Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Meninjau kembali jurnal lama

Meninjau kembali jurnal lama sang ayah dan menuliskan lembaran baru miliknya sendiri.

Malam merayap perlahan menyelimuti Desa Rimbai dengan dekapannya yang sunyi, membawa serta udara sejuk Pegunungan Bukit Barisan yang menusuk hingga ke tulang. Pukul sepuluh lewat lima belas menit malam, di dalam ruang kerja kayu berukuran sedang di lantai dua rumah panggung milik keluarga Arkan, satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu minyak antik berkerudung kaca kuning yang berpendar hangat.

Suasana di dalam ruangan tersebut terasa begitu khidmat dan tenang, dipenuhi oleh aroma khas kertas tua, debu kayu jati yang mengering, serta wangi peluntur tinta lama yang telah mengendap selama bertahun-tahun di dalam lemari arsip. Di atas meja kerja kayu yang kokoh, tumpukan buku catatan harian berhalaman kekuningan tampak berserakan rapi di samping sebuah pena bulu klasik milik almarhum ayah Arkan.

Arkan duduk bersila di atas kursi kayu berbalut bantalan kain usang, mengenakan sweter wol rajut hitam tebal untuk menghalau dinginnya malam. Di hadapannya terbentang sebuah jurnal kulit tebal bersampul cokelat gelap—jurnal pribadi almarhum ayahnya yang selama ini disimpan rapat di dalam brankas bengkel tua.

"Apakah kau yakin ingin membaca semuanya malam ini, Arkan?" tanya Niskala lembut sambil melangkah masuk membawa dua cangkir teh jahe hangat, meletakkan salah satunya di atas meja dekat tumpukan buku catatan.

"Sudah saatnya, Nis," jawab Arkan dengan suara pelan namun sarat akan ketenangan batin. "Ada banyak hal dari masa lalu yang harus aku selesaikan sebelum aku benar-benar bisa melangkah menatap masa depan koperasi kita."

Niskala mengangguk mengerti, lalu menarik kursi kecil untuk duduk di sebelah Arkan, menemani pemuda itu menelusuri lembar demi lembar catatan masa lalu yang ditinggalkan oleh sang ayah tercinta.

Cahaya lampu minyak bergetar pelan tertiup angin malam yang menyelinap melalui celah jendela kayu yang terbuka sedikit. Di luar sana, suara jangkrik bersahutan dengan desau angin malam yang menggoyang pucuk-pohon rambai, menciptakan latar melankolis yang mengiringi malam perenungan yang panjang.

❖ ❖ ❖

Arkan meletakkan cangkir teh jahe hangatnya tanpa menyentuhnya, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kokoh untuk membuka halaman pertama jurnal kulit tebal milik sang ayah. Tujuannya malam ini sangat jelas dan penuh makna: ia ingin meninjau kembali setiap goresan tinta, catatan kalkulasi bisnis, hingga pesan-pesan tersirat yang ditinggalkan oleh almarhum ayahnya sebelum perusahaan keluarga mereka dihancurkan oleh intrik korporasi hitam.

"Ayah menulis jurnal ini bukan sekadar untuk mencatat keuangan perusahaan, melainkan sebagai warisan moral tentang bagaimana menjaga integritas di tengah dunia bisnis yang kejam," ucap Arkan lirih, membaca paragraf pembuka jurnal yang ditulis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.

Niskala mencondongkan tubuhnya ke depan, ikut memerhatikan bait-bait kalimat yang tertulis di halaman tersebut. "Apa ada petunjuk penting mengenai dokumen brankas atau nama-nama orang yang menjebak keluarga kalian di masa lalu?" tanyanya penasaran.

"Itulah yang sedang aku cari," balas Arkan, membalik beberapa halaman berikutnya dengan sangat hati-hati agar kertas yang rapuh itu tidak robek. "Ayah selalu percaya bahwa kejujuran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri, meskipun harus ditebus dengan harga yang sangat mahal."

