Mbak Sari berdiri dan mulai berjalan pelan di sekitar ruangan, seperti sedang menyusun kata semi kaya yang akan ia ucapkan.
"Mitologi bukan sekadar cerita lama, mmm...kedengarannya seperti kalimat pembuka ceramah membosankan, jadi saya akan langsung ke intinya."
Ia mengangkat satu tangan. Dari telapaknya muncul semacam peta tiga dimensi yang mengambang di udara. Isinya titik-titik cahaya yang saling terhubung oleh garis tipis. Beberapa titik terang dan besar, beberapa sangat redup, dan beberapa hampir tidak kelihatan sama sekali.
"Setiap titik di sini adalah satu tradisi mitologi dari seluruh dunia, mitologi Yunani, Norse, Jawa, Mesir, sampai ke tradisi-tradisi kecil yang mungkin kalian belum pernah dengar namanya. Semua ada di sini." Ucap Mbak Sari menjelaskan. Raka melihat nama-nama yang familiar di titik-titik yang besar dan terang. Tapi titik-titik yang kecil dan redup jumlahnya jauh lebih banyak.
"Setiap tradisi ini adalah cara sebuah peradaban menyimpan pemahaman mereka tentang dunia. Tentang kenapa manusia ada, bagaimana cara hidup yang benar, bagaimana hubungan antara manusia dengan alam dan satu sama lain. Semua itu disimpan di dalam cerita yang diceritakan turun-temurun dari generasi ke generasi."
"Dan dewa-dewa atau entitas yang ada di dalam cerita-cerita itu, mereka tetap ada selama ceritanya masih diceritakan. Bukan karena ada yang menyembah mereka. Bukan karena ada ritual. Tapi karena ada yang mengingat mereka. Ingatan manusia adalah sumber energi mereka." lanjut mbak Sari.
Nyx mengangkat tangan. "Kalau tidak ada yang ingat lagi?"
"Mereka tidak langsung hilang. Tapi mereka melemah. Semakin lama tidak ada yang mengingat, semakin lemah. Sampai akhirnya mereka ada, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
"Dan ada yang sengaja membuat itu terjadi?" kata Amara.
"Betul." Mbak Sari mengangguk. "Kamu pasti tahu bagaimana cara kerja algoritma di media sosial atau YouTube. Konten yang sudah banyak ditonton akan semakin sering direkomendasikan ke orang lain. Konten yang tidak pernah ditonton tidak akan pernah muncul di rekomendasi siapapun. Jadi orang tidak tahu konten itu ada, dan karena tidak tahu, mereka tidak mencarinya, dan karena tidak ada yang mencari, konten itu semakin terkubur. Begitu terus."
"Hal yang sama terjadi pada mitologi-mitologi kecil ini. Tidak ada yang mencari cerita dari tradisi Selknam di ujung Amerika Selatan atau tradisi Ainu dari Jepang utara karena tidak ada yang tahu mereka ada. Dan karena tidak ada yang mencari, algoritma tidak pernah menyajikan konten tentang mereka ke siapapun. Lingkaran yang tidak punya jalan keluar." ujarnya.
"Bedanya," tambah Mbak Sari, "ada yang sengaja mempercepat proses ini. Ada yang masuk ke dalam sistem algoritma itu dan memodifikasinya supaya mitologi-mitologi kecil semakin cepat tenggelam."
"Siapa?" tanya Danu.