Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Kelelahan fisik dan mental melanda Arkan

Kelelahan fisik dan mental melanda Arkan; ia hampir mengalami burnout.

Pukul dua lewat empat puluh lima menit dini hari, suasana di dalam bilik kerja kecil Arkan terasa begitu sunyi dan pengap. Di luar, angin malam musim kemarau berembus pelan membawa debu halus yang menempel di kaca jendela kayu. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendar kekuningan dari sebuah lampu meja berkerudung kain kusam, menyinari tumpukan dokumen hukum, berkas audit koperasi, dan catatan utang yang berserakan tidak beraturan di atas meja.

Arkan duduk membungkuk di kursi kayu kerasnya. Wajahnya tampak pucat pasi dengan bayangan hitam pekat yang menggantung di bawah kedua kelopak matanya, menandakan ia sudah berhari-hari tidak tidur dengan layak. Napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal setiap kali ia mencoba membaca rentetan pasal hukum perdata yang terpampang di hadapannya.

Kepalanya terasa berdenyut-denyut hebat, bagaikan dipalu oleh ribuan godam kecil dari dalam tengkorak. Tubuhnya yang biasanya tegap kini terasa begitu ringan dan rapuh, seolah seluruh tenaga dan ototnya telah terkuras habis oleh gelombang tekanan hidup yang tidak pernah memberinya jeda sedetik pun.

"Arkan... kau belum tidur juga?" suara bisikan lembut mendadak terdengar dari ambang pintu kamar kerja yang terbuka setengah.

Arkan mendongak perlahan dengan gerakan kaku, menyeret matanya untuk menatap Niskala yang berdiri mengenakan selendang rajut tipis menutupi bahunya. Perempuan itu tampak cemas, menatap tajam ke arah cangkir kopi hitam yang sudah dingin dan mengering di atas meja Arkan.

"Belum, Nis," jawab Arkan dengan suara serak, hampir tidak terdengar di telinganya sendiri. "Ada begitu banyak draf somasi dan pembelaan lelang aset yang harus kupersiapkan sebelum matahari terbit."

Niskala melangkah masuk perlahan, mendekati meja kerja Arkan lalu meletakkan tangannya di atas tumpukan kertas tersebut untuk menghentikan tangan Arkan yang terus-menerus memegang bolpoin. "Dokumen-dokumen itu tidak akan lari ke mana-mana, Arkan. Tapi tubuhmu bisa ambruk kapan saja jika kau terus menyiksanya seperti ini."

Arkan menggelengkan kepalanya lemah, mencoba tersenyum tipis namun gagal. "Aku tidak boleh berhenti sekarang, Nis. Kalau aku berhenti, semuanya akan hancur."

❖ ❖ ❖

Arkan melepaskan bolpoin dari genggamannya yang gemetar, lalu menyandarkan punggungnya yang kaku ke sandaran kursi kayu. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang dipenuhi sarang laba-laba samar, sementara pikirannya melayang pada beban tujuan hidup yang semakin hari terasa semakin menghimpit rongga dadanya.

"Aku hanya ingin menyelesaikan semua kekacauan ini, Nis," ucap Arkan lirih, matanya menyiratkan kelelahan batin yang teramat sangat. "Aku ingin melunasi utang almarhum ayah, menyelamatkan rumah panggung ini, dan memastikan warga desa bisa hidup tenang tanpa ancaman penggusuran dari korporasi."

"Itu tujuan yang mulia, Arkan. Tapi cara yang kau tempuh saat ini justru sedang membunuh dirimu sendiri secara perlahan," sanggah Niskala dengan nada suara yang bergetar menahan rasa iba yang mendalam. "Kau tidak bisa menyelamatkan orang lain jika jiwamu sendiri sudah remuk redam di dalam sana."

Tujuan Arkan malam ini sebenarnya sederhana: menyelesaikan analisis dokumen hukum terakhir agar ia bisa mengajukan penundaan eksekusi lelang ke Pengadilan Negeri esok pagi. Namun, batas ketahanan fisik dan mentalnya kini telah mencapai titik jenuh yang paling ekstrem. Otaknya menolak untuk memproses kalimat hukum, dan jemarinya terasa mati rasa.