Tujuan Arkan membaca jurnal lama ini bukan untuk memupuk dendam kesumat atau mencari siapa yang harus dihukum atas penderitaan masa lalunya. Sebaliknya, ia ingin menyerap kebijaksanaan dari setiap kegagalan yang pernah dialami sang ayah, agar ia tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam memimpin Koperasi Tani Mandiri yang kini semakin berkembang pesat.

"Bacalah kalimat di sudut halaman itu, Arkan," tunjuk Niskala pada sebuah catatan pinggir bertuliskan tinta hitam yang sedikit memudar.

Arkan mendekatkan wajahnya ke lembaran kertas, membaca bait tulisan tangan ayahnya dengan seksama: "Kekuasaan dan kekayaan bisa direbut dalam semalam, tetapi kehormatan dan kepercayaan rakyat adalah modal abadi yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang."

Kata-kata itu menghujam tepat ke dalam lubuk hati Arkan, memperkuat tekadnya untuk menulis babak baru kehidupannya sendiri di atas fondasi moral yang kokoh dan tak tergoyahkan.

❖ ❖ ❖

Sesaat setelah merenungkan pesan mendalam dari halaman pertama jurnal sang ayah, Arkan mulai membalik lembaran demi lembar berikutnya dengan ritme yang lebih teratur. Transisi dari masa lalu yang penuh air mata dan kepedihan menuju babak baru kehidupan Arkan di masa kini tampak begitu nyata tercermin dari perubahan ekspresi wajahnya yang semakin tenang dan penuh wibawa.

"Di halaman tengah ini ada catatan tentang rencana awal pendirian koperasi tani kita, jauh sebelum konflik korporasi pecah," kata Arkan sambil menunjuk sebuah skema bagan distribusi pupuk yang digambar tangan oleh ayahnya.

Niskala mengangguk takjub melihat betapa visionernya pemikiran almarhum ayah Arkan puluhan tahun lalu. "Ternyata impian koperasi mandiri ini sudah dirintis oleh ayahmu sejak kau masih anak-anak, Arkan."

"Dan sekarang kitalah yang melanjutkan estafet perjuangan itu," ujar Arkan mantap, menutup jurnal kulit tebal sang ayah dengan gerakan pelan, lalu merapikannya di sisi meja.

Transisi gestur itu menandakan bahwa lembaran masa lalu telah selesai ditinjau; kini saatnya bagi Arkan untuk membuka buku catatan baru miliknya sendiri—sebuah jurnal bersih bersampul kain biru tua yang ia letakkan tepat di tengah meja kerja di sebelah cangkir teh jahe yang mulai mendingin.

"Apa lembaran pertama yang akan kau tulis di buku barumu itu, Arkan?" tanya Niskala lembut, menatap pena bulu yang kini sudah berada di dalam genggaman tangan pemuda itu.

Arkan menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang sejuk meresap ke dalam paru-parunya sebelum ia menorehkan tinta hitam pertama di atas kertas putih bersih tersebut. "Aku akan menuliskan lembaran tentang kemenangan koperasi kita hari ini, dan janji untuk tidak pernah mengkhianati kepercayaan para petani Desa Rimbai."

Suasana di dalam ruang kerja kayu itu mendadak terasa begitu sakral. Setiap goresan pena yang digoreskan Arkan di atas kertas putih seolah menjadi saksi bisu atas transformasi seorang pemuda desa yang bangkit dari abu kehancuran menuju puncak kepemimpinan yang matang dan berintegritas.

❖ ❖ ❖

Tepat ketika Arkan tengah asyik menuliskan kalimat-kalimat penuh inspirasi di halaman pertama jurnal barunya, rintangan kecil namun mengganggu tiba-tiba muncul dari luar jendela ruang kerja. Suara ketukan keras pada dinding kayu lantai bawah tiba-tiba memecah keheningan malam yang sunyi.

Arkan menghentikan gerak penanya, menegakkan punggungnya, lalu saling berpandangan dengan Niskala yang tampak terkejut mendengar suara ketukan di jam yang sudah larut malam itu.

Lihat selengkapnya