Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #2

#2 Toko Buku Pramoedya

Kota Tua pagi hari tidak seperti yang sering muncul di foto-foto Instagram. Di foto, tempat itu kelihatan sangat romantis. Bangunan kolonial berwarna putih kekuningan, pedagang kopi di gerobak antik, turis yang berpose di depan sepeda onthel sewaan. Tapi, kenyataannya di pagi hari hanyalah bau knalpot yang terperangkap di antara gedung-gedung tua, pedagang yang baru buka lapak dengan muka yang belum sepenuhnya sadar dan jalanan yang sudah mulai ramai.

Raka melewatkan ujian Kimia.

Ia sudah tahu konsekuensinya sebelum berangkat, sudah ia pikirkan asejak semalam. Kemungkinannya akan ada panggilan dari bimbingan akademik, orang tua akan ditelepon dan mungkin uang saku akan dikurangi. Tapi ada sesuatu yang terasa lebih besar dari semua itu, sesuatu yang bilang kalau ia tidak pergi, maka kesempatan ini tidak akan datang lagi. Bukan suara yang bisa didengar, lebih seperti perasaan yang duduk di atas dada, terasa sangat berat dan tidak mau pergi.

Koordinat GPS membawanya ke gang sempit di belakang Museum Fatahillah, gang yang terlalu kecil untuk masuk ke Street View dan terlalu tidak mencolok untuk diperhatikan orang yang lewat. Di antara dua bangunan tua yang catnya mengelupas berlapis-lapis, ada sebuah pintu. Bukan ruko, bukan bangunan yang proper. Hanya pintu dari kayu jati gelap dengan ukiran yang terlalu rumit untuk dilihat sekilas, dan papan nama kecil yang butuh sinar matahari dari sudut tertentu untuk bisa terbaca:

TOKO BUKU PRAMOEDYA, KOLEKSI LAMA & ANTIK.

Raka berdiri di depannya hampir satu menit penuh.

Dalam satu menit itu ia berhasil menyusun daftar alasan yang cukup panjang untuk berbalik pulang. Ini bisa jadi scam. Ini bisa jadi bangunan milik orang yang tidak akan senang kalau ada remaja asing masuk begitu saja. Video semalam mungkin memang konten manipulatif dari akun yang punya agenda tidak jelas. Dan yang pasti, ia sudah melewatkan ujian Kimia, jadi kalau sekarang pulang setidaknya ada waktu untuk mencari cara menjelaskan ke wali kelas kenapa ia tidak masuk.

Tapi pintu itu terbuka satu sentimeter ke dalam, seperti sedang menunggu. Rakapun mendorong pelan pintu tersebut.

Ruang di dalamnya tidak masuk akal secara fisik, dan itu hal pertama yang Raka sadari. Dari luar, celah antara dua bangunan itu kira-kira dua meter. Tapi di dalam ada lorong panjang dengan rak-rak buku di kanan dan kiri, panjangnya jauh lebih dari cukup. Buku-bukunya tersusun dengan sistem yang tidak Raka mengerti karena bukan berdasarkan abjad, bukan berdasarkan genre, bukan berdasarkan tahun terbit. Mungkin berdasarkan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum ia ketahui.

Penerangan di sana juga aneh. Tidak ada jendela yang terlihat, tidak ada lampu yang jelas sumbernya, tapi seluruh ruangan terang dengan cahaya berwarna kekuningan hangat. Seperti cahaya sore jam empat, tapi memancar dari dalam.

"Kamu lebih cepat dari yang kami perkirakan."

Suara itu datang dari balik tumpukan buku di sudut ruangan. Wanita yang sama dari video semalam, sekarang terlihat lebih nyata dengan cara yang sedikit mengintimidasi. Di video ada layar yang jadi jarak di antara mereka. Di sini tidak ada apa-apa, hanya beberapa langkah dan udara yang berbau seperti kertas lama dicampur sesuatu yang tidak bisa Raka identifikasi.

"Saya pikir saya terlambat," kata Raka sejujur-jujur nya, karena ia tidak sanggup membuat alasan.

Wanita itu senyum. Senyum orang yang sudah sering mendengar versi berbeda dari jawaban yang sama. "Tidak ada yang pernah terlambat untuk sampai di sini. Atau lebih tepatnya, kalau kamu sampai di sini, berarti waktunya memang tepat." Ia tutup buku yang sedang ia pegang, buku tanpa judul di sampulnya, dan mengulurkan tangan. "Panggil saya Mbak Sari. Itu cukup untuk sekarang."

Nama yang sangat biasa untuk seseorang yang tidak terlihat biasa sama sekali, tapi Raka tidak mengatakan itu.

Ia jabat tangan Mbak Sari, dan dalam satu detik, sesuatu yang aneh terjadi. Bukan menyakitkan, bukan menakutkan, tapi seperti ada bagian dari dirinya yang baru saja disentuh untuk pertama kali. Bayangkan kaki yang kesemutan lama karena tertindih, lalu tiba-tiba ada yang menepuknya dan aliran darahnya kembali. Sesuatu yang sudah lama mati rasa, tiba-tiba terasa lagi.

Lihat selengkapnya