Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Kerja sama tim

Kerja sama tim yang mulai membaik dengan para pekerja senior di bengkel.

Matahari baru saja naik sepenggalah di atas cakrawala kawasan niaga lama kota kabupaten, memancarkan bias cahaya putih keemasan yang menembus ventilasi atap seng bengkel Hardiman. Pukul sembilan lewat lima belas menit pagi, suasana di dalam bangunan berukuran besar itu terasa begitu dinamis dan penuh gairah kerja. Aroma khas pelumas mesin, bau besi panas yang baru saja dilas, berpadu dengan suara dentuman palu baja yang menghantam landasan logam secara berirama.

Di salah satu sudut ruang kerja utama, di dekat mesin bubut raksasa yang berputar kencang, Arkan tampak berdiri berdampingan dengan Pak Slamet. Pak Slamet adalah seorang pekerja senior berusia kepala lima yang memiliki garis-garis kerut di wajah akibat puluhan tahun ditempa teriknya matahari bengkel. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis tampak basah oleh keringat, namun tangannya yang kokoh tetap lincah memegang tangkai las listrik, menyatukan kembali kerangka besi alat pengupas karet milik warga desa.

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden menegangkan di mana Arkan berhasil mematahkan surat pembekuan izin dan eksekusi fiktif dari PT Rimbai Sejahtera. Kini, hubungan antara Arkan dan para pekerja senior di bengkel Hardiman telah mengalami perubahan total. Yang dulunya dipenuhi kecurigaan, rasa sebal terhadap masa lalu Arkan, serta ego sektoral, kini perlahan-lahan mencair menjadi sebuah kerja sama tim yang solid dan saling melengkapi.

"Tahan bagian sambungan bawahnya agak ke kiri sedikit, Arkan! Jangan sampai miring dua milimeter pun," seru Pak Slamet di tengah deru suara mesin las yang memercikan bunga api ke udara.

Arkan tidak membalas dengan protes atau rasa tersinggung seperti tabiat masa lalunya yang perfeksionis dan mudah defensif. Dengan sigap dan tenang, ia menyesuaikan posisi penjepit besi menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kacamata pelindung.

"Sudah pas begini, Pak Slamet? Coba periksa lagi apakah sudutnya sudah sejajar dengan standar mesin?" tanya Arkan dengan nada ramah, menunjukkan kerendahan hati yang tulus.

Pak Slamet mematikan mesin las sejenak, melepas kacamata pelindungnya, lalu membungkuk sedikit untuk mengamati hasil sambungan besi tersebut dengan teliti. Sebuah senyuman tipis akhirnya terukir di bibir pria paruh baya yang terkenal galak di kalangan pekerja muda itu.

❖ ❖ ❖

Pak Slamet mengangguk pelan, menepuk bahu Arkan dengan kepalan tangannya yang kasar. "Bagus! Pekerjaanmu kali ini jauh lebih teliti dibanding minggu lalu, Arkan. Kau sudah mulai belajar mendengarkan instruksi teknis lapangan tanpa harus sok tahu sendiri."

Arkan tersenyum lebar, merasa lega sekaligus bersyukur atas pujian langka dari pekerja senior yang paling dihormati di bengkel tersebut. "Terima kasih bimbingannya, Pak Slamet. Saya sadar teori di atas buku catatan tidak ada artinya tanpa pengalaman puluhan tahun di lantai bengkel seperti yang Bapak miliki."

Tujuan Arkan berada di bengkel Hardiman pagi ini bukan lagi sekadar melunasi utang finansial masa lalu atau sekadar numpang numpang numpang numpang mencari aliansi pertahanan hukum. Lebih dari itu, Arkan memiliki tujuan personal yang sangat penting: meleburkan diri sepenuhnya ke dalam kolektif kerja para buruh dan pekerja senior, belajar memahami sisi teknis kehidupan bawah yang selama ini ia abaikan karena terlalu sibuk memikirkan gengsi marga dan status sosial keluarganya.

"Kalau kita ingin memenangkan pertarungan melawan perusahaan PT Rimbai Sejahtera secara permanen, kita tidak bisa hanya mengandalkan surat-surat hukum di pengadilan," ujar Arkan saat mereka beristirahat sejenak di dekat meja kerja. "Kita harus membuktikan bahwa bengkel ini dan seluruh jaringan koperasi tani di bawahnya mampu mandiri secara ekonomi dan produksi alat-alat pertanian."

Pak Slamet mengambil botol air mineral dari atas meja, menegaknya separuh, lalu menatap Arkan dengan sorot mata serius. "Kau benar, anak muda. Perusahaan sebesar itu tidak akan takut pada gugatan pengadilan semata. Mereka baru akan gemetar jika melihat roda ekonomi rakyat kecil berputar kencang tanpa butuh belas kasihan modal mereka."

