Kelas pertama untuk kelima remaja itu tidak diadakan di tempat yang terlihat seperti kelas. Mbak Sari membawa mereka ke salah satu ruang resonansi yang masih aktif. Ruangnya berbentuk segi delapan dengan dinding yang memancarkan cahaya dari dalam, bukan dari cahaya lampu. Lantainya terasa hangat di bawah kaki, seperti batu yang sudah kena matahari seharian. Tidak ada kursi, tidak ada meja, tidak ada papan tulis. Hanya ruangan kosong yang terasa hidup. Di sana sudah ada seseorang yang menunggu.
Pria itu terlihat berusia sekitar tiga puluhan. Rambutnya ikal pendek, pakai jaket kulit yang sudah banyak meninggalkan jejak dan sandal jepit. Yang aneh adalah ada sepasang sayap kecil terlipat rapi di punggungnya, dan ia memperlakukan sayap itu seperti itu hal yang sangat biasa, seperti orang memperlakukan ransel yang sudah lama dipakai.
Nyx yang pertama bereaksi. Matanya sedikit melebar, cuma sebentar, tapi cukup untuk Raka tangkap. "Kalian sudah tahu saya siapakan? Jadi saya tidak akan banyak-banyak memperkenalkan diri. Yang perlu kalian tahu, nama saya Hermes, saya ada di sini karena saya peduli dengan cerita dan cara cerita berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kalian ada di sini karena hal yang tidak jauh berbeda, meskipun belum semua dari kalian sadar seberapa besar pentingnya hal ini." kata pria itudalam bahasa Indonesia yang lancar dengan aksen Yunani yang hanya muncul di beberapa kata tertentu
"Jadi?" tanya Nyx.
Hermes berjalan ke tengah ruangan dan berhenti di sana. "Hari ini kalian tidak akan belajar cara menggunakan kemampuan kalian. Terlalu cepat untuk itu. Yang kalian pelajari hari ini adalah cara merasakannya. Ada bedanya. Menggunakan kemampuan tanpa bisa merasakannya dulu seperti menyetir mobil tanpa bisa merasakan rem. Mungkin jalan, tapi tidak akan berakhir baik."
"Cara merasakannya bagaimana?" tanya Danu.
"Tutup mata kalian," kata Hermes. "Dan coba ingat satu momen di mana kalian paling merasa seperti diri kalian sendiri. Bukan momen paling bahagia, bukan momen paling membanggakan. Tapi momen di mana kalian merasa, ya, ini saya, ini versi paling asli dari saya.". Kedengarannya mudah. Ternyata tidak.
Raka menutup matanya dan mulai mencari. Satu momen. Paling merasa seperti diri sendiri. Ia coba ingat momen-momen yang terasa nyaman, momen bersama keluarga waktu lebaran, momen ngobrol sampai subuh sama teman-teman lama, momen duduk sendiri di perpustakaan kampus di jam-jam sepi. Tapi nyaman itu berbeda dari merasa seperti diri sendiri. Nyaman artinya tidak ada yang mengganggu. Merasa seperti diri sendiri artinya tahu dengan jelas kamu itu siapa, dan Raka tidak yakin kapan terakhir kali ia merasakan itu dengan jelas. Sementara Raka masih mencari, sesuatu mulai terjadi di sekitarnya.
Ia tidak membuka mata, tapi ia bisa merasakan perubahan di udara ruangan itu. Suhunya sedikit berbeda. Ada sesuatu yang bergerak, bukan angin, lebih seperti energi yang mulai bergerak dari titik-titik berbeda di ruangan. Hermes berbicara lagi, suaranya lebih pelan. "Jangan dipaksakan. Kalau belum ketemu, duduk saja dulu."
Raka menolak, ia mencoba lagi. Kali ini ia tidak mencari momen yang besar. Ia coba ingat hal-hal kecil. Cara ia selalu buka beberapa tab sekaligus waktu belajar karena satu topik selalu membawanya ke topik lain yang tidak kalah menarik. Cara ia bisa baca tentang mitologi jam dua pagi tanpa merasa mengantuk sama sekali. Cara semua cerita dari tradisi manapun selalu terasa seperti ada hubungannya satu sama lain dan ia selalu ingin tahu hubungan itu di mana. Dan saat ia memikirkan itu, ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Bukan perasaan biasa. Ini lebih fisik dari itu. Seperti ada frekuensi yang menyala dari dalam dadanya dan mulai mencari-cari frekuensi lain di sekitarnya untuk disambungkan. Ia membuka mata.
Raka terdiam melihat apa yang terjasi di sekelilingnya. Dari Nyx, ada cahaya tipis yang memancar dari sekitar kepalanya. Bukan dari matanya atau tangannya. Dari udara di sekitar kepalanya. Cahaya itu membentuk garis-garis yang saling terhubung, seperti diagram yang terus berubah, membangun dan merombak dirinya sendiri dengan cepat. Seperti kalau kamu bisa melihat proses seseorang berpikir secara visual.