Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #5

#5 Api yang Digenggam

Yogyakarta, tujuh tahun lalu saat Danu berusia sebelas tahun.

Malam itu dimulai dari hal yang sudah menjadi rutinitas setiap malam, mengerjakan PR. Danu menghembuskan nafasnya, PR matematika. Danu tidak suka matematika. Bukan karena tidak bisa, nilainya selalu di atas 70, tapi ia tidak pernah mengerti kenapa ia harus peduli dengan hasil dari angka-angka yang tidak punya cerita di dalamnya. Angka tidak punya alasan, tidak punya latar belakang, tidak punya hubungan dengan manusia yang menghitungnya. Angka hanya ada dan menghasilkan jawaban, selesai. Mbah Slamet tidak setuju dengan cara pikir itu.

"Matematika itu bahasa, kalau kamu tidak mau belajar bahasanya, kamu tidak akan pernah ngerti apa yang coba disampaikan angka - angka itu." kata kakeknya waktu itu, sambil duduk di kursi rotan yang sudah lama menjadi tempat duduk favoritnya di ruang tamu

"Mbah, bahasa manusia sudah cukup," jawab Danu dengan penuh keyakinan khas cara bicara anak sebelas tahun yang merasa argumennya sangat logis. Mbah Slamet tidak marah. Beliau tidak pernah marah dengan cara yang besar dan riuh. Marahnya selalu pelan, tidak banyak kata, tapi efeknya terasa lebih lama dari marah yang berteriak-teriak. "Kamu kerjakan PR itu sekarang atau tidak ada TV seminggu."

Danu mengerjakan PRnya dengan muka cemberut. Walaupun tidak melihat, Mbah Slamet dapat merasakan rungutan Danu. Sekitar jam 8 malam, Danu sudah tertidur. PR Matematikanya sudah selesai dua jam yang lalu. Tapi tidak lama, mimpi buruk yang sama datang lagi. Sudah tiga kali dalam dua minggu terakhir. Mimpinya selalu tentang sesuatu yang terbakar tapi tidak jelas apa, dan ia selalu mencari pintu keluar yang tidak pernah ia temukan, dan akhirnya terbangun. Ia bangun dengan napas tidak teratur dan keringat di lehernya. Karena tidak bisa tidur lagi, ia memutuskan turun ke dapur untuk minum air.

Di dapur, Mbah Slamet sedang menelepon. Danu tidak berniat mendengarkan. Tapi rumah itu kecil dan tidak ada ruang yang benar-benar terpisah satu sama lain, dan telinganya sudah terlanjur menangkap kata-kata sebelum pikirannya bisa memilih untuk tidak mendengarkan.

"...bapaknya sudah tidak mau tanggung jawab lagi... iya saya sudah bilang berkali-kali... anak itu di sini terus bagaimana? Saya sudah tua, tidak bisa selamanya begini..."

Mbah Slamet mendengar langkah Danu dan langsung menutup teleponnya. Ada jeda sebentar sebelum beliau berbicara. "Tidak bisa tidur?"

"Siapa yang tadi telepon?" tanya Danu.

"Urusan orang dewasa." Mbah Slamet berdiri dari kursinya. "Minum air, terus tidur lagi."

Tapi Danu sudah mendengar cukup.

Anak itu di sini terus bagaimana.

Bukan Danu. Bukan cucuku. Bukan nama. Anak itu. Seperti menyebut sesuatu yang ada di rumah tapi bukan benar-benar bagian dari rumah itu.

Ia kembali ke kamarnya cepat-cepat karena ada sesuatu di dalam dadanya yang mulai tidak bisa ia kendalikan dan ia tidak mau Mbah Slamet melihatnya. Ia menutup pintu kamar dan duduk di lantai dengan punggung menempel ke dinding.

Panas itu mulai dari dada. Bukan panas dari demam atau dari cuaca. Ini berbeda. Lebih dalam, seperti sesuatu yang sudah ada jauh sebelum Danu lahir dan baru sekarang memutuskan untuk muncul, memperkenalkan diri pada Danu. Ia tidak punya kata lain untuk menggambarkannya karena ia baru sebelas tahun dan tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.

Danu mencoba mengambil napas panjang. Cara yang pernah diajarkan guru BK di sekolah. Empat hitungan masuk, tahan empat hitungan, keluar empat hitungan. Tidak berhasil. Panas itu tidak berkurang, malah semakin kuat.

Kemudian ia melihat tangannya. Di antara jari-jarinya yang mengepal, ada cahaya. Oranye kemerahan, tidak terang-terang amat, tapi jelas ada. Seperti ia memegang bara api kecil di dalam kepalan tangannya. Ia buka kepalan itu perlahan dan cahaya itu masih ada di telapak tangannya, bergerak pelan seperti api sungguhan. Anehnya, tidak terasa sakit.

Lihat selengkapnya