Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Saat Arkan kecil dilarang

Kilas Balik 3: Saat Arkan kecil dilarang mencoba oleh lingkungan yang perfeksionis.

Matahari sore di Desa Rimbai pada dua puluh tahun silam selalu menyisakan pendar jingga yang hangat di balik rimbunnya dedaunan pohon rambai raksasa. Pukul empat sore lewat sepuluh menit, di halaman belakang rumah panggung kayu tempat Arkan kecil tumbuh besar, suasana terasa begitu sunyi namun mencekam bagi seorang anak berusia sembilan tahun.

Di atas sebidang tanah lapang yang dikelilingi pagar bambu rendah, Arkan kecil sedang berlutut memegang sebatang ranting kayu dan beberapa potong bilik bambu sisa. Di hadapannya terdapat sebuah miniatur jembatan penyeberangan sungai kecil yang baru saja ia susun dengan susah payah selama berjam-jam. Keringat tipis membasahi keningnya yang berpori-pori kecil, sementara matanya berbinar penuh kepolosan dan rasa bangga atas karya tangan kecilnya sendiri.

"Ibu, lihat! Arkan berhasil merakit jembatan ini dari kayu sisa tanpa bantuan paku!" seru Arkan kecil girang sambil menoleh ke arah beranda rumah, tempat sang ibu sedang duduk merajut kain.

Ibu mendongak sejenak, melirik miniatur jembatan itu sekilas dengan sebelah alis terangkat, lalu menghela napas panjang. "Arkan, berapa kali Ibu bilang? Kalau mau membuat sesuatu, harus yang rapi, simetris, dan sempurna. Lihat itu, sambungan bambunya miring dan tidak sejajar. Kalau bangunan aslinya seperti itu, orang yang lewat pasti akan celaka."

Senyuman di wajah Arkan kecil seketika memudar. Binar antusias di matanya meredup digantikan oleh rasa bersalah yang tiba-tiba mencengkeram dadanya. Ia menunduk, menatap miniatur jembatan buatannya yang kini tampak begitu jelek dan cacat di mata sang ibu.

"Tapi... tapi ini kan cuma mainan, Bu..." cicit Arkan kecil dengan suara bergetar kecil, menahan sesak di tenggorokannya.

"Mainan pun harus dikerjakan dengan benar atau lebih baik tidak usah sama sekali," balas Ibu dengan nada suara tegas namun dingin, sebuah standar perfeksionis yang tanpa sadar ditanamkan sejak dini di dalam lingkungan keluarga mereka. "Perfeksionisme adalah kunci kehormatan keluarga kita, Nak. Jangan pernah menghasilkan sesuatu yang setengah-setengah."

Kritik tajam yang dibalut ekspektasi tinggi itu menghujam langsung ke lubuk hati Arkan kecil. Sejak sore itu, di bawah naungan pohon rambai yang sama, sebuah pola pikir tertanam kuat di kepalanya: bahwa membuat kesalahan adalah sebuah dosa besar, dan kegagalan adalah aib yang tidak boleh diperlihatkan kepada siapa pun di dunia ini.

❖ ❖ ❖

Bertahun-tahun kemudian, bayang-bayang masa kecil yang sarat akan tuntutan perfeksionisme itu terus mengikuti setiap langkah Arkan hingga ia tumbuh dewasa. Di masa kini, dalam keheningan malam di kamar tidurnya, kilas balik kenangan masa lalu tersebut berputar kembali di dalam benaknya, memberikan pemahaman baru yang sangat mendalam tentang asal-usul beban psikologis yang selama ini ia pikul.

Duduk bersila di atas lantai kayu dengan memegang jurnal sang ayah di tangannya, Arkan menarik napas panjang. Tujuan utama Arkan merenungkan kembali memori masa kecilnya malam ini bukanlah untuk menyalahkan ibunya, melainkan untuk memahami akar ketakutan terbesarnya: rasa takut yang luar biasa terhadap kegagalan dan penolakan.

"Jadi, selama ini aku selalu menuntut diriku menjadi pilar yang sempurna tanpa boleh retak, karena aku takut mengecewakan standar yang ditanamkan sejak aku kecil," gumam Arkan pelan pada dirinya sendiri, menatap pantulan bayangannya di kaca jendela yang temaram.

Ingatannya melayang pada kejadian-kejadian lain di masa lalu. Ketika ia berusia dua belas tahun, ia dilarang mengikuti lomba lukis antar-kecamatan karena goresan kuasnya dinilai tidak cukup rapi oleh sang ayah. Ketika ia berusia enam belas tahun, ia dilarang mencoba berwirausaha mandiri karena dianggap belum memiliki pengalaman yang sempurna untuk menghindari risiko kerugian. Lingkungan di sekitarnya selalu mendidiknya dengan doktrin mutlak: Jangan mencoba jika hasilnya tidak sempurna.

"Ayah... Ibu..." bisik Arkan lirih, menatap sampul jurnal almarhum ayahnya. "Kalian mengajarkan cara bertahan hidup dengan kekuatan baja, tapi kalian lupa mengajarkan bagaimana cara memaafkan diri sendiri ketika bangunan baja itu mulai berkarat dan retak."

