Hermes tidak main-main soal latihan intensif. Dua minggu itu bukan dua minggu yang santai. Jadwalnya padat dari pagi sampai malam. Waktu istirahat yang diberikan pun terasa seperti bagian dari latihan karena otak mereka tetap memproses apa yang baru saja dipelajari.
Pagi hari selalu dimulai dengan kalibrasi. Masing-masing dari mereka duduk sendiri selama tiga puluh menit dan merasakan frekuensi resonansinya sendiri tanpa melakukan apapun. Hermes bilang ini seperti pemanasan sebelum olahraga. Kalau langsung lari sprint tanpa pemanasan, ototnya bisa kaget. Sama dengan resonansi, kalau langsung dipakai penuh tanpa dikalibrasi dulu, hasilnya tidak stabil.
Siang hari latihan kelompok. Mereka belajar bekerja dengan frekuensi masing-masing dalam satu ruang tanpa saling mengganggu. Ini lebih susah dari yang dijelakan. Bayangkan lima orang di satu ruangan yang masing-masing memainkan instrumen berbeda tanpa partitur, dan tugasnya bukan memainkan nada yang sama tapi menemukan cara supaya suara mereka tidak saling tabrak. Butuh tiga hari sebelum mereka bisa ada di satu ruang resonansi aktif tanpa frekuensi mereka saling bentrok dan membuat energi di ruangan tidak stabil.
Sore hari Hermes memberi materi. Tentang tradisi-tradisi mitologi yang ruang resonansinya paling kritis. Bukan hanya nama dan ceritanya, tapi cara energi narasi dalam tradisi itu bekerja, apa yang membuatnya unik, dan apa yang perlu diperhatikan waktu masuk ke frekuensinya. Pelajaran ini tidak ada di buku manapun dan Hermes menyampaikannya dari ingatan langsung, dari ribuan tahun mengamati dan merasakan sendiri. Malam hari bebas. Tapi bebas di Arkhana rasanya berbeda dari bebas di dunia luar.
Di hari kelima latihan, Raka menyadari sesuatu yang mengganggunya. Ia sedang duduk di sesi kalibrasi pagi, mencoba merasakan frekuensinya sendiri seperti yang sudah ia latih empat hari terakhir. Biasanya ia bisa merasakan semua frekuensi di sekitarnya sekaligus, frekuensi empat orang lain yang juga sedang kalibrasi di ruang yang sama, frekuensi dari beberapa ruang resonansi aktif di sekitar koridor. Semua terasa dekat dan familiar.
Tapi pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Ia coba mengingat cara ibunya menelepon. Bukan nomor teleponnya, bukan suaranya secara umum. Lebih spesifik dari itu, cara ibunya selalu memulai percakapan telepon dengan kalimat yang sama setiap kali. Kalimat yang sudah jadi semacam tanda bahwa ini ibu yang menelepon bahkan sebelum Raka lihat nama di layar ponselnya. Kalimat itu tidak muncul. Ia tahu ibunya punya kalimat pembuka yang khas. Ia tahu itu dengan yakin. Tapi apa kalimatnya, bagaimana tepatnya bunyinya, tidak ada. Seperti mencari file di komputer yang ia yakin sudah disimpan tapi tidak bisa ditemukan di folder manapun.
Raka membuka mata dan langsung mengambil buku catatannya dari saku celananya. Buku catatan itu sudah mulai penuh dalam lima hari terakhir. Ia isi setiap malam sebelum tidur, menambahkan hal-hal baru yang ia ingat tentang dirinya sendiri sebelum sempat hilang. Nama-nama, momen-momen, kebiasaan, cara ia berpikir, hal-hal kecil yang membentuk siapa ia sehari-hari.
Ia buka ke halaman tentang ibunya. Di sana sudah ada beberapa baris tulisannya sendiri: nama ibu, pekerjaannya, cara rambutnya selalu dikuncir kalau sedang serius mengerjakan sesuatu, kebiasaannya memasak terlalu banyak nasi karena takut kurang. Tapi tidak ada yang soal kalimat pembuka telepon itu. Ia tidak menulisnya karena lima hari lalu waktu ia mulai buku ini, kalimat itu masih ada dengan jelas di ingatannya. Tidak terpikirkan untuk dituliskan karena rasanya terlalu solid untuk hilang. Ternyata tidak.
Raka duduk dengan buku catatan di tangannya dan merasakan sesuatu yang tidak bisa ia namakan dengan tepat. Bukan panik, karena panik tidak berguna dan ia tahu itu. Bukan sedih, karena itu juga tidak menyelesaikan apapun. Lebih seperti pengingat yang datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Pengingat bahwa ini nyata, bahwa harganya nyata, dan bahwa buku catatan ini bukan paranoia berlebihan tapi memang perlu.
Ia tulis di halaman baru: Cara ibu memulai percakapan telepon. Ada kalimat khasnya. Belum bisa diingat. Perlu ditanyakan langsung. Lalu di bawahnya: Jangan tunda. Malam itu ia menghubungi ibunya dari kamar komunikasi. Ibunya mengangkat setelah dering kedua dengan nada yang setengah khawatir setengah lega karena sudah beberapa hari tidak ada kabar. "Gimana, Le? Baik-baik saja kan?"
Gimana, Le. Itu dia.
Raka menutup matanya sebentar. Dua kata itu langsung membuka sesuatu yang tadi pagi terasa seperti pintu terkunci. Bukan hanya kalimatnya yang kembali, tapi juga cara ibunya mengatakannya, nada suaranya, kecepatan bicaranya, semuanya sekaligus.