibuka setengah, seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan mengenakan kaos oblong abu-abu bernoda pelumas sedang menyapu lantai semen. Namanya Hardiman. Ia adalah mantan mitra bisnis sekaligus klien lama Arkan yang hubungannya sempat merenggang dan memburuk sejak setahun lalu akibat kesalahpahaman fatal dan kegagalan pembayaran proyek pengadaan alat-alat pengupas karet.
Dari kejauhan, sesosok pria berbalut kemeja flanel rapi berjalan mendekat dengan langkah mantap namun menyiratkan ketegangan di setiap ayunannya. Itu adalah Arkan. Setelah berhasil menepis ancaman eksekusi bank dan intrik hukum perusahaan PT Rimbai Sejahtera beberapa hari sebelumnya, Arkan menyadari bahwa perjuangannya belum sepenuhnya tuntas. Masih ada sisa-sisa luka masa lalu yang harus ia sembuhkan, salah satunya adalah memulihkan nama baik dan kepercayaan relasi bisnis yang pernah ia kecewakan.
Arkan berhenti tepat di depan pelataran bengkel Hardiman. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan berjalan kaki, melainkan karena gejolak batin yang luar biasa hebat di dalam dadanya. Mengakui kesalahan di masa lalu di hadapan orang yang pernah ia rugikan bukanlah perkara mudah bagi seorang pemuda yang selama ini selalu ingin terlihat kuat dan sempurna.
"Selamat pagi, Pak Hardiman," sapa Arkan dengan suara sedikit bergetar namun jelas terdengar di tengah kesunyian pagi kawasan ruko itu.
Hardiman menghentikan sapuannya. Ia mendongak, menyipitkan mata di balik alisnya yang lebat, menatap tajam ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajah Hardiman seketika mengeras, menunjukkan sisa-sisa amarah dan kekecewaan lama yang belum sepenuhnya padam.
"Oh, jadi kau... Arkan?" gerutu Hardiman dengan nada suara berat dan dingin. "Berani sekali kau menampakkan muka di hadapanku setelah apa yang terjadi pada proyek kita tahun lalu? Mau minta proyek baru lagi, hah?"
❖ ❖ ❖
Arkan tidak langsung membalas benturan emosi dari Hardiman. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan degup jantungnya yang berkejaran, lalu menatap lurus mata pria paruh baya tersebut dengan kejujuran yang terpancar di wajahnya.
"Bukan, Pak Hardiman," jawab Arkan tenang, merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Saya datang bukan untuk meminta proyek baru atau bantuan modal. Saya datang ke sini khusus untuk satu tujuan: meminta maaf secara langsung atas kekacauan yang kubuat tahun lalu, dan meluruskan segala kesalahpahaman di antara kita."
Hardiman mendengus sinis, melemparkan sapu ijuk ke sudut ruangan dengan gerakan kasar hingga debu beterbangan tipis. "Permintaan maaf? Kau pikir permintaan maafmu bisa mengembalikan kerugian finansial yang kuderita saat mesin-mesin itu mangkrak dan para pekerjaku mendemo aku karena gajinya tertunda? Kata maaf itu tidak ada harganya, Arkan!"
"Saya tahu kata maaf saja tidak cukup untuk menghapus kerugian material yang Bapak alami," aku Arkan dengan suara tulus, tanpa sedikit pun nada membela diri. "Saya datang untuk bertanggung jawab sesuai kemampuan saya sekarang. Saya tahu waktu itu saya bersikap keras kepala, egois, dan menolak mendengarkan masukan Bapak karena saya ingin membuktikan diri sebagai pemimpin yang tidak boleh terlihat lemah."
Tujuan Arkan mendatangi Hardiman pagi ini adalah sebuah langkah berani pertama untuk meruntuhkan ego pribadinya. Selama ini, ia terlalu sibuk mempertahankan harga diri dan citra sebagai pilar keluarga yang sempurna, hingga ia mengabaikan etika profesional dan meninggalkan luka bagi orang-orang yang pernah bekerja sama dengannya. Arkan sadar, sebelum ia bisa memulihkan masa depan desanya secara utuh, ia harus berani membereskan masa lalunya yang berantakan.
Hardiman tertegun sejenak. Sorot mata pemuda di hadapannya tidak menunjukkan tanda-tanda kepalsuan atau upaya mencari-cari alasan. Ada ketulusan yang telanjang, sebuah kerendahan hati yang jarang ia temukan pada anak-anak muda zaman sekarang yang kerap gengsi mengakui kesalahan.
"Kau benar-benar berubah, Arkan," ucap Hardiman dengan nada suara yang sedikit melunak, meski raut wajahnya masih menyisakan kekakuan. "Dulu kau begitu arogan, menolak saran teknis dariku, dan memilih kabur dari tanggung jawab ketika masalah mulai menumpuk."
"Saya belajar dari kesalahan terpahit dalam hidup saya, Pak," balas Arkan lirih. "Dan saya tidak ingin hidup dalam bayang-bayang pengecut selamanya. Jika Bapak ingin memaki saya, silakan. Tapi izinkan saya menjelaskan niat saya untuk menebus kerugian itu secara bertahap."
Hardiman melipat kedua tangannya di dada, mengamati Arkan dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menyelidik. "Menebus kerugian? Dari mana anak muda sepertimu yang baru saja lolos dari ancaman sita bank bisa membayar utang komersial padaku?"
❖ ❖ ❖
Suasana di depan bengkel mendadak sunyi sejenak. Hanya suara lalu lintas kendaraan bermotor dari kejauhan yang mengisi ruang kosong di antara mereka. Hardiman berbalik mengambil sebuah kursi plastik pendek, lalu mendudukinya sambil menatap lantai semen bengkel yang kusam.
"Duduklah," titah Hardiman singkat kepada Arkan, menunjuk bangku kayu kecil di dekat pintu masuk.
Arkan mengangguk pelan dan duduk di tempat yang disediakan. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tas kerjanya—buku catatan yang dulu ia temukan bersama jurnal sang ayah—lalu membukanya di atas pangkuannya.
"Saya tahu jumlah kerugian proyek pengadaan alat pengupas karet tahun lalu mencapai angka puluhan juta rupiah, Pak Hardiman," kata Arkan memulai pembicaraan dengan data yang terperinci. "Meskipun saat ini saya belum bisa melunasinya sekaligus dalam bentuk tunai, saya sudah menyiapkan skema cicilan berbasis hasil panen getah harian dari kebun keluarga kami, ditambah kerja sama teknis langsung dengan koperasi tani yang dipimpin oleh Pak Tua Kasim."
Hardiman menatap buku catatan yang disodorkan Arkan sekilas, lalu mendengkus pelan. "Koperasi tani? Jangan libatkan lembaga lain sebelum urusan personal kita selesai, Arkan. Aku tidak peduli pada janji-janji manis di atas kertas catatan usang."
"Ini bukan janji kosong, Pak," sanggah Arkan dengan nada tegas namun tetap santun. "Saya membawa surat perjanjian damai bermaterai yang sudah saya susun sendiri tadi malam, berisi jaminan penyerahan sebagian hasil penjualan getah kering langsung ke rekening Bapak setiap minggu sampai lunas."
Hardiman mengangkat sebelah alisnya, tampak terkejut dengan keseriusan dan persiapan matang yang ditunjukkan oleh pemuda di depannya. "Kau benar-benar serius mau melunasi utang itu dengan keringat kerjamu sendiri di kebun?"
"Saya tidak punya pilihan lain untuk mengembalikan kehormatan marga saya, Pak Hardiman," jawab Arkan jujur. "Ayah saya dulu pernah berpesan bahwa seorang lelaki dinilai bukan dari seberapa besar kekayaannya, melainkan dari seberapa berani ia menanggung akibat dari keputusan yang diambilnya."
Mendengar kata-kata tentang sang ayah, Hardiman menghela napas panjang. Ingatannya kembali ke masa lalu, ketika ia dan almarhum Pak Rimbai sering bekerja sama membangun infrastruktur alat pertanian di wilayah pedesaan tersebut. Hubungan mereka dulu sangat erat, sebelum akhirnya renggang akibat keangkuhan Arkan di masa mudanya.
"Ayahmu adalah orang yang hebat, Arkan," ucap Hardiman lirih, nada suaranya kini terdengar jauh lebih hangat dibanding saat pertama kali Arkan datang. "Sayang sekali kau sempat salah arah dalam memimpin usahanya dulu."
"Saya akui itu, Pak. Dan saya menyesalinya," balas Arkan tulus. "Hari ini, saya datang untuk memperbaiki lembaran yang robek itu."
Transisi batin yang dialami Arkan terasa begitu nyata. Dari seorang pemuda yang penuh amarah dan rasa frustrasi di taman kota beberapa waktu lalu, kini ia bertransformasi menjadi pribadi yang lebih matang, tenang, dan berani merangkul kerapuhannya sendiri demi memperbaiki hubungan sosial yang rusak.
❖ ❖ ❖
Di tengah perbincangan yang mulai mencair antara Arkan dan Hardiman, suara deru motor bebek tua tiba-tiba memecah keheningan pagi. Sebuah motor berhenti mendadak tepat di depan pelataran bengkel, dan seorang pria berbadan kurus dengan jaket kurir pengiriman barang turun dengan tergesa-gesa membawa sebuah amplop cokelat tebal.