Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #1

#1 Algoritma Pemanggil

Raka Satria pertama kali menemukan video itu pada Kamis malam, pukul 01.47, di tengah sesi scrolling YouTube yang harusnya sudah selesai dua jam lalu.

Ini kebiasaan buruk yang ia sendiri tidak bisa benarkan. Setiap malam, alur kegiatannya selalu sama, berbaring di kasur tipisnya di kamar kos kawasan Mampang, buka laptop dengan alasan mau cek catatan sebentar, dan tiga jam kemudian masih di sana dengan delapan belas tab browser yang terbuka tapi tidak satu pun yang berguna. Ujian Kimia tinggal delapan jam lagi. Tapi, tidak ada satu pun catatan atau buku yang ia sentuh.

Malam ini sedikit berbeda. Bukan soal Kimia yang bikin Raka tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih susah dijelaskan. Sejak kecil, Raka selalu merasa ada bagian dari dirinya yang kurang pas, seperti ada yang kosong tapi ia sendiri pun bingung. Bukan berarti hidupnya buruk atau ia tidak bahagia. Tapi rasanya seperti ada satu laci di dalam dirinya yang selalu terkunci dan ia tidak pernah tahu kuncinya ada di mana.

Malam ini, laptopnya berisi forum soal kimia organik yang tidak ia sentuh sejak dibuka, playlist lo-fi yang sudah repeat empat kali, artikel Wikipedia tentang runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat yang ia buka tanpa alasan jelas, dan satu hal lagi yang paling tidak masuk akal, channel YouTube bernama MYTHOS_SIGNAL.

Channel itu aneh. Tidak ada deskripsi. Tidak ada foto profil, hanya lingkaran kosong berwarna abu gelap. Tidak ada playlist. Isinya cuma satu video, diunggah tiga jam lalu, berjudul: "APAKAH KAMU BISA MENDENGAR CERITA YANG HAMPIR MATI?"

Jumlah penonton: 1.

Raka tahu itu dirinya sendiri. Video itu muncul di kolom recommended, bukan di beranda, bukan di hasil pencarian. Di kolom yang biasanya isinya video gaming dan review gadget yang tidak pernah ia tonton. Tidak ada penjelasan logis kenapa video itu bisa muncul di sana.

Harusnya ia tutup, masih ada Kimia yang menunggu. Tapi, ia klik putar.

Video dibuka dengan gambar yang sangat biasa. Sebuah meja kayu tua, tumpukan buku tebal, cangkir teh yang masih mengepul, dan lampu meja dengan cahaya kekuningan. Lalu seorang wanita masuk ke frame dari sisi kiri, duduk, dan langsung menatap kamera.

Wanita itu susah ditebak umurnya. Kulitnya cokelat tua dengan keriput di sudut mata yang terasa seperti milik orang yang sudah hidup sangat lama. Rambutnya putih, digelung longgar dengan jepit kayu. Yang paling aneh adalah matanya. Seperti memantulkan cahaya dari dua arah sekaligus, padahal lampu di ruangan itu cuma satu.

"Kalau kamu sedang menonton ini," kata wanita itu, dalam bahasa Indonesia yang lancar dengan aksen yang tidak bisa Raka tebak dari mana, "artinya kamu sudah ditemukan. Bukan kami yang memilih kamu. Kamu yang dipilih oleh frekuensi cerita itu sendiri."

Raka mengernyit. Hampir menutup video. Ini kedengarannya seperti awal dari podcast motivasi yang ujung-ujungnya jual suplemen. Tapi tangannya tiba-tiba terhenti.

Ada sesuatu yang aneh. Bukan dari kata-katanya. Dari bawah suaranya, seperti ada nada tambahan yang tidak bisa dihasilkan oleh speaker laptop biasa. Bukan suara yang bisa didengar dengan jelas, lebih seperti getaran yang dirasakan di dada. Seperti kalau kamu berdiri dekat subwoofer yang volumenya kecil tapi bassnya tetap terasa sampai ke tulang.

Dan getaran itu menyentuh sesuatu di dalam Raka.

"Kamu pasti pernah merasakannya," lanjut wanita itu. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Seperti orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. "Waktu kamu baca atau dengar sebuah cerita, entah itu mitos atau legenda atau dongeng, ada bagian dari kamu yang langsung nyambung. Bukan karena ceritanya seru. Tapi karena rasanya seperti kamu sudah kenal cerita itu dari dulu. Seperti ketemu lagu lama yang tidak pernah kamu pelajari tapi entah kenapa kamu tahu liriknya."

Raka meletakkan earphone dengan lebih hati-hati, ingin mendengarkan lebih jelas lagi. Karena ya, persis seperti itu rasanya.

Lihat selengkapnya