Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

Arkan membantu salah satu mantan

Empati diuji: Arkan membantu salah satu mantan pesaingnya yang sedang bangkrut.

Matahari sore di kawasan pasar lama Desa Rimbai memancarkan pendar kuning keemasan yang hangat, menyinari jalanan aspal yang mulai sepi dari hiruk-pikuk pedagang keliling. Pukul empat lewat sepuluh menit sore, udara gerah sisa siang hari perlahan berganti menjadi sejuk seiring tiupan angin senja yang membawa aroma debu jalanan dan wangi masakan dari warung-warung kecil di sudut perempatan.

Di teras sebuah ruko sembako berukuran kecil yang tampak usang dan hampir roboh, seorang pria berbadan kurus bersetelan kemeja lusuh tampak terduduk lesu di atas kursi plastik biru. Pria itu menatap kosong ke arah tumpukan kardus kosong dan etalase kaca yang sudah kosong melompong tanpa barang dagangan.

Itu adalah Hartono, pemilik UD Jaya Makmur—mantan pesaing bisnis utama Arkan yang dulu pernah menjatuhkan harga pasar secara tidak sehat, memanipulasi distribusi pupuk bersubsidi, dan bekerja sama dengan korporasi PT Rimbai Sejahtera untuk menyingkirkan koperasi tani lokal. Namun roda nasib berputar begitu kejam; setelah PT Rimbai Sejahtera dipidanakan dan gulung tikar akibat kasus korupsi suap perizinan, Hartono ikut terseret arus kebangkrutan total. Seluruh aset tokonya disita bank, mitra bisnisnya kabur meninggalkan utang menumpuk, dan kini ia sebatang kara menanggung malu di tengah desa tempat ia dulu berjaya dengan cara-cara curang.

"Hartono, kemasi barang-barangmu sekarang juga! Pemilik gedung ini sudah memberikan batas waktu sampai sore ini untuk mengosongkan ruko," bentak seorang penagih utang berbadan gempal dari kejauhan, melemparkan sebuah kardus kardus kosong ke lantai teras dengan kasar sebelum pergi berlalu.

Hartono tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam-dalam, memegang kepalanya yang dipenuhi uban dengan kedua tangan yang gemetar hebat, menanggung beban penyesalan mendalam atas segala keserakahan masa lalunya.

Arkan yang kebetulan sedang melintas bersama Niskala seusai mengurus administrasi balai desa mendadak menghentikan langkah kaki mereka di dekat perempatan jalan tepat di depan ruko Hartono tersebut.

"Bukankah itu Hartono, musuh bebuyutan yang dulu hampir menghancurkan koperasi kita?" bisik Niskala terkejut, melirik Arkan dengan sorot mata penuh tanda tanya.

❖ ❖ ❖

Arkan berdiri terpaku di tepi jalan setapak, memandang lurus ke arah Hartono yang tampak begitu rapuh dan tak berdaya di teras ruko yang kosong. Pemandangan itu memicu pertarungan batin yang luar biasa sengit di dalam dada Arkan. Di satu sisi, logika dan ingatannya masih merekam dengan jelas betapa liciknya Hartono dulu ketika bersekongkol dengan korporasi untuk menghancurkan hidup keluarganya dan memiskinkan warga desa. Rasa benci dan dendam yang sempat membara di masa lalu seolah berbisik agar Arkan membiarkan Hartono menuai apa yang telah ia tabur sendiri.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Arkan? Jangan bilang kau mau mendekati orang itu setelah semua penderitaan yang ia timpakan pada kita?" tanya Niskala memperingatkan, menahan lengan jaket Arkan dengan ekspresi wajah ragu-ragu.

"Aku melihat seseorang yang sedang berada di jurang kehancuran total, Nis," jawab Arkan tenang, matanya menerawang menatap punggung Hartono yang membungkuk lesu. "Dendam masa lalu tidak akan pernah bisa mengenyangkan perut orang yang kelaparan atau memulihkan martabat manusia yang sudah runtuh."

Tujuan Arkan melangkah mendekati ruko Hartono sore ini bukan lagi tentang urusan bisnis atau persaingan dagang masa lalu, melainkan sebuah ujian empati yang sangat luhur. Ia ingin menguji seberapa jauh kapasitas hatinya untuk memaafkan, membantu, dan merangkul seorang mantan pesaing yang kini terpuruk di titik nadir kehidupannya.

Arkan melangkah perlahan menyeberangi jalan berdebu, meninggalkan Niskala yang terpaku sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah pemuda itu dari belakang.

"Hartono," panggil Arkan dengan suara tenang dan berwibawa ketika ia sudah berdiri tepat di depan teras ruko tersebut.

Hartono terperanjat kaget. Ia mendongakkan kepalanya perlahan, menyipitkan mata menatap sosok pemuda yang berdiri di hadapannya. Begitu ia mengenali bahwa pria di depannya adalah Arkan—pemuda yang dulu sering ia fitnah dan jegal bisnisnya—wajah Hartono seketika memerah karena rasa malu yang luar biasa besar.

"Arkan...? Untuk apa kau datang ke sini? Mau menertawakan kebangkruranku? Mau meludahi muka orang yang dulu berusaha menghancurkanmu?" cibir Hartono sinis dengan suara parau, memalingkan wajahnya ke samping karena tidak sanggup menatap langsung manik mata Arkan.

"Kalau aku datang untuk menertawakanmu, Hartono, aku tidak akan berdiri di sini sore-sore begini," ucap Arkan lembut, melangkah naik ke teras dan berdiri tepat di hadapan kursi plastik tempat Hartono terduduk.

❖ ❖ ❖

Suasana di teras ruko yang usang itu mendadak diselimuti keheningan yang tegang. Hartono menelan ludahnya susah payah, mencengkeram erat pinggiran kursi plastiknya seolah bersiap menerima makian atau pukulan balasan atas segala kejahatan yang pernah ia perbuat di masa lalu.

Namun, alih-alih melontarkan kata-kata amarah atau hinaan setimpal, Arkan justru melepas jaket kain tebalnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas meja kayu kosong di sebelah Hartono. Transisi gestur penuh kedamaian itu meruntuhkan pertahanan emosional Hartono dalam sekejap.

"Aku tidak punya waktu untuk membenci orang yang sedang tenggelam, Hartono," ujar Arkan dengan nada suara yang sangat tulus, tanpa ada secercah pun nada merendahkan di dalamnya. "Dulu kita adalah pesaing di pasar, dan kita sama-sama tahu betapa kerasnya cara bermain korporasi saat itu. Kau memilih jalan yang salah, dan sekarang kau sudah membayar harganya lunas."

Hartono menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca, air mata penyesalan yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga membasahi pipinya yang keriput. "Aku sudah kehilangan segalanya, Arkan... tokoku disita, rumahku dilelang, istriku pergi, dan teman-teman bisnisku yang dulu menjilatku kini lari meninggalkanku begitu aku bangkrut. Aku memang bajingan egois yang pantas mendapatkan semua ini."

Niskala yang berdiri beberapa langkah di belakang Arkan perlahan melangkah maju, menyaksikan percakapan itu dengan rasa haru yang mendalam. Transisi sikap Arkan dari seorang pemuda yang penuh dendam masa lalu menjadi sosok pemimpin yang memiliki empati tanpa batas benar-benar membuka mata Niskala tentang arti sejati dari sebuah kematangan jiwa.

"Tidak ada manusia yang tidak bisa memperbaiki diri, Hartono. Selama kau masih bernapas, selalu ada kesempatan untuk bangkit dari nol," ucap Niskala lembut, menyumbangkan suaranya untuk memberikan dukungan moral kepada mantan pesaing tersebut.

Hartono menatap Arkan dan Niskala bergantian, seolah tidak percaya bahwa orang-orang yang dulu pernah ia khianati kini justru berdiri di hadapannya menawarkan uluran tangan alih-alih kebencian.

"Kenapa... kenapa kalian tidak mengusirku saja dari desa ini?" tanya Hartono terisak, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lututnya.

"Karena dendam hanya akan memperpanjang rantai kebencian di desa kita," jawab Arkan tegas, menepuk pelan bahu Hartono yang bergetar hebat.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya