Arkan Ar Rimbai

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Warga sekitar mulai memanggil

Warga sekitar mulai memanggil tempat itu dengan sebutan yang selaras dengan arti nama Arkan.

Matahari sore di pengujung musim panen raya memancarkan pendar oranye kemerahan yang hangat, menyinari hamparan sawah bertingkat di kaki Pegunungan Bukit Barisan. Pukul lima lewat lima belas menit sore, udara sejuk pegunungan berpadu dengan aroma wangi jerami kering dan kesegaran dedaunan hijau yang membentang luas di sekeliling kawasan pusat pengolahan Koperasi Tani Mandiri Desa Rimbai.

Di halaman depan gedung pusat koperasi yang kini telah bertransformasi menjadi kawasan agrikultural modern berbasis energi surya, tampak puluhan warga desa berkumpul dengan senyuman semringah di wajah mereka. Anak-anak berlarian riang di sekitar taman hijau yang asri, sementara para petani senior duduk bersantai di bangku-bangku kayu jati yang tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang.

Tempat yang beberapa tahun lalu sempat menjadi kawasan kumuh, penuh debu jalanan, dan dikuasai oleh intrik kotor serta monopoli korporasi hitam itu kini telah berubah total menjadi sebuah oase kemakmuran yang damai dan asri. Di gerbang utama kawasan tersebut, sebuah papan nama berukir kayu mahoni tua kini berdiri dengan gagahnya, memancarkan wibawa dan ketenangan bagi siapapun yang melintasinya.

Arkan berdiri di teras depan gedung utama, mengenakan kemeja katun putih sederhana dengan lengan digulung sebatas siku. Ia menatap luruh ke arah halaman yang dipenuhi oleh tawa kebahagiaan para warga desa, merasakan denyut kehidupan yang begitu harmonis dan penuh ketulusan di tanah kelahirannya.

"Lihatlah ke arah gerbang utama itu, Arkan," bisik Niskala lembut sambil melangkah mendekati Arkan, menunjuk ke arah papan nama kayu berukir yang baru saja dipasang oleh para pemuda karang taruna sore tadi.

Arkan mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk Niskala, memperhatikan barisan huruf yang terukir indah di atas kayu mahoni tersebut dengan sorot mata penuh haru.

❖ ❖ ❖

Arkan memandangi ukiran nama di gerbang utama dengan dada bergemuruh penuh kehangatan. Nama yang tertera di sana bukan lagi sekadar papan penunjuk alamat koperasi biasa, melainkan sebuah simbol pengakuan tulus dari seluruh warga desa atas perjalanan panjang, perjuangan tanpa lelah, dan integritas moral yang ia pertahankan selama bertahun-tahun.

Tujuan Arkan kembali ke Desa Rimbai dan membangun kembali puing-puing peninggalan sang ayah bukanlah untuk mencari pujian, ketenaran, atau kekuasaan pribadi. Sejak awal, satu-satunya tujuan hidupnya adalah mengembalikan martabat, kesejahteraan, dan kedamaian bagi para petani kecil yang dulu sempat terinjak-injak oleh keserakahan korporasi.

"Nama tempat ini sekarang sudah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan warga desa kita, Arkan," ucap Niskala dengan suara bergetar haru, menatap wajah pemuda di sampingnya dengan binar kekaguman yang mendalam.

"Semua ini bukan tentang namaku, Nis," balas Arkan rendah hati, tersenyum hangat sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ini adalah hasil dari keteguhan hati kita bersama, dari kerja keras para buruh tani yang tidak pernah menyerah di tengah badai."

Tujuan besar Arkan kini telah terwujud secara nyata di hadapannya. Koperasi Tani Mandiri bukan lagi sekadar tempat penampungan hasil bumi, melainkan sebuah benteng pertahanan ekonomi kerakyatan yang mandiri, bersih, dan berwawasan lingkungan.

Di barisan kursi halaman, Hardiman dan Hartono tampak duduk berdampingan sambil menikmati secangkir kopi hangat, tertawa bersama membicarakan rencana perluasan lahan organik musim depan—sebuah pemandangan rekonsiliasi sosial yang mustahil terjadi di masa lalu.

"Arkan, warga desa sudah berkumpul di pendopo utama. Mereka ingin menyampaikan sesuatu secara langsung kepadamu," panggil Hardiman setengah berteriak dari halaman, melambaikan tangannya ramah.

Arkan mengangguk mantap. Bersama Niskala, ia melangkah turun dari teras gedung utama menuju pendopo terbuka di tengah taman, menyambut sapaan hangat dari ratusan warga desa yang telah menantinya dengan penuh antusias.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Arkan menapaki lantai ubin pendopo yang bersih disambut oleh riuh tepuk tangan ringan dan senyuman tulus dari para sesepuh desa serta ibu-ibu petani yang hadir sore itu. Suasana di pendopo utama terasa begitu intim, hangat, dan sarat akan kekeluargaan yang erat.

Pak Slamet, sesepuh petani senior yang dulu sempat memimpin kemarahan massa di masa lalu, perlahan bangkit dari kursi kayunya lalu berjalan menghampiri Arkan dengan membawa selembar kain selendang tenun tradisional khas daerah berdarah hijau keemasan.

Transisi gestur dari ketegangan masa lalu yang penuh konflik menuju keharmonisan sosial yang damai tampak begitu nyata terpancar dari pelukan hangat yang diberikan Pak Slamet kepada Arkan di tengah pendopo.

"Arkan, anak muda," ucap Pak Slamet dengan suara serak berwibawa, menyampirkan selendang tenun hijau keemasan di pundak Arkan. "Selama bertahun-tahun, kami mencari pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi benar-benar membuktikan ketulusan hatinya dalam melindungi rakyat."

Arkan menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat, menerima selendang kehormatan tersebut dengan kedua tangan. "Terima kasih, Pak Slamet. Penghargaan ini adalah milik kita bersama, milik seluruh warga Desa Rimbai yang tetap setia berdiri di jalan kejujuran."

Transisi kepemimpinan dari rasa curiga menjadi kepercayaan mutlak kini telah mengakar kuat di setiap sudut desa. Niskala yang berdiri di sisi panggung tersenyum bangga melihat bagaimana Arkan berhasil merajut kembali persatuan warga yang nyaris robek oleh intrik korporasi.

"Karena itulah," lanjut Pak Slamet mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh warga yang memenuhi pendopo, "mulai hari ini, para warga sepakat memberikan nama baru bagi seluruh kawasan sentra agrikultural dan lembah koperasi ini—sebuah sebutan yang sangat selaras dengan arti nama mulia sang pemimpin kita."

Suasana di dalam pendopo mendadak menjadi hening sesaat, di mana seluruh pasang mata menatap Pak Slamet dengan rasa penasaran yang luar biasa besar.

❖ ❖ ❖

Meskipun suasana di pendopo utama dipenuhi oleh kehangatan dan antusiasme warga, ingatan Arkan sempat berkelebat kilat mengenang berbagai rintangan berat yang telah mereka lalui bersama untuk mencapai titik kedamaian ini.

Lihat selengkapnya