Tujuan para pekerja senior di bengkel itu kini seirama dengan tujuan Arkan. Mereka tidak lagi memandang Arkan sebagai mantan klien arogan yang menyusahkan, melainkan sebagai pemimpin muda yang mau merendahkan hati untuk belajar dari bawah. Kerja sama tim yang terbangun di antara mereka menjadi fondasi baru yang sangat kuat—sebuah aliansi antara ketekunan buruh senior dan visi strategis seorang pemuda yang telah berdamai dengan masa lalunya.

"Hari ini target kita menyelesaikan tiga unit mesin pengupas karet modifikasi pesanan koperasi desa sebelah," kata Pak Slamet memberikan komando kerja. "Apakah tim mudamu siap membantu bagian perakitan akhir?"

"Selalu siap, Pak Slamet!" jawab Arkan mantap, mengambil sarung tangan kulitnya dan bersiap kembali menghadapi deru mesin bengkel.

❖ ❖ ❖

Menjelang tengah hari, aktivitas di dalam bengkel Hardiman semakin padat dan sibuk. Suara bising mesin bubut dan hantaman palu baja berpadu dengan gelak tawa kecil di antara para pekerja yang saling melempar candaan ringan saat jam istirahat siang mulai mendekat.

Arkan berjalan membawa setumpuk komponen roda gigi mesin ke meja perakitan utama, tempat Niskala bersama dua orang pemuda karang taruna desa baru saja tiba membawa dokumen logistik dari koperasi tani.

"Wah, kelihatannya kerja sama di sini sudah seperti tim mekanik profesional, Arkan," sapa Niskala ramah sambil meletakkan map arsip di atas meja kosong, matanya menatap kagum ke arah Arkan yang tampak berlumuran sedikit noda oli di kemejanya.

Arkan meletakkan komponen besi itu, lalu menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan sambil tersenyum. "Ini berkat bimbingan Pak Slamet dan para pekerja senior lainnya, Nis. Aku baru tahu bahwa merakit sebuah mesin ternyata membutuhkan kepekaan rasa besi, bukan sekadar hitungan angka di atas kertas."

Pak Slamet yang sedang merokok lintingan di dekat pintu keluar mendekat, tertawa kecil mendengar ucapan Arkan. "Anak ini cepat belajar, Niskala. Dulu dia keras kepala, maunya serba sempurna versi pikirannya sendiri. Sekarang dia sudah tahu kapan harus merunduk dan kapan harus mendengarkan orang yang lebih berpengalaman."

"Itu artinya dia sudah benar-benar dewasa, Pak Slamet," timpal Niskala tersenyum manis, melirik Arkan dengan sorot mata penuh apresiasi.

Transisi hubungan sosial yang dialami Arkan mencerminkan metamorfosis kepribadiannya secara menyeluruh. Dari seorang pemuda desa yang terbelenggu oleh rasa gengsi, tuntutan perfeksionisme masa kecil, dan amarah akibat tekanan ekonomi, kini ia bertransformasi menjadi sosok kolaboratif yang menghargai setiap tetes keringat orang lain. Ia tidak lagi merasa harus memikul seluruh beban dunia sendirian di atas pundaknya yang sempit.

"Bagaimana perkembangan logistik dari koperasi untuk pengiriman mesin besok, Nis?" tanya Arkan mengalihkan topik pembicaraan ke urusan strategi perjuangan.

"Semua lancar," jawab Niskala serius. "Tiga unit mesin pengupas karet modifikasi ini sudah dipesan lunas oleh kelompok tani tetangga. Dana penjualannya langsung masuk ke kas bersama untuk memperkuat modal perlawanan hukum kita terhadap gugatan susulan PT Rimbai Sejahtera."

Kerja sama tim yang terjalin antara pekerja bengkel senior dan para pemuda desa menciptakan sebuah ekosistem pertahanan ekonomi yang tangguh. Mereka tidak lagi mudah diintimidasi karena mereka berdiri atas dasar kemandirian nyata.

❖ ❖ ❖

Di tengah suasana kerja sama tim yang berjalan harmonis dan penuh optimisme di dalam bengkel, ketegangan tiba-tiba muncul dari arah depan jalan raya. Suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak memecah siang yang terik.

Dua unit mobil sedan hitam mewah berplat nomor luar kota berhenti tepat di depan rolling door bengkel Hardiman yang terbuka lebar. Pintu mobil terbuka secara serentak, dan turunlah enam orang pria berbadan tegap berjas hitam, dipimpin langsung oleh pengacara korporasi utama suruhan PT Rimbai Sejahtera.

Lihat selengkapnya