Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Arkan tidak lagi marah

Kegagalan kecil saat memperbaiki mesin rumit; Arkan tidak lagi marah, melainkan penasaran.

Matahari sore di kawasan pinggiran kota Jakarta menyisakan bias jingga yang hangat, menembus jendela kaca bengkel kayu kecil yang kini telah direnovasi menjadi ruang kerja kreatif pribadi Arkan. Pukul 16.30 WIB, udara terasa nyaman setelah hujan rintik-rintik reda, meninggalkan aroma basah tanah dan kayu mahoni yang khas. Di atas meja kerja kayunya yang kokoh, berserakan perkakas presisi, obeng mikroskopis, serta sebuah mesin proyeksi miniatur kuno berteknologi mekanik gigi gerigi yang sudah bertahun-tahun mati total.

Arkan duduk membungkuk di kursi kerjanya, mengenakan kemeja katun lengan panjang yang digulung sampai siku. Wajahnya tampak tenang, diterangi cahaya lampu meja berwarna kuning temaram. Di hadapannya, mesin proyektor tua peninggalan ayahnya itu sedang dibongkar untuk dibersihkan komponen bagian dalamnya.

"Bagaimana, Arkan? Mesin proyektor tua itu masih bisa diselamatkan, atau sudah benar-benar mati total?" suara Maya terdengar dari arah pintu masuk bengkel. Wanita itu berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir teh hangat, lalu meletakkan salah satunya di sudut meja kerja Arkan.

Arkan mendongak, tersenyum tipis ke arah sahabat setianya. "Sejauh ini masih macet di bagian poros roda gigi utamanya, May. Ada komponen kuningan yang sudah berkarat dan aus dimakan usia."

Maya melirik sekilas ke arah mesin tua berukuran sedang itu dengan kening berkerut. "Kenapa kamu harus repot-repot memperbaiki benda rongsokan itu? Bukannya proyek besar Mega Kuningan kita sudah sukses besar dan menyita banyak waktu operasional agensi?"

"Proyek besar itu urusan profesional, May. Kalau mesin ini... ini urusan pribadi," jawab Arkan lembut, kembali mengalihkan pandangannya pada roda gerigi mesin yang macet. "Dulu, ayahku selalu gagal total saat mencoba memperbaiki mesin ini sebelum beliau meninggal. Dan kegagalan itu membuatnya marah besar, membanting peralatan, hingga berujung pada frustrasi panjang."

Maya menarik kursi di sebelah Arkan lalu duduk dengan tenang. "Lalu, apa bedanya kamu dengan beliau sekarang?"

"Bedanya," ucap Arkan sambil tersenyum kecil tanpa ada secercah beban di wajahnya, "aku tidak berniat membuktikannya untuk menjadi sempurna. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara mesin ini bekerja."

Suasana di dalam bengkel kecil itu mendadak sunyi, diselingi deru angin sore yang berembus pelan melalui ventilasi udara. Arkan kembali fokus memutar tuas kecil di sisi mesin, siap menghadapi tantangan mekanik di hadapannya dengan kepala dingin dan rasa ingin tahu yang murni.

❖ ❖ ❖

Target utama Arkan sore ini bukan lagi menyelamatkan sebuah perusahaan dari kebangkrutan, memenangkan tender bernilai miliaran rupiah, atau membuktikan kapasitas dirinya di hadapan dewan komisaris korporat besar. Tujuan hidupnya kini telah menyusut ke dalam skala yang jauh lebih personal dan membumi: memperbaiki sebuah mesin proyektor miniatur kuno warisan ayahnya, dan menikmati proses belajarnya tanpa beban harus langsung sempurna.

Bab 23: Kegagalan kecil saat memperbaiki mesin rumit; Arkan tidak lagi marah, melainkan penasaran.

Judul bab kehidupan itu mencerminkan fase kedewasaan mental yang baru saja ia capai. Selama bertahun-tahun, setiap kali Arkan menghadapi rintangan atau kegagalan kecil dalam merancang sesuatu, reaksi pertamanya adalah panik, frustrasi, atau marah pada diri sendiri—sifat reaktif yang diwarisi dari arogansi mendiang ayahnya. Namun hari ini, pola lama itu telah sepenuhnya terpatahkan.

"Tujuanku sore ini sangat sederhana, May," kata Arkan sambil mengambil sebotol kecil pelumas mekanik khusus. "Membuka poros roda gigi utama proyektor ini tanpa merusak lempengan tembaga di sekitarnya. Kalaupun nanti gagal dan girnya patah, ya sudah, aku tinggal cari penggantinya atau membuat tiruannya."

Maya menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh kekaguman. "Wah, luar biasa. Mana Arkan yang dulu selalu stres berat kalau ada garis desain atau komponen kecil yang meleset dari rencana?"

Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat ringan dan tulus. "Arkan yang dulu sudah lama pensiun, May. Aku baru sadar kalau kemarahan atas kegagalan kecil itu buang-buang energi. Hidup ini terlalu singkat kalau dihabiskan untuk mengumpat pada benda mati atau kesalahan sepele."

