Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #53

Hubungan Arkan dengan ibunya

Hubungan Arkan dengan ibunya mencapai titik keharmonisan tertinggi; air mata kelegaan.

Matahari sore di Kota Bandar Lampung merayap turun perlahan di ufuk barat, memantulkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca ruang tamu rumah keluarga Arkan. Tanggal 25 Agustus 2026, suasana di dalam rumah utama tersebut terasa begitu hangat, tenang, dan dipenuhi oleh aroma harum teh melati serta kue lapis legit buatan tangan yang baru saja dikeluarkan dari oven. Tidak ada lagi ketegangan bisnis, teror sindikat, atau dering telepon darurat yang mencemaskan; yang terdengar hanyalah detak jam dinding antik berbandul kayu dan desau angin sore yang mengoyak dedaunan pohon mangga di halaman depan.

Di atas sofa beludru berwarna hijau lumut yang sudah tampak uzur namun dirawat dengan sangat rapi, Ibu Arkan—Ibu Ratna—duduk dengan anggun mengenakan selendang batik sutra berwarna merah marun. Wajahnya yang mulai dihiasi keriput usia senja tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa bulan lalu ketika badai krisis keuangan hampir merenggut seluruh peninggalan mendiang suaminya. Di hadapannya, secangkir teh hangat mengepulkan uap tipis ke udara.

Arkan melangkah masuk ke ruang tamu dengan langkah pelan, mengenakan kemeja katun putih lengan pendek yang digulung rapi. Tangannya membawa nampan kecil berisi mangkuk porselen putih berisi bubur kacang hijau kesukaan ibunya. Posturnya tegap, namun sorot matanya menyiratkan kelembutan yang dalam saat ia menatap wanita paruh baya yang telah melahirkannya dan merawatnya melalui badai kehidupan.

"Sore, Ibu," sapa Arkan lembut sambil meletakkan nampan di atas meja kayu jati di hadapan ibunya. "Bagaimana perasaan Ibu sore ini? Apakah udara AC-nya terlalu dingin?"

Ibu Ratna mendongak, menatap putranya dengan senyuman tipis yang sangat menenangkan. Garis-garis ketegangan yang dulu selalu membayangi wajahnya kini telah lenyap, digantikan oleh kedamaian batin yang terpancar dari matanya yang teduh. "Sore, Arkan. Ibu baik-baik saja, Nak. Udara sore ini justru terasa sangat menyegarkan. Duduklah di sini, temani Ibu sebentar."

Arkan mengangguk, lalu melabuhkan tubuhnya di sofa tepat di samping ibunya, merangkul bahu wanita paruh baya itu dengan penuh rasa kasih sayang. Suasana sore itu seolah menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang penyembuhan luka batin keluarga mereka.

❖ ❖ ❖

Target utama Arkan pada kunjungan sore hari ini sangat personal dan murni: mencapai rekonsiliasi total dan keharmonisan tertinggi dalam hubungannya dengan sang ibu, serta meruntuhkan sisa-sisa dinding dingin pertengkaran masa lalu yang sempat merenggangkan ikatan batin mereka.

Bab 53: Hubungan Arkan dengan ibunya mencapai titik keharmonisan tertinggi; air mata kelegaan.

Judul bab kehidupan itu terukir jelas di dalam hatinya. Setelah melewati pertempuran panjang menyelamatkan agensi, melunasi utang-utang peninggalan ayahnya, dan membuktikan integritas moralnya di hadapan dunia, Arkan menyadari bahwa kemenangan terbesar seorang pria bukanlah terletak pada seberapa banyak proyek miliaran rupiah yang ia menangkan, melainkan pada keutuhan cinta kasih keluarganya yang berhasil ia pulihkan.

"Ibu," ucap Arkan memulai percakapan dengan nada suara yang sangat hati-hati dan penuh penghormatan, "beberapa hari lalu, setelah semua urusan tender Grand Nusantara Heritage resmi ditutup dan utang-utang bank mendiang Ayah lunas, aku sempat membuka kembali album foto lama di loteng rumah ini."

Ibu Ratna menoleh, alisnya terangkat perlahan. "Album foto yang mana, Arkan? Album waktu kalian masih kecil?"

"Ya, Bu," jawab Arkan pelan sambil menggenggam jemari ibunya yang terasa hangat namun rapuh. "Aku melihat foto Ayah saat beliau pertama kali merintis perusahaan ini di Lampung. Di balik sifat keras dan otoriter yang selalu beliau tunjukkan kepada kita dulu, aku baru menyadari betapa berat beban yang beliau pikul sendirian demi melindungi masa depan keluarga kita."

