Kilas Balik 4: Penyesalan Terbesar Arkan karena Meninggalkan Hobi Belajarnya Demi Validasi Orang Lain---
Sore hari di akhir Agustus 2026, cahaya jingga matahari merambat malas menembus kaca jendela kamar tidur Arkan di rumah warisan mendiang ayahnya. Udara di luar terasa hangat, membawa bau debu jalanan bercampur aroma daun mangga basah sisa gerimis siang tadi. Di dalam kamar yang kini tertata jauh lebih rapi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, Arkan duduk bersandar di kursi kerjanya. Di hadapannya terbentang sebuah album foto tua berdebu dengan sampul beludru hijau yang mulai usang, serta tumpukan buku catatan masa remaja yang sudah lama tidak pernah ia sentuh.
"Sudah hampir sepuluh tahun ya..." gumam Arkan pelan, jemarinya mengusap lembut permukaan sampul album foto tersebut.
Suasana di dalam kamar begitu sunyi, hanya ditemani oleh alunan instrumental gitar akustik dari radio kecil di sudut meja. Di masa-masa lalu, ruangan ini adalah tempat perlindungan paling aman di mana ia menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari berbagai hobi: merakit model kit pesawat tempur, membaca buku sejarah seni, menulis cerita pendek fiksi ilmiah, hingga membongkar pasang radio transistor rusak milik ayahnya. Namun, kenangan indah itu menyimpan sebuah duri penyesalan yang sangat tajam—sebuah masa di mana ia dengan sengaja meninggalkan seluruh hobi murninya itu demi mengejar validasi dan pengakuan sosial dari orang-orang yang salah, termasuk teman-teman masa remajanya dan sosok seperti Bagas.
"Kenapa dulu aku sebodoh itu?" tanyanya pada bayangannya sendiri di kaca jendela, merasakan sengatan ngilu di dadanya setiap kali ia membuka lembaran album foto masa lalu.
❖ ❖ ❖
Sebenarnya, tujuan utama Arkan membuka kembali album foto dan buku catatan masa remajanya sore ini bukanlah untuk meratapi masa lalu dengan kesedihan yang sia-sia. Ia ingin melakukan penggalian memori yang jujur untuk memahami akar penyebab dari rasa minder akut yang sempat melumpuhkan hidupnya di usia dewasa. Mengapa ia begitu mudah merasa kecil di hadapan Bagas? Mengapa ia begitu takut gagal dan gampang menyerah pada kritik orang lain? Jawabannya ternyata terkubur jauh di masa lalunya, pada hari-hari di mana ia melepaskan hobi belajar dan menciptanya demi mendapatkan pujian semu dari lingkungan sosial yang materialistis.
"Tujuanku hari ini adalah merangkai kembali kepingan diri yang dulu kutinggalkan demi kepuasan orang lain," bisik Arkan mantap, membuka halaman pertama album foto tersebut.
Di halaman itu, terpampang foto dirinya sewaktu SMA, memegang piala juara kelas dengan senyum yang tampak kaku dan dipaksakan. Di sampingnya, Bagas dan beberapa teman populer lainnya berdiri merangkul bahunya dengan penuh kebanggaan palsu. Pada masa itu, Arkan rela menghentikan hobinya menulis cerita fiksi dan merakit barang antik karena dianggap "aneh" dan "tidak gaul" oleh kelompok pergaulan populer sekolah. Ia memilih masuk ke dalam geng mereka, mengenakan pakaian mahal pinjaman, dan berbicara tentang topik-topik yang sama sekali tidak ia minati, semata-mata agar ia diakui sebagai bagian dari mereka.
"Aku mengorbankan kebahagiaan batiku sendiri hanya untuk sepotong pujian murahan," ucap Arkan lirih, matanya menatap tajam ke arah foto remajanya di dalam album.
❖ ❖ ❖
Jemari Arkan membalik halaman album foto itu perlahan, memperlihatkan foto-foto dari masa kuliah tingkat awal—masa di mana penyesalan terbesarnya mencapai puncak kehancuran. Di sebuah sudut kamar kos sempitnya dulu, tersimpan tumpukan buku ensiklopedia mekanik dan draf novel pertamanya yang terbengkalai begitu saja di bawah tempat tidur.
“Kenapa kamu masih sibuk nulis cerita nggak jelas begini, Arkan? Mau jadi pengemis seni?” Suara sindiran dari teman kuliahnya, Rian, tiba-tiba berkelebat tajam di dalam ingatan Arkan, seolah baru saja diucapkan di ruangan ini.
Arkan menarik napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak untuk meredakan gelombang emosi yang tiba-tiba bergolak. Dulu, ketika mendengar ejekan seperti itu, Arkan merasa sangat malu. Ia langsung menutup buku catatannya, memasukkan pena ke dalam laci, dan memutuskan untuk berhenti menulis seluruh karyanya. Ia mencoba mengikuti tren pergaulan kuliah yang boros, mengikuti gaya hidup hedonis teman-temannya, dan melamar pekerjaan kantoran bergengsi yang sama sekali tidak sesuai dengan minat jiwanya, hanya demi membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang "sukses" dan "keren".
"Dan hasilnya apa?" gumam Arkan getir, membuka matanya dan menatap sekeliling kamarnya yang sederhana namun jujur. "Hasilnya aku depresi, terlilit hutang, kehilangan arah, dan hidup dalam rasa minder yang luar biasa menyiksa selama bertahun-tahun."
Pengkhianatan terbesar dalam hidupnya bukanlah pengkhianatan dari orang lain, melainkan pengkhianatan yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri. Ia telah menjual hobi belajarnya yang murni demi mendapatkan validasi dari orang-orang yang bahkan tidak pernah peduli padanya secara tulus.