Tujuan Arkan saat ini adalah melatih pikiran bawah sadarnya untuk menyambut kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai ancaman bagi harga dirinya. Ketika ia menatap roda gigi mesin proyektor yang macet itu, ia tidak melihatnya sebagai musuh yang harus ditaklukkan dengan paksa, melainkan sebagai sebuah teka-teki mekanik yang menarik untuk dipecahkan secara sabar.

"Silakan dicoba, Tuan Insinyur," ujar Maya tersenyum geli. "Aku penasaran apakah rasa penasaranku ini akan berujung pada mesin yang bisa menyala atau justru meja kerjamu yang berantakan total oleh serpihan besi."

Arkan mengangguk mantap. Ia mengambil obeng presisi kecil, menempatkannya tepat di atas baut pengunci poros roda gigi yang berkarat, lalu mulai memutarnya perlahan-lahan dengan penuh kehati-hatian.

❖ ❖ ❖

Sore beranjak senja, warna langit di luar jendela bengkel berubah perlahan dari jingga kemerahan menjadi ungu kebiruan yang tenang. Di dalam ruangan kerja Arkan, suara gesekan logam kecil beradu dengan keheningan sore menciptakan atmosfer yang sangat fokus. Arkan terus membungkuk di atas meja kerjanya, mencurahkan seluruh perhatian visualnya pada kerumitan komponen internal proyektor kuno tersebut.

Bab 23: Kegagalan kecil saat memperbaiki mesin rumit... kalimat itu terngiang lembut di dalam benaknya sebagai sebuah pengingat bahwa proses eksplorasi tidak pernah menuntut kesempurnaan instan.

Dengan menggunakan obeng mikroskopis, Arkan mencoba membuka baut pengunci poros utama yang sudah berkarat tebal. Ia memberikan sedikit tekanan putar ke arah kiri, berharap baut tersebut mau bergeser dari posisinya setelah bertahun-tahun terkunci rapat oleh korosi. Namun, karena tekanan yang sedikit berlebih akibat sudut pandang yang kurang pas, krek!—suara derit logam patah terdengar nyaring di antara keheningan ruangan.

Maya yang sedang menyesap teh hangatnya langsung terperanjat kecil, menoleh cepat ke arah meja kerja Arkan. "Aduh! Ada yang patah ya, Arkan?"

Arkan menarik tangannya sejenak, menunduk mengamati baut pengunci yang ternyata kepala bautnya terkelupas patah akibat aus. Komponen kecil itu kini benar-benar rusak dan tertanam macet di dalam lubang poros roda gigi.

Di masa lalu, suara patahan kecil seperti itu pasti akan langsung memicu ledakan emosi dalam diri Arkan; ia akan membanting obeng, mengumpat pada kebodohannya sendiri, atau bahkan menyerah dan membuang mesin tersebut ke tempat sampah karena merasa gagal total.

Namun, apa yang terjadi detik ini justru di luar dugaan. Arkan tidak menunjukkan ekspresi marah atau kesal sama sekali. Alisnya berkerut tipis, bibirnya membentuk senyuman kecil yang penuh rasa ingin tahu, dan matanya berbinar menatap patahan baut tersebut dari jarak dekat menggunakan kaca pembesar.

"Wah, menarik sekali," gumam Arkan pelan tanpa nada penyesalan sedikit pun.

Maya menatap sahabatnya dengan pandangan tak percaya. "Menarik? Arkan, kepala bautnya patah dan tertanam di dalam! Mesin itu makin rusak parah, lho!"

"Justru di situlah letak tantangannya, May," jawab Arkan tenang, mendongak menatap Maya dengan senyuman lebar. "Selama ini aku mengira baut itu terbuat dari baja murni yang keras. Ternyata, setelah patah, aku bisa lihat kalau logam di dalamnya adalah campuran kuningan murah berkualitas rendah yang rapuh terhadap kelembaban. Pantas saja ayahku dulu selalu gagal membukanya!"

Maya menggelengkan kepalanya perlahan, lalu tertawa kecil penuh kelegaan. "Kamu benar-benar sudah berubah total, Arkan. Orang lain patah hati kalau barang rusaknya makin rusak, kamu malah girang seperti anak kecil yang menemukan teka-teki baru."

❖ ❖ ❖

Meskipun Arkan tidak lagi marah dan justru merasa penasaran atas patahnya kepala baut tersebut, rintangan mekanik yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sisa batang baut yang patah dan tertanam rapat di dalam lubang poros roda gigi membuat komponen utama mesin proyektor itu terkunci mati secara total. Tanpa mengeluarkan sisa batang baut tersebut, roda gigi tidak akan pernah bisa berputar kembali.

Arkan mengambil pinset presisi dan cairan pembersih karat khusus, lalu meneteskannya perlahan ke sela-sela lubang poros yang macet. Ia kembali duduk tegak, mengatur napasnya agar tetap rileks, lalu mulai mencoba mencungkil sisa batang baut yang patah dengan ujung jarum baja tipis.

Kikirk... kikirk... suara gesekan ujung jarum baja dengan permukaan logam berkarat berderit halus di telinga.

Lihat selengkapnya