Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Nasihat ayah tentang integritas

Kilas Balik 5: Nasihat ayah tentang integritas di tengah dunia bisnis yang kejam.

Pukul 14.15 WIB, terik matahari siang membakar kawasan pelabuhan lama di Teluk Betung, Bandar Lampung, memantulkan kilau menyilaukan dari permukaan air laut yang tenang di pelabuhan. Di sebuah beranda rumah kayu sederhana yang menghadap langsung ke arah galangan kapal tua, aroma kayu jati basah berpadu dengan bau khas minyak pelumas mesin perahu. Di sanalah, lima tahun lalu sebelum penyakit jantung merenggut tenaga fisiknya, bapak biasa duduk menghabiskan waktu senggang sambil memperbaiki komponen karburator kecil di atas meja kerjanya yang penuh noda hitam. Sore itu, dalam lamunan Arkan yang sedang merapikan alat-alat di bengkel modern Pak Joko, bayangan masa lalu kembali berkelebat tajam di dalam ingatannya, membawa kembali suara berat sang bapak yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan paling berharga di tengah kerasnya dunia perniagaan pesisir.

"Lihat kunci pas ini, Arkan," ucap bapak dalam kenangan masa lalu, mengangkat sebuah kunci Inggris usang yang permukaannya sudah mulai terkelupas. "Alat ini murah harganya, tapi kalau kamu menggunakannya dengan jujur dan presisi, ia tidak akan pernah merusak baut sekecil apa pun pada mesin pelanggan."

Arkan muda yang saat itu baru menginjak usia delapan belas tahun hanya mengangguk kecil sambil menyeka keringat di dahinya. Ia belum sepenuhnya mengerti mengapa bapak selalu menolak tawaran-tawaran jalan pintas dari para pengepul besi tua yang sering mengajak bersekongkol memanipulasi takaran atau menggunakan suku cadang tiruan demi keuntungan instan. Bagi bapak, integritas adalah mata uang satu-satunya yang dimiliki oleh orang miskin di hadapan dunia yang kejam.

"Kenapa kita tidak ambil saja tawaran mereka, Pak? Toh hasilnya bisa buat kita makan enak minggu ini," protes Arkan kecil kala itu dengan nada kecewa.

Bapak tersenyum tenang, menepuk bahu anaknya dengan telapak tangan yang kasar penuh bekas luka bakar knalpot. "Keuntungan dari kecurangan itu umurnya pendek, Nak. Tapi nama baik dan kepercayaan orang akan melekat selamanya di tanganmu."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arkan mengenang kembali nasihat masa lalu tersebut di tengah kesibukan kerjanya saat ini adalah untuk memperkokoh prinsip moralnya tatkala ia dihadapkan pada godaan bisnis modern yang serba cepat namun abu-abu. Setelah berhasil merapikan pembukuan bengkel keluarganya dan membuktikan kemampuannya di bengkel Pak Joko, Arkan mulai didekati oleh beberapa pemasok suku cadang grosir yang menawarkan diskon besar-besaran untuk produk tiruan berkualitas rendah yang dikemas mirip suku cadang asli pabrikan. Tawaran tersebut menjanjikan selisih keuntungan berlipat ganda yang bisa langsung melunasi sisa seluruh utang medis bapak dalam hitungan bulan.

"Kalau kamu mau ambil jalur cepat ini, Arkan, tidak ada yang akan tahu kalau komponen rem ini bukan yang ori," ujar seorang sales grosir bernama Herman minggu lalu sambil menyodorkan katalog dengan senyuman penuh manipulasi. "Pelanggan awam tidak bisa membedakan mana besi tempaan pabrik resmi dan mana tiruan lokal."

Godaan itu sempat membuat Arkan termenung semalaman di kamar tidurnya. Dengan kondisi keuangan keluarga yang baru saja merangkak naik, tambahan uang dari selisih suku cadang tiruan tentu sangat menggiurkan. Namun, di saat kebimbangan melanda, kenangan akan tatapan mata bapak dan kata-kata tentang integritas kembali menghantam nuraninya.

"Tujuan saya bekerja bukan sekadar mencari uang sebanyak-banyaknya dengan cara mengorbankan keselamatan orang lain," gumam Arkan pada dirinya sendiri di sela-sela jam istirahat bengkel siang ini. "Bapak dulu mengajarkan bahwa mekanik yang kehilangan integritas sama saja dengan pengemudi yang sengaja memutus rem kendaraannya sendiri."

Arkan bertekad bulat untuk menolak segala bentuk jalan pintas yang tidak jujur, seketat apapun tekanan ekonomi yang masih menghimpit keluarganya. Ia ingin membuktikan bahwa kesuksesan sejati harus dibangun di atas fondasi kepercayaan dan kualitas kerja yang murni.

❖ ❖ ❖

Lamunan masa lalu itu perlahan memudar seiring dengan suara deru mesin gerinda yang kembali berputar kencang di sudut bengkel Pak Joko. Arkan menarik napas panjang, meresapi setiap butir peluh yang menetes di keningnya sebagai pengingat nyata bahwa ia sedang berdiri di atas jalan yang benar. Perjalanan hidupnya dari seorang pemuda yang penuh amarah dan keputusasaan menuju wirausahawan muda yang memegang teguh prinsip growth mindset dan integritas adalah sebuah proses metamorfosis yang tidak instan.

"Ada apa, Arkan? Dari tadi kulihat kamu termenung sambil memegang kunci torsi itu," sapa Rudi, montir senior yang kebetulan lewat membawa nampan berisi mur dan baut pengganti.

Arkan tersenyum tipis, menggeleng pelan menepis bayangan masa lalu. "Tidak apa-apa, Bang Rudi. Cuma sedang teringat pesan almarhum bapak tentang pentingnya menjaga kualitas kerja dan kejujuran dalam melayani pelanggan."

"Bapakmu orang yang sangat dihormati di kawasan pelabuhan ini, Arkan," kata Rudi menepuk lengan Arkan dengan penuh apresiasi. "Meskipun bengkel beliau kecil dan sempat terlilit utang, tidak pernah ada satupun pelanggan yang komplain soal kecurangan onderdil. Nilai itu yang sekarang langka di dunia bisnis."

Lihat selengkapnya