Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #7

#7 Peta Kerusakan

Tiga hari setelah kelas pertama, Hermes mengumpulkan mereka di ruang yang berbeda dari sebelumnya. Ruang ini lebih besar. Tidak ada dinding yang memancarkan cahaya seperti di ruang resonansi. Tidak ada kursi atau meja. Yang ada hanya lantai luas dan di tengah-tengahnya sebuah proyeksi tiga dimensi yang mengambang setinggi dada orang dewasa. Bentuknya seperti bola besar yang tembus pandang, dan di dalamnya ada titik-titik cahaya yang tersebar tidak merata. Mereka sudah kenal tampilan seperti ini dari penjelasan Mbak Sari di hari pertama. Tapi versi ini jauh lebih detail.

"Ini peta Arkhana," kata Hermes. Ia berdiri di sisi proyeksi itu dan menunjuk ke titik-titik yang ada di dalamnya. "Delapan puluh tiga titik, delapan puluh tiga ruang resonansi. Masing-masing menyimpan satu tradisi mitologi."

Titik-titik yang menyala terlihat jelas, cahayanya stabil dan cukup terang. Tapi ada juga titik-titik yang gelapnya berbeda-beda. Beberapa gelap total. Beberapa redup hampir tidak kelihatan. Dan beberapa lagi ada di tengah-tengah, tidak mati tapi juga tidak bisa disebut hidup.

"Lima puluh enam yang masih menyala," lanjut Hermes. "Dua puluh tujuh yang sudah gelap. Mbak Sari sudah pernah infokan bukan?"

"Tapi ada yang lebih penting dari sekadar angkanya," kata Nyx. Ia sudah berdiri lebih dekat ke proyeksi dari yang lain, matanya bergerak cepat membaca pola sebaran titik-titik itu. HUDnya belum muncul secara penuh tapi ada garis-garis tipis cahaya yang mulai terbentuk di sekitar kepalanya, seperti otak yang sedang berpikir keras dan bocor sedikit ke luar. "Ini bukan kehilangan yang acak."

Hermes menatap Nyx. "Lanjutkan."

"Titik-titik yang gelap tidak tersebar merata." Nyx melangkah mengelilingi proyeksi itu perlahan, matanya terus memindai. "Yang gelap duluan adalah yang paling jauh dari titik-titik lain. Yang paling tidak punya tetangga. Yang paling terisolasi." Ia berhenti. "Ini bukan serangan dari semua arah. Ini pembersihan dari pinggiran ke tengah."

Ruangan diam sebentar.

"Benar," kata Hermes.

"Mitologi yang paling tidak punya koneksi ke tradisi lain yang lebih dikenal," kata Amara pelan. Ia tidak mendekat ke proyeksi seperti Nyx, tapi dari tempatnya berdiri ia memandangi pola itu dengan seksama. "Yang paling tidak punya akses untuk diketahui oleh semua orang."

"Karena itulah yang paling mudah dibuat tidak terlihat," kata Hermes. "Kalau Lethe mencoba menyembunyikan mitologi Yunani atau Norse, terlalu banyak jalur lain yang bisa membawa orang kembali ke sana. Terlalu banyak film, buku, game, referensi populer. Tapi mitologi Selknam dari ujung Amerika Selatan? Tradisi Ainu dari Hokkaido? Tidak ada yang akan mencari sesuatu yang tidak pernah mereka dengar namanya."

"Dan semakin lama tidak ada yang mencari," kata Raka, "semakin dalam terkuburnya. Sampai akhirnya bahkan orang yang mungkin tertarik pun tidak dapat menemukan akses ke sana."

"Tepat."

Signe yang dari tadi diam di sisi ruangan angkat bicara. "Berapa lama sampai mitologi yang kritis ini hilang?"

Hermes menunjuk ke tiga titik di proyeksi yang cahayanya hampir tidak ada. Redup sekali, seperti lilin yang tinggal beberapa menit sebelum padam. "Tiga ini yang paling darurat. Kalau tidak ada intervensi, mungkin dua bulan. Mungkin kurang."

"Dan kalau satu padam, yang lain ikut terpengaruh?" tanya Nyx.

"Ada kemungkinan seperti itu. Ruang-ruang resonansi saling terhubung. Kalau satu titik hilang, jalur energi yang melewatinya juga terganggu. Tidak otomatis membuat yang lain ikut padam, tapi melemahkan tetangganya."

Lihat selengkapnya