Athena, tiga tahun lalu, saat Nikita berusia empat belas tahun.
Ibunya bernama Eleni Papadopoulos. Dan kalau Nyx harus jujur, ibunya adalah orang paling cerdas yang pernah ia temui. Ini bukan penilaian anak yang mengagumi orang tuanya karena mereka orang tuanya. Ini hasil pengamatan selama empat belas tahun dari seseorang yang bahkan di usia itu sudah cukup kritis untuk membedakan kagum dengan fakta. Eleni adalah profesor matematika di Universitas Athena, spesialisasi topologi. Topologi adalah cabang matematika yang mempelajari bentuk dan ruang, tapi bukan bentuk yang bisa dipegang atau diukur dengan penggaris. Lebih ke pertanyaan seperti kenapa donat dan cangkir kopi secara matematis adalah benda yang sama karena keduanya punya satu lubang. Jenis matematika yang butuh kemampuan membayangkan hal-hal yang tidak bisa dilihat secara langsung. Kemampuan itu ada hubungannya dengan warisan Athenanya.
Dari garis darah Athena, Eleni mewarisi kemampuan proyeksi analisis. Kemampuan untuk melihat banyak skenario sekaligus dan memproyeksikannya dalam bentuk visual. Seperti Nyx, tapi versi yang sudah dilatih puluhan tahun dan dikontrol dengan sangat ketat. Perlu digaris bawahi dikontrol dengan sangat ketat.
Selama bertahun-tahun, Eleni tidak pernah membiarkan kemampuannya muncul secara tiba-tiba tanpa bisa ia kontrol. Tidak pernah tanpa persiapan, tidak pernah di tempat umum tanpa pengamanan yang cukup, tidak pernah dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Kontrolnya sempurna karena ia membangunnya dengan sangat disiplin sejak muda. Sampai di suatu malam pada bulan Februari tiga tahun lalu.
Nyx sedang belajar di kamarnya waktu itu. Bukan belajar yang serius, tapi hanya memandangi buku pelajaran yang terbuka di atas meja. Pikiran Nyx entah berada di mana saat itu. Hari itu ada ujian yang tidak terlalu bagus hasilnya, bukan gagal tapi tidak sesuai ekspektasi, dan ia sedang mencoba mencari tahu di mana kesalahannya terjadi supaya tidak terulang. Tiba-tiba, dari dapur terdengar suara piring jatuh.
Nyx tidak langsung berdiri. Piring jatuh bukan hal yang luar biasa. Tapi kemudian ada suara lain yang lebih susah diabaikan. Bukan tangisan, bukan teriakan. Lebih seperti suara seseorang yang sudah lama sekali menahan sesuatu dan tiba-tiba tidak bisa menahan lagi, semua keluar sekaligus dalam bentuk rintihan. Nyx segera berlari ke dapur.
Ibunya berdiri di tengah ruangan dengan cahaya yang memancar dari kepalanya. Bukan cahaya yang tenang dan teratur seperti yang biasa muncul saat Eleni menggunakannya dengan sengaja. Ini berbeda. Cahayanya bergerak terlalu cepat, terlalu banyak arah sekaligus, membentuk pola-pola yang tumpang tindih satu sama lain tanpa urutan yang jelas. Seperti proyektor yang rusak dan menampilkan semua slide nya sekaligus. Di lantai ada piring yang pecah. Di meja ada cangkir yang bergerak sendiri lalu, jatuh. Lampu di atas kepala berkedip tidak teratur.
Di pintu dapur yang terbuka ke arah lorong apartemen, ada tiga orang tetangga yang kebetulan lewat dan sekarang berdiri diam di sana. Dua perempuan dan satu pria tua. Ekspresi mereka berbeda-beda, tapi semua punya satu kesamaan yaitu mereka terlihat kesakitan. Bukan kesakitan fisik yang jelas, lebih seperti menerima terlalu banyak informasi dalam waktu yang terlalu singkat sampai otak tidak bisa memprosesnya dengan normal. Nyx masuk ke dapur, menutup pintu ke lorong, dan berjalan ke ibunya.
"Mama." Ia memegang bahu ibunya dari belakang. "Mama, aku di sini. Dengar suaraku."
Eleni tidak langsung merespons. Matanya terbuka tapi tidak fokus, melihat ke suatu titik yang tidak ajelas arahnya,"Mama."
Butuh empat menit. Nyx menghitung karena otaknya bekerja cepat, bahkan dalam situasi yang paling tidak nyaman sekalipun, otaknya mampu selalu mencatat, selalu mengukur. Empat menit untuk cahaya itu meredup. Empat menit untuk ibunya perlahan kembali ke dirinya sendiri, napasnya melambat, matanya mulai fokus lagi. Empat menit yang terasa sangat panjang.