Ibu Ratna menghela napas panjang, pandangannya menerawang jauh menembus jendela kaca ke arah halaman luar. "Ayahmu adalah pria yang keras kepala, Arkan. Ia tidak pernah tahu cara mengecewakan orang lain selain dengan bekerja tanpa kenal lelah sampai jatuh sakit. Ibu tahu kamu dan Ayah sering berselisih paham tentang cara mengelola bisnis."

"Dulu aku membenci kekerasannya, Bu," aku Arkan jujur, suaranya sedikit bergetar. "Aku merasa Ayah tidak pernah menghargai idealismeku. Aku merasa terkekang di dalam bayang-bayang ekspektasinya yang terlalu tinggi. Itulah tujuan utamaku datang menemui Ibu sore ini: aku ingin meminta maaf atas segala pemberontakan dan kata-kata kasarku di masa lalu yang sempat membuat Ibu menangis."

Ibu Ratna meremas balik jemari Arkan dengan erat, sorot matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu tidak perlu meminta maaf untuk hal itu, Arkan. Ibu tahu kalian berdua keras kepala karena kalian sama-sama mencintai keluarga ini dengan cara kalian masing-masing."

Tujuan Arkan jelas: ia ingin menghapus segala rasa bersalah, melunturkan rasa sakit hati masa lalu, dan merangkul ibunya dalam sebuah keharmonisan mutlak di mana tidak ada lagi rahasia atau sekat emosional yang membatasi jiwa mereka berdua.

❖ ❖ ❖

Percakapan intim di ruang tamu itu mengalir perlahan, membawa transisi emosional yang mendalam dari penyesalan masa lalu menuju penerimaan kasih sayang yang murni tanpa syarat. Cahaya matahari sore yang mulai memerah menyinari sudut-sudut ruangan, menciptakan bayangan hangat yang menenangkan jiwa.

"Ibu ingat waktu kamu pertama kali memutuskan mendirikan agensi desain interior sendiri menentang kehendak Ayah?" tanya Ibu Ratna pelan sambil tersenyum simpul, mengenang masa-masa sulit beberapa tahun silam.

Arkan tertawa kecil, rasa tegang di pundaknya melandai seketika. "Tentu saja aku ingat, Bu. Ayah mengancam akan mencoret namaku dari kartu keluarga kalau aku tidak mau meneruskan divisi konstruksi berat miliknya. Saat itu aku merasa menjadi anak paling dibenci di dunia."

"Ayahmu tidak membencimu, Arkan," sanggah Ibu Ratna lembut, mengusap punggung tangan putranya dengan penuh kehangatan. "Beliau hanya takut. Takut kalau dunia konstruksi yang kejam itu akan menghancurkan mimpimu yang terlalu indah. Ayahmu melihat dirinya sendiri di dalam dirimu—keras, ambisius, dan mudah terluka oleh kegagalan."

Arkan terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang diucapkan ibunya. Pemahaman baru itu meresap ke dalam lubuk hatinya, meluruhkan sisa-sisa kemarahan masa kecil yang selama ini mengendap di dalam bawah sadarnya.

"Aku baru menyadari kebenaran itu sekarang, Bu," ucap Arkan dengan suara serak tertahan. "Setelah aku sendiri memimpin perusahaan dan menghadapi hantaman krisis serta pengkhianatan dari sindikat luar, aku baru mengerti betapa kesepiannya posisi Ayah dulu saat harus menanggung semua utang dan ancaman kebangkrutan seorang diri."

Ibu Ratna menatap lekat-lekat wajah putra kesayangannya. "Dan kamu berhasil melewati badai itu jauh lebih baik daripada Ayahmu, Arkan. Kamu tidak hanya menyelamatkan perusahaan, tetapi kamu mempertahankannya dengan kejujuran dan integritas moral yang bersih. Ayahmu pasti sangat bangga jika bisa melihatmu hari ini."

Transisi dari dialog reflektif menuju pengakuan batin yang tulus ini mengubah suasana ruang tamu menjadi sebuah tempat suci rekonsiliasi keluarga. Tidak ada lagi jarak generasi, tidak ada lagi perdebatan siapa yang benar atau salah; yang tersisa hanyalah dua jiwa yang saling memahami, saling memaafkan, dan saling menguatkan dalam ikatan darah yang tak terpatahkan.

"Terima kasih, Bu," bisik Arkan penuh rasa syukur. "Berkat dukungan dan doa Ibu di rumah inilah aku memiliki kekuatan mental untuk tidak pernah menyerah pada setiap teror yang datang."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya