Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Arkan Acuh Tak Acuh

Masa Ketika Arkan Acuh Tak Acuh pada Penderitaan Orang Lain---

Matahari sore di pusat kota metropolitan memancarkan bias cahaya keemasan yang memantul menyilaukan pada dinding-dinding kaca gedung pencakar langit berlantai puluhan. Pukul 16.30 WIB, hiruk-pikuk lalu lintas di jalan raya utama terasa begitu padat dan menyesakkan dada. Klakson kendaraan saling sahut-menyahut, berpadu dengan deru mesin mobil mewah dan langkah kaki para pejalan kaki berjas rapi yang bergegas mengejar kereta bawah tanah. Di trotoar jalan yang lebar itu, udara terasa panas oleh polusi knalpot, jauh sekali dari ketenangan kawasan industri pinggiran tempat Bengkel Jaya Abadi berdiri sekarang.

Di sebuah kafe waralaba mewah berpendingin udara dingin yang terletak di lantai dasar gedung perkantoran elit, Arkan duduk bersandar malas di sofa kulit sintetis berwarna hitam legam. Usianya saat itu baru menginjak pertengahan dua puluhan, namun gaya hidupnya sudah mencerminkan seorang pemuda metropolitan yang sukses secara finansial. Ia mengenakan kemeja jenama impor berkerah tinggi dengan kancing atas terbuka, jam tangan bermerek mahal melingkar di pergelangan tangan kanannya, serta sebuah ponsel pintar keluaran terbaru yang terus berdengung menampilkan notifikasi perdagangan saham dan pesan dari klien-klien bisnis kelas atas.

Di hadapannya, secangkir cappuccino hangat mengepulkan aroma kopi pekat. Arkan menyesap minumannya sambil menatap acuh tak acuh ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke trotoar jalan di luar kafe. Matanya menyapu kerumunan manusia yang lalu-lalang dengan tatapan dingin, seolah dunia di sekitarnya hanyalah panggung sandiwara yang tidak memiliki arti emosional baginya.

"Ar, jadi bagaimana keputusan investasi proyek perluasan bengkel pusat kota minggu ini?" tanya seorang rekan bisnis muda berjas rapi yang duduk di seberangnya sambil merapikan dokumen portofolio.

Arkan mendongak santai, menyunggingkan senyum tipis yang arogan. "Santai saja, bro. Selama modal kita kuat dan kita bisa menekan biaya operasional sekecil-kecilnya, para montir kelas bawah itu mau mengeluh apa pun tidak akan mengubah hasil."

Sikap acuh tak acuh itu begitu kental, memperlihatkan masa lalu Arkan yang egois, dingin, dan menutup mata rapat-rapat terhadap penderitaan sesama manusia.

❖ ❖ ❖

Arkan meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas piring kecil dengan gerakan lambat yang disengaja. Pada masa itu, tujuan hidup Arkan sangat sempit dan materialistis: menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya, memperluas pengaruh bisnis otomotif keluarganya dengan cara apa pun, dan memastikan namanya tercatat sebagai pengusaha muda paling disegani di kota metropolitan. Ia tidak peduli dengan kesejahteraan para pegawai bawahannya, tidak ambil pusing dengan keluhan montir-montir senior yang kelelahan, dan menganggap empati sebagai kelemahan fatal yang hanya akan memperlambat laju keuntungan bisnis.

"Yang penting bagi kita adalah margin keuntungan bersih naik dua puluh persen setiap triwulan," kata Arkan menanggapi pertanyaan rekannya dengan nada suara yang datar dan dingin. "Kalau ada montir yang tidak sanggup mengejar target jam kerja harian, ya silakan diganti dengan tenaga kerja baru yang lebih murah di luar sana. Kota ini penuh dengan pengangguran yang siap bekerja dengan upah rendah."

Rekan bisnisnya mengangguk-angguk setuju sambil tersenyum sinis. "Benar juga katamu, Ar. Kalau kita terlalu memikirkan perasaan atau kesulitan hidup mereka, bisnis kita malah akan merugi karena biaya kesejahteraan."

Bagi Arkan di masa lalu, penderitaan orang lain—termasuk para pekerja bengkel yang mengalami cedera ringan atau kesulitan finansial—hanyalah gangguan kecil yang tidak perlu mendapat perhatian serius. Ia terbiasa hidup dalam gelembung kenyamanan materi yang dibangun oleh kesuksesan semu ayahnya di masa lalu, tanpa pernah mau memahami peluhnya orang-orang di balik layar yang merawat mesin kendaraan setiap hari.

Tujuan utamanya hari ini di kafe mewah itu adalah menyelesaikan kontrak akuisisi sepihak terhadap sebuah bengkel independen kecil milik seorang montir tua yang sedang terbelit utang. Arkan ingin memanfaatkan kelemahan finansial montir tua tersebut untuk merampas aset tanah dan peralatannya dengan harga murah, tanpa sedikit pun merasa bersalah atas nasib keluarga sang montir yang akan terlantar di jalanan.

"Surat akta pengambilalihan asetnya sudah kubawa di dalam tas," kata Arkan dingin sambil menepuk tas kerja kulitnya. "Nanti sore kita langsung datangi tempatnya dan paksa dia menandatangani dokumen itu."

❖ ❖ ❖

Menjelang pukul 17.15 WIB, Arkan dan rekan bisnisnya meninggalkan kafe mewah ber-AC tersebut, melangkah keluar menuju mobil sedan sport hitam berkecepatan tinggi yang terparkir di tempat khusus basemen gedung. Udara sore kota metropolitan terasa semakin pengap oleh asap kendaraan yang terjebak kemacetan jam pulang kantor. Arkan duduk di kursi pengemudi, mengenakan kacamata hitam berdesain tajam, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mesin mobil meraung kencang membelah jalanan kota menuju kawasan industri tua tempat bengkel target mereka berada.

Sepanjang perjalanan di dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk, alunan musik disko modern berdentum keras dari pengeras suara, menenggelamkan segala suara bising dan jeritan realitas kehidupan di luar jendela kaca. Arkan menikmati posisi dominannya sebagai pemuda kaya yang memegang kendali penuh atas nasib orang lain.

"Sebentar lagi bengkel tua itu akan jadi milik kita, Ar. Tempat itu strategis untuk cabang logistik suku cadang baru," ucap rekan bisnisnya dari kursi penumpang sambil tersenyum lebar.

"Sudah kubilang, di dunia bisnis modern ini, yang kuat memangsa yang lemah adalah hukum alam yang wajar," jawab Arkan dingin tanpa menoleh sedikit pun.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah bengkel independen tua berukuran kecil yang terletak di sudut jalan sempit kawasan industri pinggiran kota. Papan nama bengkel tersebut tampak sudah berkarat dan miring, cat dindingnya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kondisi ekonomi pemiliknya yang benar-benar di ambang kebangkrutan.

Arkan membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan langkah arogan. Ia merapikan jas mahalnya, sementara rekan bisnisnya mengekor di belakang. Di teras bengkel yang kotor oleh ceceran oli hitam, tampak seorang montir paruh baya berambut beruban—Pak Slamet—duduk bersimpuh lemah di atas bangku kayu usang sambil memegang selembar surat tagihan medis rumah sakit.

Wajah Pak Slamet tampak pucat pasi, matanya sembab karena menangis, mencerminkan keputusasaan yang teramat dalam akibat beban utang pengobatan anaknya yang sakit keras.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya