Arkan mulai merintis program pelatihan gratis untuk anak-anak muda sekitar yang putus sekolah
Pukul 14.15 WIB, terik matahari siang memantulkan sinarnya yang menyengat di atas pelataran beton halaman belakang Bengkel Mandiri Teknik di kawasan Teluk Betung, Bandar Lampung. Suasana di sekitar area kerja tampak berbeda dari hari-hari biasa; sebuah papan tulis putih berdiri kokoh di dekat dinding samping gudang, dikelilingi oleh belasan kursi plastik sederhana yang disusun melingkar rapi. Di hadapan papan tulis tersebut, Arkan berdiri dengan mengenakan kemeja kerja bersih berlogo bengkel, memegang sepidol hitam di tangan kanannya dengan postur tubuh yang tegap dan penuh percaya diri. Di sekelilingnya, duduk lima orang remaja berusia belasan tahun dengan pakaian agak kusam dan ekspresi wajah yang masih menyiratkan kebingungan sekaligus rasa ingin tahu yang besar.
Remaja-remaja tersebut adalah anak-anak muda sekitar lingkungan pelabuhan yang terpaksa putus sekolah karena kendala biaya hidup, mirip dengan kondisi Arkan beberapa tahun lalu sebelum ia bangkit dan menemukan arah hidupnya melalui bimbingan Pak Joko dan Niskala. Angin sepoi-sepoi dari arah Teluk Lampung membawa bau khas air laut bercampur aroma oli mesin, menemani dimulainya langkah besar Arkan untuk membagikan ilmu yang telah ia peroleh dengan susah payah kepada generasi penerus yang senasib.
"Selamat siang semuanya. Senang sekali melihat kalian bisa hadir di sini tepat waktu," sapa Arkan ramah, membuka sesi pertemuan perdana program pelatihan mekanik gratis tersebut.
Salah seorang remaja berambut agak berantakan bernama Rian mengangkat tangan ragu-ragu. "Kak Arkan, beneran ini tidak dipungut biaya sama sekali? Kami kan tidak punya uang untuk bayar uang pendaftaran atau beli buku teori mahal."
Arkan tersenyum lebar, menatap satu per satu mata anak-anak muda di hadapannya dengan penuh kehangatan. "Benar, Rian. Pelatihan ini seratus persen gratis. Yang kalian butuhkan di sini bukan uang, melainkan kemauan keras untuk belajar dan disiplin tinggi."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arkan menginisiasi program pelatihan gratis ini bukan sekadar mengisi waktu luang di sela-sela kesibukan bengkelnya, melainkan mewujudkan sebuah misi sosial yang sudah lama bersemayam di dalam hatinya: memutus rantai kemiskinan dan pengangguran di kalangan anak muda putus sekolah di kawasan Teluk Betung. Arkan ingin membuktikan bahwa keterampilan teknis perbengkelan modern dan penerapan growth mindset yang menyelamatkan hidupnya juga harus bisa diakses oleh mereka yang selama ini terpinggirkan oleh keadaan ekonomi. Melalui program ini, ia berambisi melahirkan mekanik-mekanik muda yang jujur, terampil, dan siap kerja secara mandiri tanpa harus terjerumus ke dalam pergaulan bebas atau keputusasaan jalanan.
"Tujuan kita berkumpul di sini bukan cuma buat belajar cara bongkar pasang mesin motor atau mobil, kawan-kawan," jelas Arkan tegas sambil menuliskan kalimat 'Mentalitas Pembelajar' di atas papan tulis putih. "Tapi kita akan belajar bagaimana cara mengubah pola pikir kita dari merasa tidak bisa menjadi pasti bisa melalui latihan konsisten."
Rian dan teman-teman sebayanya menyimak setiap kata yang diucapkan Arkan dengan saksama, seolah menemukan secercah harapan baru di tengah masa depan suram yang selama ini mereka bayangkan. Bagi Arkan, membagikan ilmu adalah bentuk rasa syukur tertinggi atas segala nikmat kebangkitan moral dan finansial yang telah dicapai keluarganya setelah melewati berbagai badai ujian hidup.
"Kalau kalian sungguh-sungguh mengikuti pelatihan ini sampai selesai, saya jamin kalian tidak hanya punya skill di tangan, tapi juga mental baja untuk menghadapi kerasnya dunia kerja di luar sana," lanjut Arkan dengan nada penuh keyakinan yang membakar semangat para peserta.
❖ ❖ ❖
Langkah Arkan untuk mendirikan program pelatihan gratis ini tentu tidak lahir dari ruang kosong. Ingatannya melayang kembali pada masa-masa sulit beberapa tahun lalu, ketika ia menjadi pemuda putus sekolah yang kebingungan mencari arah, menatap nanar bengkel-bengkel besar yang menolak lamarannya karena ia tidak memiliki ijazah formal atau modal uang kursus. Transisi dari seorang pemuda korban keadaan yang penuh amarah menjadi seorang mentor muda yang dihormati merupakan buah dari konsistensi penerapan prinsip growth mindset yang diajarkan oleh Niskala dan nilai integritas moral dari almarhum bapaknya.
"Hebat juga inisiatifmu ini, Arkan," puji Pak Joko yang tiba-tiba muncul dari pintu samping bengkel membawa segelas kopi hangat. "Mengumpulkan anak-anak jalanan putus sekolah dan melatih mereka secara cuma-cuma bukan pekerjaan mudah."
Arkan menoleh, tersenyum hormat kepada mentor utamanya itu. "Dulu saya di posisi mereka, Pak Joko. Kalau bukan karena orang-orang seperti Bapak dan Mbak Niskala yang mau membimbing saya tanpa memandang sebelah mata, mungkin saya sekarang masih mengeluh di pinggir jalan."