Tujuan Arkan malam ini adalah sebuah proses penyembuhan batin—mendamaikan diri dengan masa lalunya. Ia menyadari bahwa dorongan perfeksionis yang membuatnya stres menghadapi ancaman PT Rimbai Sejahtera, utang bank, dan konflik dengan para klien lamanya berakar dari ketakutan masa kecil bahwa dirinya tidak akan pernah dicintai atau dihargai jika ia melakukan kesalahan.

Ia membuka lembar demi lembar jurnal ayahnya, mencari bagian catatan yang membahas tentang proses tumbuh kembang seorang anak. Di salah satu halaman tengah, tulisan tangan sang ayah seolah menjawab pertanyaannya yang belum terucap.

“Anakku, Arkan,” tulis sang ayah dalam jurnal bertanggal lama. “Pohon rambai yang besar tidak tumbuh langsung kokoh dalam semalam. Ia melewati ribuan badai, ranting yang patah, dan akar yang terluka di dalam tanah yang gelap. Kesempurnaan adalah ilusi manusia, tetapi keberanian untuk mencoba meski penuh kekurangan adalah esensi sejati kehidupan.”

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut, membawa keheningan yang menenangkan ke seluruh penjuru Rumah Kayu Arimbai. Suara angin berhembus pelan melewati dahan-dahan pohon rambai di luar, menciptakan suara gesekan daun yang berirama bagai senandung alam masa lalu.

Arkan menutup jurnal ayahnya perlahan. Sensasi kelegaan yang hangat merayap di dadanya, menggantikan beban psikologis yang selama ini menghimpit pernafasannya. Kilas balik masa kecil tentang larangan untuk mencoba dan tuntutan kesempurnaan kini bertransformasi menjadi sebuah kesadaran baru yang membebaskan.

"Aku bukan lagi anak kecil berusia sembilan tahun yang takut dimarahi karena jembatan bambunya miring," ucap Arkan pada dirinya sendiri, tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala pelan. "Aku adalah Arkan Ar Rimbai—seorang lelaki dewasa yang berhak membuat kesalahan, berhak merasa rapuh, dan yang terpenting, berhak bangkit kembali untuk memperbaikinya."

Transisi mental ini menjadi titik balik paling krusial dalam perjalanan hidup Arkan. Ia tidak lagi memandang nama besar keluarganya sebagai beban kutukan kesempurnaan, melainkan sebagai sebuah warisan keteguhan moral untuk terus berani melangkah, terlepas dari seberapa banyak rintangan atau cela yang mungkin ia buat di sepanjang jalan.

Ia beranjak dari tempat duduknya di kamar, melangkah pelan keluar menuju beranda belakang rumah. Udara malam yang dingin menyambut kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa gentar. Matanya menerawang menatap kegelapan pekat di halaman luar, tempat siluet pohon rambai berdiri megah menghujam bumi.

"Kak? Belum tidur?" suara lembut Kirana menyelinap dari balik pintu ruang tengah. Adiknya berjalan mendekat sambil membawa segelas air hangat.

Arkan menoleh, menyambut kedatangan adiknya dengan senyuman tulus yang jarang sekali terlihat selebar itu di wajahnya belakangan ini. "Belum, Kirana. Kakak sedang merenungkan banyak hal tentang masa kecil kita."

Kirana menyerahkan gelas air hangat itu, lalu ikut bersandar di sebelah kakaknya menatap halaman luar. "Masa kecil kita memang penuh dengan aturan ketat dari Ibu dan Ayah. Kadang-kadang Kirana merasa lelah harus selalu menjadi anak yang sempurna di mata warga desa."

Arkan merangkul pundak adiknya pelan, memberikan kehangatan yang menenangkan. "Kita semua kelelahan, Kirana. Karena kita dididik untuk percaya bahwa kesalahan adalah sebuah aib besar. Tapi mulai hari ini, Kakak ingin mengubah cara kita memandang hidup itu."

"Mengubah bagaimana, Kak?" tanya Kirana dengan sorot mata penasaran.

"Kita tidak perlu menjadi manusia tanpa cela untuk bisa berharga," jawab Arkan penuh keyakinan. "Kita boleh gagal, kita boleh jatuh, dan kita boleh merintis kembali dari nol. Yang terpenting adalah keberanian kita untuk terus mencoba dan tidak pernah menyerah pada keadaan."

Kirana tersenyum manis, mengangguk paham. Kehangatan malam itu menyatukan ikatan batin di antara kedua kakak beradik tersebut, mempersiapkan mereka menyambut fajar pertempuran baru keesokan harinya.

❖ ❖ ❖

Mentari pagi hari berikutnya menyingsing dengan cahaya keemasan yang cerah di atas Desa Rimbai. Pukul delapan pagi, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh suara mesin kendaraan bermotor yang berhenti beruntun di depan halaman rumah Arkan.

Lihat selengkapnya