"Kau tidak mengerti, Nis," desis Arkan putus asa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar. "Sejak kecil, aku dididik untuk menjadi pilar terkuat keluarga. Aku harus sempurna. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan Ibu, Kirana, atau warga desa."

Niskala menarik kursi kecil di sebelah Arkan, lalu duduk dan menarik pelan tangan Arkan agar menjauh dari wajahnya. Ia menggenggam jemari Arkan yang dingin dengan erat. "Itu bukan lagi soal menjadi kuat, Arkan. Itu adalah burnout—kelelahan mental dan fisik yang parah. Otak dan tubuhmu sedang berteriak meminta istirahat."

"Aku takut, Nis..." aku Arkan dengan suara patah-patah, sebuah pengakuan rapuh yang baru pertama kali ia ucapkan selama bertahun-tahun berjuang seorang diri. "Aku takut jika aku memejamkan mataku malam ini, semua yang kuperjuangkan akan runtuh begitu saja."

Niskala tersenyum penuh kehangatan, mengusap punggung tangan Arkan dengan lembut. "Tutup matamu, Arkan. Biarkan aku berjaga di sini. Untuk malam ini saja, izinkan dirimu untuk tidak menjadi pahlawan."

❖ ❖ ❖

Hawa dingin dini hari semakin menusuk tulang ketika angin malam berembus melalui celah-celah dinding kayu rumah panggung tersebut. Arkan menatap manik mata Niskala yang memantulkan pendar lampu meja dengan sorot penuh ketulusan. Ada jeda panjang yang hening di antara mereka, diisi hanya oleh suara detak jarum jam dinding tua yang berdetak pelan.

Arkan menarik napas panjang, merasakan rongga dadanya terasa sesak seolah kekurangan oksigen akibat kurang tidur yang berkepanjangan. Transisi dari ambisi membabi buta menuju kesadaran akan kerapuhan ragawinya mulai merayap masuk ke dalam kesadaran Arkan yang semakin menipis.

"Kau benar, Nis..." bisik Arkan akhirnya, suaranya melemah seiring dengan hilangnya sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya. "Kepalaku terasa seperti mau pecah. Aku sudah tidak sanggup lagi berpikir jernih."

Niskala mengangguk mengerti, lalu dengan perlahan membantu Arkan berdiri dari kursi kayunya yang keras. "Mari, Arkan. Pindahkan tidurmu ke ranjang. Istirahatlah barang sejenak."

Dengan langkah tertatih dan sempoyongan, Arkan membiarkan dirinya dituntun oleh Niskala menuju ranjang tidur sederhana di sudut ruangan kerjanya. Tubuhnya yang limbung langsung ambruk begitu menyentuh permukaan kasur kapuk yang empuk, memberikan kelegaan instan pada tulang-tulangnya yang terasa remuk.

Niskala menarik selimut tebal wol untuk menutupi tubuh Arkan yang mulai menggigil kecil akibat kelelahan ekstrem. Ia lalu memadamkan lampu meja kerja, membiarkan ruangan tersebut diselimuti cahaya temaram bulan sabit yang menyusup lewat jendela.

Transisi gestur sederhana itu menjadi simbol pelepasan beban yang luar biasa bagi Arkan. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dihantam badai konflik, gugatan hukum, dan ancaman kemiskinan, pertahanan mental Arkan yang kaku akhirnya runtuh dalam arti yang positif—ia menyerah pada kelelahan ragawinya sendiri demi mencari sedikit kedamaian batin.

Niskala duduk bersimpuh di samping ranjang, merapikan helai rambut Arkan yang berantakan di atas bantal. "Tidurlah, Arkan. Aku akan menjaga berkas-berkas ini di luar."

Arkan memejamkan matanya, merasakan gelombang kantuk yang luar biasa berat langsung menyeret kesadarannya ke dalam keheningan malam yang lelap.

❖ ❖ ❖

Di tengah lelapnya tidur Arkan yang baru berjalan sekitar dua jam untuk memulihkan burnout fisiknya, suasana luar rumah tiba-tiba dikejutkan oleh suara gaduh yang memecah keheningan subuh. Pukul empat lewat tiga puluh menit pagi, deru mesin kendaraan truk berat dan suara benturan keras terdengar dari arah jalan setapak depan rumah.

Lihat selengkapnya